SC-S29/W6 – Nostalgia Of The Little Me: A Childhood Story That Taught You Something

Sepenggal cerita masa kecil saat usiaku beranjak 13 tahun. Sebelumnya aku mohon maaf karena akses ingatanku ke masalalu hanya mampu merekam kisah bermuatan emosi yang kuat, saat itu usiaku memasuki fase peralihan dari kanak-kanak menuju remaja, ya! aku baru saja meninggalkan bangku kelas 6 sekolah dasar menuju SMP. Kisah ini sangat sulit terhapus meskipun 33 tahun adalah waktu yang usang. Hati kecilku berharap "seharusnya" kalimat singkat dibawah tidak pernah aku dengar meskipun pada akhirnya tersimpan rapi sebagai pesan moral paling berharga dalam hidupku.
Ibuku berkata: Nak! akankah ibu masih bersamamu saat kamu sukses nanti? atau kamu akan bahagia dengan orang yang tidak pernah ikut berjuang dan merasakan susahmu seperti saat bersamaku?
Aku tidak tahu persis apa yang terjadi saat itu, Penggalan kalimat kecil dari almarhum ibuku tidak menyisakan awal mula dalam ingatanku dari mana kisah ini dimulai hingga membentuk catatan memori yang mungkin akan terhapus jika aku amnesia. Setiap awal bulan aku selalu mengingat buah apel merah kemudian hanya bisa menangis seraya berharap ia masih ada bersamaku.
Ingatanku hanya tertuju pada perjalanan hidup kami yang sulit oleh keadaan ekonomi yang rentan. Ibu dan ayahku membiarkan aku menentukan keinginanku untuk membuka akses masa depan. Meskipun tidak tampak nyata mereka juga terus berusaha mendukung harapanku untuk mendapatkan pendidikan yang layak di sekolah menengah pertama seraya bekerja menjadi pedagang kaki lima.
Ya, Kemarin mungkin aku tidak lebih baik dari hari ini, namun "kalimat itu" membuatku putus asa dan penyesalan mendalam seakan-akan ada perjanjian emosional yang kami sepakati dan tidak dapat aku penuhi karena ia pergi setelah kehidupanku sedikit membaik.

Emosi yang saya rasakan selama dan setelah kejadian tersebut, aku merasa telah kehilangan identitas sebagai anak, bukan menyalahkan takdir ketika beliau harus pergi, tapi setiap anak memiliki hubungan emosional erat dengan ibunya. Dan, makna dari ucapan terakhir ibuku terlalu berat. Setiap renungan aku hanya didatangi perasaan bersalah, merasa terlambat menuai sukses hingga pemberi sejuta kasing sayang itu telah tiada disaat aku mulai mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Tepatkah jika aku memaknai kalimat itu sebagai bentuk pesan moral untuk menghargai orang-orang terdekatku saat ini. Mungkin, orang lain yang dimaksudkan oleh ibuku adalah istriku. Entahlah.. aku belum bisa menterjemahkannya dengan baik.!
Pelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman ini. Saat ini aku meyakini kalimat itu adalah nasehat berharga sekaligus menjadi pengalamanku secara tidak langsung. Setidaknya akan menuntunku untuk mempertahankan keutuhan keluargaku, menjadi suami yang dapat menghormati dan menghargai sosok perempuan yang ikut berjuang bersamaku saat ini dan kedepan.
Ya, aku sadar bahwa orang-orang yang meninggal kemarin sebenarnya memiliki rencana untuk hari ini, mungkin itu untuk dirinya atau untuk kebahagiaan anak-anak dan keluarganya, sedangkan yang masih hidup hari ini justru sibuk memikirkan hari esok yang belum tentu ada, bahkan melupakan jasa dan kasih sayang orang-orang yang selalu berjuang untuknya tanpa berharap balasan apapun.

Bagaimana pelajaran tersebut mempengaruhi kehidupanku hingga saat ini.
Semua perkataan dan pesan orang tua akan terasa penting dan dapat dimaknai dengan baik ketika seorang anak telah berusia dewasa. Mungkin tidak semua dijangkau oleh ingatan kecuali bermuatan emosi yang kuat, atau penyampaian pesan melalui tindakan seperti membentak, mencubit bahkan memukul.
Sebahagian kita merindukan semua peristiwa tersebut ketika mereka (orang tua kita) telah tiada, dan kita menyadari bahwa "ucapan dan tindakan" secara berulang adalah: motivasi dan pembentukan mental untuk membangun kepercayaan diri, memiliki tanggungjawab untuk mempertahankan keutuhan keluarga kita, menghargai istri sebagai orang yang ikut berjuang kesuksesanku. Kedua: Almarhum ibuku juga pernah berpesan, progres hidupmu tidak perlu dibalut dengan prestise karena hidup ini bukan kontrak, kita tidak mengetahui sampai dimana akhirnya.
Sekian partisipasi saya untuk SC-S29/W6 – Nostalgia Of The Little Me: A Childhood Story That Taught You Something yang diselenggarakan oleh tuan @sohanurrahman , Terima kasih banyak atas kunjungan dan sangat berharap rekan-rekan memiliki waktu luang membacanya.. 🙏
salam,
@ridwant
¡Holaaa amigo!🤗
Mi papá siempre me dijo:
Hoy día, es que comprendo el impacto de esas palabras, porque a pesar de que aún no tengo hijos, ya tengo la edad adulta que me permite entender que ellos son la guía más certera que tendremos en la vida.
Te deseo mucho éxito en la dinámica... Un fuerte abrazo💚
By remembering them, we'll be motivated and even stop doing things we shouldn't do out of respect for the efforts of those who have worked so hard to raise us to be the best we can be.
Thank you so much, @paholags for taking the time.
https://x.com/i/status/2024887229848698993
Thank you for support sir. @ripon0630 🙏
Greetings,
Thank you so much for participating in the contest.