Putih Yang Wangi Tiap Pagi
Tiap pagi, sebelum matahari terik, ada ritual kecilku: nyamperin pohon melati di depan rumah. Dan pagi ini dia nggak nyia-nyiain aku.
Kuntum-kuntum yang kemarin masih kuncup, sekarang udah mekar sempurna. Putih bersih, kelopaknya rapi ngelingkar. Di tengahnya ada titik kuning kecil kayak matahari mini.
Tapi yang paling bikin jatuh cinta bukan warnanya. Wanginya.
Aku deketin muka, tarik napas. Masya Allah. Harumnya lembut, nggak nyegrak. Masuk ke hidung, terus turun ke dada. Rasanya semua penat semalam langsung luntur.
Angin pagi lewat, bawa wangi melati muter-muter di halaman. Sampai kucing hitam putih tadi juga ikutan duduk di bawah pohonnya. Kayak dia juga tau, ini momen mahal.
Melati ngajarin aku sesuatu. Nggak perlu teriak biar diperhatiin. Nggak perlu warna mencolok biar disayang. Cukup jadi diri sendiri, mekar di waktu yang tepat, kasih wangi terbaik. Nanti orang bakal datang sendiri.
Kadang hidup kita keburu pengen jadi mawar. Pengen keliatan, pengen dipuji. Padahal jadi melati juga nggak kalah mulia. Putih, suci, wangi, dan bikin orang betah.
Pagi ini aku petik tiga kuntum. Satu aku taruh di kamar, satu di sajadah, satu lagi aku selipin di telinga. Biar harumnya nemenin seharian.
Terima kasih ya, Melati. Sudah mekar, sudah wangi, sudah bikin pagi jadi indah.
Buat teman Wherein, Steemit yang rumahnya ada melati, jangan lupa disapa tiap pagi. Dia akan dengar.
Salam kompak selalu.
By @midiagam





