Strategi Marketing Rumah Sakit Melalui Media Sosial |
Belum lama ini, saya terlibat diskusi mendalam dengan mantan kawan kuliah. Diskusi kami tentang strategi Jeumpa Hospital di Bireuen, Aceh, dalam mempromosikan bisnis kesehatan melalui media media sosial.
Menurut kami, Jeumpa Hospital harus meningkatkan kualitas layanan berbasis Teori Harapan – Nilai. Secara strategis, fokus pada penyediaan layanan medis berkualitas tinggi yang memenuhi harapan pasien seperti dokter spesialis berpengalaman, fasilitas lengkap dan modern, serta antrean yang singkat.
Untuk itu, dibutuhkan investasi dalam teknologi seperti MRI, CT Scan, serta perangkat canggih lainnya untuk meningkatkan kompetensi. Ketika sesuai harapan, pasien akan merekomendasikan rumah sakit tersebut kepada orang terdekat. Bahkan ada pasien yang mempromosikan rumah sakit di akun media sosial mereka.
Informasi lengkap
Kami menganggap pihak Jeumpa Hospital harus menyediakan informasi lengkap tentang fasilitas rumah sakit, baik di portal maupun di akun IG dan Facebook. Fasilitas akun media sosial harus dimanfaatkan untuk menjembatani hubungan dengan konsumen. Konsumen, misalnya, mendapatkan informasi keberadaan dokter tertentu sehingga bisa mengambil keputusan yang cepat dan terukur.
Dalam kasus kesehatan, biasanya ada kondisi darurat yang membuat keputusan tidak diambil berdasarkan pertimbangan rasional.
Selain lengkap, informasi di akun IG dan Facebook harus selalu diperbaharui dan terkini layaknya sebuah media massa daring. Banyak rumah sakit tidak memperbaharui informasi di akun media sosial sehingga tidak dapat dijadikan rujukan. Pembahruan informasi di akun media sosial dapat dijadikan rujukan bagi pasien dalam pengambilan keputusan yang sesuai dengan rencana dan harapan mereka.
Komunikatif dan Responsif
Keberadaan akun media sosial bukanlah pelengkap. Jadi, pengelola rumah sakit harus menggunakan akun tersebut secara komunikatif dan responsif. Ini artinya, harus ada pemeriksanaan berkala terhadap pertanyaan dan keluhan yang disampaikan konsumen. Pengabaian dan penundaan memberikan respons akan melahirkan kekecewaan dan membuat reputasi rumah sakit menjadi turun.
Penggunaan kecerdasan buatan dalam layanan di platform media sosial, jangan sampai menjadi masalah baru karena ada konsumen yang belum memahaminya.
Membangun reputasi dan kepercayaan
Promosi melalu IG dan Facebook dilakukan untuk meningkatkan reputasi rumah sakit, misalnya dengan adanya testimoni dari pasien, pemberian penghargaan, akreditasi internasional, serta jaringan dengan lembaga tertentu yang relevan dan memiliki reputasi baik.
Implementasi dari sikap ini dalam jangka panjang akan meningkatkan kepercayaan konsumen. Ketika ada kesalahan atau kekcewaan dari konsumen, pihak rumah sakit jangan segan-segan meminta maaf dan menjelaskan persoalannya secara terbuka. Sikap ini akan lebih dihargai konsumen daripada mengeluarkan bantahan atau menyalahkan pihak lain, apalagi konsumen.
Kesimpulan
Media sosial seperti Facebook dan Instagram menjadi sarana promosi gratis yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis dan sosial. Keberadaannya bukan semata sebagai pelengkap sehingga sering diabaikan. Manajemen Jeumpa Hospital bisa mengoptimalkan keberadaan akun media sosial untuk memberikan informasi dan pelayanan prima kepada konsumen.
Akun media sosial merupakan fasilitas gratis dan strategis yang efektif untuk mempengaruhi perilaku konsumen dalam memilih rumah sakit, karena mampu menjembatani faktor internal seperti kebutuhan pribadi, persepsi, motivasi, pengalaman, dan kondisi keuangan. Selain itu, juga mampu menjembatani faktor eksternal seperti rekomendasi sosial, reputasi, aksesibilitas, dan norma budaya.
Keberhasilan strategi ini bergantung kepada konsistensi, transparansi, dan kemampuan memperbaharui konten sesuai kebutuhan konsumen dengan tetap memperhatikan kepatuhan regulasi.
Dengan pengelolaan yang efektif, efisien, serta profesional, akuan media sosial dapat dijadikan alat strategis untuk meningkatkan daya tarik, loyalitas, dan jumlah pasien rumah sakit.[]




