SLC-S29/W4-“Thinking and Ideas!| Rethinking the Normal!”
Salam teman-teman semuanya di manapun anda berada semoga dalam keadaan baik-baik saja. Pada kesempatan ini saya ingin mengikuti satu tantangan Steemit dengan tema SLC-S29/W4-“Thinking and Ideas!| Rethinking the Normal!”.Setelah membaca panduan dan beberapa postingan dari partisipasi teman-teman steemian yang lain saya mulai tertarik dan bersemangat untuk mengikutinya. Saya mengucapkan terimakasih kepada penyelenggara tantangan yang indah ini. Selanjutnya saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini :

Pixabay dan edit di PixelLab
Sebutkan satu praktik, kepercayaan, atau sistem yang diterima orang sebagai hal normal tetapi seharusnya dipertanyakan.
Sekolah menilai kecerdasan hanya lewat angka dan ujian adalah salah satu kepercayaan dan praktek atau sistem yang telah diterima banyak orang sebagai hal normal tetapi seharusnya dipertanyakan. Sistem pendidikan yang menyamakan kecerdasan dengan nilai angka dan hasil ujian ini telah terjadi di dalam lingkungan sekitar dan dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang beranggapan bahwa nilai tinggi, maka berarti anak tersebut pintar, begitu juga sebaliknya jika seorang anak memiliki nilai yang rendah maka seorang anak tersebut seketika dianggap kurang mampu atau jauh dari kata pintar.
Keberhasilan belajar seorang anak diukur hampir sepenuhnya dari standar hasil ujian, rapor dan ranking. Hal ini telah terjadi dari masa ke masa dan jarang diperdebatkan dan sedikit yang mempertanyakan. Belajar yang konsisten dan rajin adalah bagian dari perjuangan untuk mendapatkan nilai yang tinggi dan hasil ujian yang memuaskan atau ranking teratas, hal ini juga tersorot sebagai bukti dan alasan yang membuat seorang anak pintar akan pengetahuan. Ada juga seorang anak yang rajin belajar dan konsisten serta aktif di sekolah tetapi tidak mendapat nilai yang tinggi atau ranking. Sehingga banyak orang yang beranggapan seorang anak yang seperti ini tidak pintar atau kurang mampu untuk menggapai nilai yang tinggi.
Padahal setiap anak memiliki keahlian dan kekurangannya masing-masing, ada beberapa anak yang tidak memiliki keahlian tentang teori-teori yang diajarkan di sekolah. Namun memiliki keahlian di dunia lapangan. Seperti sebuah cerita yang pernah aku dengar tentang seorang murid yang dipandang rendah karena sekolah setiap ulangan mendapatkan nilai rendah, tangannya terdapat kotoran bekas oli dan jauh dari kata rapi, dia tidak pintar tentang teori-teori yang diberikan oleh gurunya di sekolah, setiap ulangan nilainya selalu rendah. Tetapi tangannya jauh lebih kreatif di bidang mekanik dibandingkan dengan anak-anak yang lain, setiap hari ia bekerja di bengkel sebagai montir mobil dan bagian kabel-kabelan. Sehingga suatu hari ketika ada sebuah acara besar pentas seni dan acara perpisahan di sekolahnya, saat suasana sedang ramai dan meriak, orang-orang sedang menikmati acara yang sedang berlangsung. Tiba-tiba listrik padam, genset sekolah batuk-batuk lalu mati. Suasana hening, para panitia pada panik dan guru-guru pucat termasuk kepala sekolah. Teknisi sekolah cuti karena sakit. Suasana seketika tegang hingga acara hampir bubar dan malu besar jika gagal. Di tengah kepanikan guru-guru murid tersebut lari kebelakang panggung dengan seragam batiknya. Murid tersebut jongkok di bawah genset tua tersebut, tanpa konsep apapun, tanpa rumus fisika, hanya tangannya yang kotor itu membuka klep, memutar baut dengan cepat serta menyambung beberapa kabel yang putus. Hanya mulutnya yang komat kamit menganalisis mesin. 5 menit yang terasa 1 jam lalu murid tersebut berdiri dengan keringat yang bercucuran, dia tarik genset sekuat tenaga, seketika listrik nyala, lampu-lampu nyala, dan sound hidup kemabli. Saat semuanya nyala kembali satu lapangan tepuk tangan kepada murid tersebut, dan pada hari itu murid tersebut dapat nilai 1000 di kehidupan nyata.
Menurut Anda, mengapa orang jarang menantangnya?
Jarang orang memperdebatkan karena sistem ini sudah berlangsung sejak lama dan sudah dianggap tradisi yang tidak perlu diperdebatkan. Hampir semua orang sudah terbiasa sehingga hal ini juga menjadi pedoman sebagai alat ukur sekaligus perbandingan di kalangan murid-murid, terutama adalah para wali murid atau orang tua serta guru yang terbiasa karena mudah diukur dan dibandingkan.
Begitu juga dengan tekanan sosial, orang-orang tidak lagi memperdebatkan dan menentang karena takut dikira tidak realistis atau dianggap melawan sistem. Banyak orang juga tidak lagi mempermasalahkan tentang alternatif penilaian karena dianggap rumit terlalu memakan waktu dan terlihat subjektif.
Pada umumnya orang-orang yang telah sukses secara akademik juga merasakan sistem ini menguntungkan mereka. Orang-orang jarang sekali mempermasalahkan apalagi menentang karena ada banyak tekanan yang begitu rumit untuk melawan dalam perdebatan yang pada ujungnya juga banyak pihak yang mengira melawan sistem atau tidak realistis.
Sistem yang telah dianggap sebagai tradisi dan terlewati dari masa ke masa ini juga sudah terbiasa di dalam lingkungan pendidikan, sehingga dalam kalangan pelajar sistem ini juga telah diterima sebagai hal yang normal karena keterbiasaan dan kerumitan jika diperdebatkan.
Apa yang bisa diperbaiki jika cara "normal" ini diubah?
Tekanan mental dan potensi siswa beragam bisa lebih dihargai
Para pelajar akan lebih dihargai dengan sama rata tentang kreatif, sosial dan emosional. Hal ini juga membantu mereka lebih bersemangat dalam menjalani pendidikan tanpa tekanan mental, rasa gagal yang berkurang secara signifikan dan bisa membuat para pelajar terhindar stres. Tanpa perbandingan mereka akan terlihat lebih dihargai atas potensi yang dimiliki secara sama rata tanpa memilih kasih dan tanpa dibanding-bandingkan antara pelajar dengan pelajar yang lain.Proses belajar akan lebih bermakna
Pendidikan mereka menjadi lebih bermakna, para pelajar akan saling lebih menghargai satu sama lain dan bukan sekedar mengejar nilai. Jadi tidak ada yang merasa tertinggal dan tidak ada yang putus asa dalam perkembangan setiap individu. Guru-guru juga dapat fokus pada perkembangan individu, tidak semata-mata hanya target angka dan nilai beberapa pihak yang lebih tampil.Siswa belajar memahami kekuatan dirinya
Kemudian para siswa akan terarah fokus belajar tentang memahami kekuatan di dalam dirinya sendiri, bukan sekedar membandingkan orang lain dengan kemampuan yang dimiliki oleh dirinya sendiri. Sehingga Perlombaan yang sesungguhnya tidak berlomba dengan kemampuan-kemampuan orang lain tetapi berlomba dengan kemampuan diri sendiri hari demi hari untuk meningkatkan potensi dan pengetahuan lebih tinggi dari setiap hari yang mereka lewati.
Apa yang mungkin hilang jika itu lenyap sepenuhnya?
Penilaian yang seragam dan cepat
Jika sistem ini lenyap sepenuhnya, hal yang paling utama hilang adalah standar penilaian yang seragam dan cepat karena dengan adanya sistem ini penilaian dilakukan secara adil berdasarkan kemampuan-kemampuan pelajar dan ujian-ujian yang telah diberikan sehingga mereka menerima hasil dari kemampuan mereka sendiri. Setiap guru dapat mengukur muridnya dengan cepat atas kemampuan yang mereka miliki dari hasil ujian dan nilai tinggi atau ranking yang mereka capai.Kemudahan dalam menyaring siswa secara massal
Guru-guru dan orang tua Kehilangan cara yang mudah dalam menyaring siswa secara massal Karena tanpa sistem ini akan lebih sulit dalam mengukur kemampuan-kemampuan para pelajar yang begitu banyak. Selanjutnya juga akan kehilangan sistem seleksi yang praktis untuk skala besar pada saat ada peristiwa-peristiwa atau perlombaan antar sekolah.Rasa kompetisi akademik dan kejelasan administratif
Keinginan berkompetisi akademik dan jiwa partisipasi yang bisa memotivasi sebagian siswa atau pelajar juga akan ikut hilang jika sistem ini telah lenyap sepenuhnya. Bertambah lagi hilangnya kejelasan tentang administratif didalam lingkungan pendidikan formal.
Demikianlah partisipasi saya untuk kali ini, terimakasih kepada semuanya yang sudah bersinggah di postingan saya. Saya mengundang tiga teman saya untuk bergabung dalam tantangan ini
@uzma4882
@paholags
@abdul-rakib

¡Holaaa amigo!🤗
En este problema, lamentablemente hay mucho comodismo y costumbre. Por ello, atrevernos a desafiar esa errónea filosofía de que alguien con calificaciones altas es súper inteligente, no es opción, además de que ser la burla, agudiza más la cosa.
Sin duda, prefiero alzar mi voz en este tema igual que tú, porque el conocimiento no se basa en números, sino en hechos.
Te deseo mucho éxito en la dinámica... Un fuerte abrazo💚
0.00 SBD,
4.00 STEEM,
4.00 SP
Congratulations, your comment has been upvoted by the Steemcurator08 team. Keep up the valuable comments.
Curated By: mahadisalim
¡Muchas gracias por el apoyo!🤗💚
Thank you for being present on my post.
https://x.com/SaifulMaul41608/status/2018794972905111607?s=20
Thank you
Hi @cymolan, welcome to thinking and ideas week 4
Yes, once your test score is low or you have low grades, you are judged already. Intelligence has overtime being judged by that and people are not so concerned about it because even when you were first and later became last, they believe you are longer intellegent,forgetting that people are bound to change
Thank you very much