Inspirasi Sofyan Tan dan Kisah Menteri Pendidikan yang Kini jadi Terdakwa

in Be Happy6 days ago

“If you are born poor, it's not your mistake but, if you die poor, it's your mistake.”

Sofyan Tan_01.jpg
Anggota DPR-RI dari PDI Perjuangan, Sofyan Tan, ketika menjadi narasumber di Kampus Universitas Malikussaleh, 24 Februari 2022 silam.


Anggota DPR-RI dari PDI Perjuangan, Softan Tan, memberikan banyak inspirasi bagi 1.000 lebih mahasiswa penerima bea siswa KIP Kuliah di Aula Gedung ACC Kampus Uteunkot Universitas Malikussaleh, Kamis, 24 Februari 2022 silam. Saya diminta menjadi moderator kegiatan tersebut dan dengan girang hati menyanggupinya. Pertama, saya sudah kenal nama Sofyan Tan sebagai pemimpin umum di Hr Analisa (Medan). Saya sering menulis artikel, cerpen, dan puisi di Hr Analisa.

Kedua, Sofyan Tan pernah menjadi calon wali kota Medan yang berpasangan dengan Kak Neli, saya lupa nama lengkapnya. Kak Neli ini pernah menjadi Ketua KPU Kota Medan ketika saya menjadi anggota KPU Aceh Utara.

Banyak kisah inspiratif dan informasi penting yang disampaikan. Dalam kaitannya dengan mantan Mendikbudristek, Nadiem Makarim, Sofyan memaparkan penjelasan panjang dan agak sedikit bersifat pribadi. Ketika Nadiem memutuskan menjadi menteri, anak Pak Sofyan, menyampaikan kepadanya agar menjaga Nadiem yang memutuskan terjun ke dunia politik.

“Mas Nadiem tidak mencari kekayaan dengan menjadi menteri. Dia sudah sangat kaya dan misinya memang memajukan pendidikan. Papa harus menjaga Mas Nadiem bersama kawan-kawan politisi. Mas Nadiem ini harus dibantu,” begitu kira-kira kata Sofyan Tan tatkala itu.

Mengikuti sidang kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) dengan terdakwa eks Mendikbudristek Nadiem Makarim, saya jadi teringat dengan kisah Sofyan Tan tersebut. Tapi sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa postingan ini tidak terkait mendukung atau tidak mendukung Nadiem Makarim. Menurut saya, semua pihak harus menghormati proses hukum tersebut. Dan postingan ini tidak masuk ke aspek hukum.


Sofyan Tan_02.jpg


Saya mengutip pernyataan Bill Gates di atas karena secara substansial relevan dengan diskusi anggota Komisi X DPR-RI, Sofyan Tan. Di hadapan hampir 1.000 mahasiswa Universitas Malikussaleh penerima beasiswa KIP-Kuliah, Sofyan Tan berbagi inspirasi dengan mahasiwa yang dinilainya lebih beruntung karena bisa melanjutkan kuliah dengan beasiswa.

“Saya tidak pernah mendapatkan beasiswa, padahal layak karena hidup miskin. Tapi saya tidak pernah menangisi kemiskinan,” ungkap pendiri Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda tersebut.

Inspirasi Sofyan Tan membangkitkan semangat mahasiswa yang sudah menunggu dua jam lebih karena rombongan anggota DPR-RI datang melalui jalan darat dari Banda Aceh dan sempat singgah di Kampus Reuleut Universitas Malikussaleh di Aceh Utara.

Sofyan Tan memang memperlakukan Aceh secara khusus, kendati ia bukan maju dari daerah pemilihan Aceh sehingga kunjungannya jauh dari nuansa politis. Secara lebih khusus, suami dari Elinar ini memberikan perhatian lebih kepada mahasiswa penerima beasiswa KIP-Kuliah dari Universitas Malikussaleh melalui silaturahmi yang akrab dan hangat.

Terlahir dari keluarga besar dan miskin, Sofyan menjadi korban aturan pemerintah yang mewajibkan sekolah Methodist menerima peserta didik dari berbagai kalangan sebagai proses pembauran. Biaya peserta didik tersebut ditanggung siswa keturunan Tionghoa. “Karena tidak mampu membayar, akhirnya saya tidak diizinkan masuk kelas dan hanya berdiri di depan pintu,” ungkap Sofyan mengenang masa kecilnya yang perih.


Sofyan Tan_03.jpg


Sofyan lahir dari keluarga besar dengan 10 bersaudara. Bapaknya hanya seorang tukang jahit dan mereka tinggal di sebuah rumah sederhana berdinding tepas. Melihat perjuangan orang tuanya, Sofyan kecil memiliki cita-cita mulia; memberikan rasa nyaman untuk orang tuanya.

Cita-citanya menjadi dokter muncul bapaknya sakit dan dokter tidak mau datang ke rumah karena mereka keluarga miskin. Di masa itu, tidak mudah menjadi dokter dan itu terbukti dia tidak diterima di Universitas Sumatera Utara meski memiliki nilai tertinggi. Sofyan juga gagal di Universitas Andalas yang membuatnya memilih Universitas Methodist. Tapi kuliahnya tidak berjalan lancar karena tahun kedua, bapaknya meninggal dunia.

Kehilangan bapak membuat Sofyan Tan harus berjuang keras untuk membiayai kuliah. Ia mencari uang dengan mengajar di SMA dan menjadi asisten dosen. “Saya juga mengajar calon mahasiswa agar lolos di USU, padahal saya sendiri gagal masuk USU. Satu hari, saya hanya tidur selama empat jam,” lanjut Sofyan.


Sofyan Tan_04.jpg


Meski tidak pernah mendapatkan beasiswa, Sofyan Tan justru berperan dalam mendesain beasiswa KIP-Kuliah yang semula direncanakan hanya diberikan kepada mahasiswa di universitas yang terakreditasi A. Dia menyarankan langsung kepada Menteri Nadiem Makarim agar memberikan beasiswa secara berjenjang untuk tujuan strategis dan mendorong kemajuan setiap universitas.

Dalam meraih kesuksesan hidup, Sofyan Tan memiliki jurus JITU FK yang menginspirasi mahasiswa. JITU FK adalah akronim dari Jujur, Inisiatif, Tanggung jawab, Universal, Fokus, dan Konsisten. Enam jurus itulah yang dianut Sofyan Tan dalam berbagai bidang, mulai dari mendirikan Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda yang sudah melahirkan ribuan sarjana dari keluarga kurang mampu, sampai berhasil meraup 158.945 suara untuk menuju Senayan.

“Kalau saya hanya mengandalkan warga keturunan Tionghoa, saya tidak akan mendapatkan kursi DPR-RI. Tapi karena berpikir universal, pemilih dari berbagai etnis memberikan suara kepada saya,” ungkapnya.

Dia menyontohkan, semua pemimpin bangsa adalah tokoh universal dan menghargai keberagaman. Natalis Paragaye, mahasiswa FKIP Universitas Malikussaleh dari Wamewa, Papua, mengharapkan jurus Sofyan Tan bisa mewujudkan harapannya untuk melahirkan seribu dokter dan seribu guru di Wamena.

Menurut Sofyan, Indonesia kekurangan satu juta lebih guru dan sebagian besar generasi muda menjadi guru karena gagal di profesi lain. “Makanya saya kagum kalau ada mahasiswa pintar yang menjadi guru. Itu pilihan idealis,” kata Sofyan yang mengunjungi kampus Universitas Malikussaleh bersama Adnan NS, wartawan senior di Aceh yang pernah menjadi anggota DPD.

Rektor Universitas Malikussaleh, Prof Dr Herman Fithra Asean Eng, mengakui Sofyan Tan banyak membantu kampus tersebut melalui jalur politik. “Ke depan, kami masih mengharapkan bantuan Pak Sofyan untuk pembangunan rumah sakit pendidikan di Kampus Reuleut,” ujar Herman.[]


Sofyan Tan_05.jpg
Foto-foto dokumen @ayijufridar.

Posted using SteemX

Sort:  

An interesting read.
Sometimes, the real motivation we need to succeed is ourselves. We don't have to wait for someone who'd push us.

Sofyan Tan's story is truly an inspiration. I pray that every struggling person today gets to that point where they can also be a blessing to others.

We see many robbed of their chances to ever "make it" because they are born into poverty, live in an environment where the policies are stifling or lack access to opportunities and relevant information (obviously because of the places they find themselves like third-tier schools, low-income jobs and skills, etc.)

I wish life could smile on all "Sofyan Tans" someday.

 5 days ago 

Thank you for your inspiring and truly remarkable comment. I've known Sofyan Tan for a long time, as he's also a journalist. However, I just learned about his difficult past and the hard work he's done. Many people are born without luck, but they work hard and consistently until they succeed.

I hope that we, including you and I, are included in the list of successful people in various fields: career, finances, social relationships, and love.

 6 days ago 

mungkin saja nadiem tidak bersalah, tapi kursi menikbud hana layak keu jih, lage kritik JK dulu ke nadiem sangat tepat

 6 days ago 

Saya sangat sepakat dengan kritik Pak JK, terutama dalam hal hampir tidak pernah masuk kantor dan program yang secara langsung tidak terkait dengan pendidikan. Selain itu, Nadiem terlalu banyak memasukkan orangnya dalam tim Kementerian dan saya lihat sendiri, bagaimana anak muda itu seperti kurang menghargai para guru besar yang dalam dalam tim. Saya pernah mengikuti rapat di Kementerian dan diwakili sama Dirjen Dikti.

 6 days ago 

nyan keuh, galak teuh menteri 2 masa soharto org2 terbaik dan layak, jinoe meukelheuh iboh keu menteri dum

 6 days ago 

Jinoe menteri jai yang hasil kompromi politik dagang sapi. Jai hana yang profesional.

🎉 Congratulations!

Your post has been upvoted by the SteemX Team! 🚀

SteemX is a modern, user-friendly and powerful platform built for the Steem community.

🔗 Visit us: www.steemx.org

✅ Support our work — Vote for our witness: bountyking5

banner.jpg

Congratulations... I have recommended this post to get support from Steemchiller and Realrobinhood.

 6 days ago 

Thank so much @ulfatulrahmah.