The Diary Game | 8 September 2023 | Seharian di Oma Pulau Haruku
••• TENTANG GIATKU •••
Setengah delapan pagi aku sudah bangun dan segera ke kamar mandi. Karena alat mandi lupa dibawa, terpaksa harus beli sikat gigi baru dan sabun mandi baru. Pagi ini aku dan istri bersiap dijemput untuk menuju Negeri Oma di Pulau Haruku. Dari Kota Ambon kami lebih dulu harus ke pelabuhan penyeberangan di Tulehu, dengan jarak tempuh kurang dari satu jam. Akhirnya, sekitar pukul 8.30 WIT kami sudah tiba di pelabuhan, namun kami harus menunggu setengah jam lagi karena speedboat yang akan kami tumpangi sedang menuju ke pelabuhan.
Sekitar jam 9.02 WIT kami dipersilahkan naik. Ada sekitar delapan orang yang berada speedboat yang ukurannya kecil saja, kurasa tidak lebih dari 1.5 x 3 meter. Tak berselang lama, speedboat yang kami tumpangi mulai meninggalkan pelabuhan. Di pelabuhan tentunya tidak hanya kami yang memakai jasa penyeberangan laut ini, satu persatu hilir mudik speedboat meninggalkan pelabuhan dan menuju ke berbagai negeri kepulauan di sekitar Ambon.
Sekitar 45 menit perjalanan laut, kami pun tiba di pelabuhan. Sebelumnya dalam perjalanan kami menyaksikan sisi menarik dari setiap jengkal pinggir pantai yang umumnya penuh karang tajam. Setiba di pelabuhan kami pun dijemput saudara istriku. Setiap kami dibawa dengan ojek lokal. Tak sampai setengah jam kami pun sudah tiba di rumah yang dituju. Kami disambut hangat dengan teh dan air putih saja. Sebenarnya aku sangat ingin kopi, tapi apalah daya aku tidak berani bicara, dan juga takut mengganggu tuan rumah.
Kecuali aku, semua mereka sibuk dalam obrolan tentang silsilah keluarga yang saat ini sudah hidup terpencar-pencar, umumnya di Belanda. Sedangkan aku hanya mendengar saja sembari menunggu jadwal rapat zoom dengan teman. Sebagian lain, khususnya para ibu-ibu, juga sibuk menyiapkan makan siang. Berselang satu jam dan matahari sudah mulai condong ke barat, semua menu makan siang pun sudah siap di atas meja makan dadakan di teras rumah.
Beberapa arsitektur rumah di negeri yang dihuni oleh mayoritas ummat Kristen Protestan ini masih era 70-an. Hanya memakai pasak dan kapur saja sebagai pengganti semen untuk merekatkan karang yang diambil di sekitar pulau
Usai makan siang bersama dengan menu papeda dan kuah kuning, ikan bakar, plus urap khas Ambon, mereka melanjutkan obrolan, sedangkan aku memilih untuk rebahan saja di dalam rumah. Selain cuaca agak panas di luar, juga badan ku agak terasa lelah. Belum lelap benar, istri membangunkan aku dan mengajak jalan ke beberapa lokasi yang dianggap menarik. Setengah mengantuk aku bangun dan memakai sepatu, dan kami kembali dibawa oleh ojek lokal yang tadi mengantar kami.
Awal sekali kami diajak ke patung liberty Negeri Oma yang sengaja dibangun di pinggir pantai. Tak jauh dari sisinya pun tertulis "I Love Oma". Saat ini lokasi ini sudah dikenal sebagai salah satu destinasi di Negeri Oma. Walau hari terasa panas, namun setiap kami tidak surut untuk mengabadikan beberapa momentum sebagai pengingat. Tak jauh dari sini pun tampak dua "nona" sedang mencari bia diantara karang tajam. Ini lazim dilakukan saat air laut sedang surut.
Selepas dari sini, kami kembali dibawa ke Air Asol. Ini destinasi pemandian air tawar yang sudah ada sejak lama. Awalnya kolam pemandian dibangun dengan memanfaatkan batu yang disusun rapi. Namun sekitar tahun 2017 areal kolam pemandian yang awalnya susunan batu diubah dengan keramik. Lokasi ini pula yang sampai saat ini masih menjadi lokasi pemandian warga desa yang bermukim disana. Sumber air berasal dari mata air yang keluar dari bawah karang.
Hari sudah lewat jam empat sore, namun masih ada satu tujuan lagi, yaitu ke air panas. Dan lokasi ini sejalan dengan arah kembali ke pelabuhan. Setelah berpamitan, kami kembali diantar oleh ojek, namun kami sempatkan untuk singgah di wisata air panas. Menuju ke lokasi, kami harus berjalan kaki selama 10 menit diantara kebun cengkeh dan pohon sagu jenis Lutu (pohon sagu berduri). Sebentar saja kami disana, dan segera menuju pelabuhan untuk kembali ke daratan Ambon.
Kami kembali diantar oleh speedboat yang sama sewaktu datang. Setiap orang dikenakan biaya sebesar 35 ribu saja untuk sekali menyeberang. Dan armada laut ini hanya beroperasi hingga lepas siang. Beruntung, armada yang membawa kami ke Haruku masih terbilang keluarga, sehingga dia pun siap untuk membawa kami kembali walau di luar jam kerjanya. Dangke banyak Haruku. ***
@pieasant_belajar sambil berjalan










