SLC-S29/W5-“Thinking and Ideas!| Ideas That Failed (and Why)!”

Uang tidak datang atas apa yang anda rencanakan tapi dari apa yang dihasilkan, artinya 100% ide tanpa eksekusi maka hasilnya "0". Kegagalan ide (konseptual) biasanya akan mempengaruhi kegagalan teknis (eksekusi). Setiap orang tentu memiliki cara tersendiri untuk memproses kesalahan dan resiko sebagai kesempatan tertunda supaya tidak mogok total, kecewa dan memaki diri sendiri! ...Sama halnya dengan narasi ideasi cerdas dari @ninapenda dalam tantangan Minggu ini SLC-S29/W5-“Thinking and Ideas!| Ideas That Failed (and Why)!”, yakni "Kegagalan seringkali lebih mendidik daripada kesuksesan".
💡Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP)
Kilasan singkat; PIP dan KIP adalah salah satu ide besar masa presiden Jokowi dan dipublikasi secara resmi pada November 2014 lalu, dan masing eksis hingga saat ini sebagai program prioritas untuk perluasan akses pendidikan bagi keluarga miskin.
Dalam konteks pendidikan banyak "keputusan / kebijakan" dianggap sukses tapi kenyataannya gagal secara substansi; salah satunya adalah kegagalan meningkatkan Mutu pendidikan. Saya tidak punya dasar tertulis untuk menyudutkan pemilik konsep "Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP)". Sejujurnya! saya malah menyambut baik program Indonesia Pintar sebagai akses mendapatkan pendidikan bagi jutaan siswa kurang mampu dengan biaya pendidikan berbasis KIP, namun Bukan sebagai eksistensi atau jaminan terhadap peningkatan kualitas pendidikan, melainkan sebagai antisipasi hambatan ekonomi (aksesibilitas) bagi siswa-siswa putus sekolah.
Output dari sebuah kebijakan bermuatan pendidikan pada dasarnya fokus untuk peningkatan kualitas intelektual bukan pada formalitas; artinya Program Indonesia Pintar tidak hanya memobilitasi akses siswa untuk mendapatkan pendidikan dan sarana belajar, seperti biaya pendidikan dan biaya membeli alat tulis, tapi hak dasar mereka untuk mendapatkan pendidikan berkualitas dengan penyediaan sumberdaya (tenaga pengajar) yang andal dan kompeten, dengan demikian pelajar memiliki keterampilan dan kompetensi teknis untuk nilai promosi dan daya saing global. image pixabay
Bukan menurutku, tapi bukti riset World Top 20 Project Education dan Word Population Review (tahun 2026) dimana kualitas pendidikan Indonesia masih sama seperti tahun 2023 yakni berada di peringkat 67 dari 203 negara yang di survey.
💡Tujuan awal dibaliknya dan kenapa gagal
Tujuan awal dari PIP-KIP sangat tepat dan pantas mendapat sambutan luar biasa dari seluruh elemen masyarakat, seperti narasi di atas, bahwa program ini sebagai prioritas utama pemerintah untuk kemajuan pendidikan nasional dengan memperluas akses pendidikan dan meminimalisir siswa-siswa putus sekolah dari kelompok masyarakat miskin dan rentan.
Sekilas tampak tidak gagal secara konsep dan teknis! Tapi gagal memaknai tujuan dasar PIP seperti kalimat "menjamin kelangsungan", sehingga PIP hanya berfokus pada aksesibilitas; mendapatkan pendidikan dan menghindari putus sekolah melalui KIP (penerimaan dana bantuan), BUKAN kualitas; yakni menjamin kesejahteraan siswa untuk mendapatkan pendidikan layak dan berkualitas dengan standar tenaga pengajar berkualifikasi tinggi. Dan, saya yakin! Jika argumen ini disuarakan akan memunculkan sanggahan dan perdebatan dari berbagai pandangan.

💡Apa yang dilakukan jika diberi kesempatan lain
Dengan menyadari bahwa kegagalan bertranformasi disebabkan skema pendidikan tidak disentuh oleh inovasi pola pikir cerdas, maka perlu kebijakan mengubah pola dari sekedar "mentransfer pengetahuan" ke tingkat pengembangan potensi. Kemudian menghindari kemubuziran fasilitas berteknologi canggih karena hanya dijadikan sebagai alat baru untuk menjalankan cara lama,
Atas pemikiran tersebut saya sangat mempertimbangkan beberapa inovasi substantif untuk pengembangan PIP-KIP ke depan, yaitu:
- Mengubah durasi belajar (jam sekolah) yang panjang jika kualitas pendidikan (output) sangat rendah.
- Mengoptimalkan sarana dan prasarana belajar dengan pola pikir baru untuk pengembangan kompetensi siswa, dan..
- Mengoptimalkan kualitas tenaga pengajar (guru) dapat menjamin hak dasar siswa untuk mendapatkan akses pendidikan berkualitas.
Sekian partisipasi saya, Terima kasih banyak atas kunjungan dan mungkin anda membacanya..
salam,
@ridwant
Hi @ridwant, welcome to thinking and ideas week 5
It all points to the reason why education keeps failing. The quality of education in this era is a cry to many, well not minding the future of the leaders of tomorrow, the education level has been but in jeopardy.
Thank you @ninapenda for review anda verification.. 🙏
A wonderful thought, which I would also apply to Germany. Education is the be-all and end-all for a bright future – and what we are currently doing with our children is negligent, if not criminal. We try and test and reform, and in the end, the level of education is significantly worse than that of previous generations... But hey – we have ten years of compulsory schooling and everyone is supposedly treated equally... Welcome to the abyss!
That's right, even though we live in an era with abundant information, education in the past was actually superior. Perhaps in the past, various limitations forced us to focus on learning and creativity. Second: Discipline based on awareness, not discipline based on rules...
Hopefully, this is true... 😂
... thanks a lot @weisser-rabe
Congratulations, your comment has been upvoted by the Steemcurator08 team. Keep up the valuable comments.
Curated By: mahadisalim
https://x.com/i/status/2021625277605122145