Shalat Jumat di Meunasah Gampong Persatukan Warga Pasca Banjir Bandang Pidie Jaya

in #betterlife2 months ago

IMG-20251212-WA0116.jpg

PIDIE JAYA – Solidaritas dan ketangguhan umat Islam di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, kembali teruji pasca musibah banjir bandang yang melanda wilayah tersebut. Pada Jumat ketiga pasca bencana, ratusan jemaah dari Kemukiman Kuta Simpang tak surut semangat untuk menunaikan ibadah shalat Jumat, meskipun masjid-masjid utama, termasuk Masjid Tgk. Japakeh, masih dalam kondisi kotor dan dipenuhi lumpur sehingga tidak layak digunakan.

Menyikati kondisi darurat tersebut, para tokoh masyarakat setempat mengambil inisiatif untuk memindahkan lokasi shalat Jumat ke Meunasah Gampong di Mns. Jurong Teupin Pukat. Langkah ini bukan hanya sekadar solusi praktis, tetapi juga menjadi napak tilas sejarah yang dalam bagi komunitas lima gampong di kemukiman tersebut.

Kegiatan ibadah berlangsung khidmat dengan Ustadz Lhokma Suwadi, LC, yang berasal dari Mns. Jurong, bertindak sebagai khatib. Sementara Tgk. Fahmi memimpin shalat sebagai imam, dan Tgk. Muzakkir mengumandangkan azan. Dalam khutbahnya yang penuh hikmah, Ustadz Lhokma Suwadi menekankan dua sikap utama yang harus dimiliki umat dalam menghadapi ujian Allah SWT: kesabaran dan rasa syukur.

"Musibah banjir bandang ini adalah ujian dari Allah Yang Maha Kuasa. Di balik kesulitan dan kerugian materi yang kita tanggung bersama, mari kita hadapi dengan kesabaran yang tulus. Dan, di tengah kesulitan itu, tetap ada ruang untuk bersyukur; syukur karena nyawa kita diselamatkan, syukur karena solidaritas kita semakin kuat, syukur karena kita masih diberikan kesempatan untuk beribadah dan memperbaiki diri," seru Ustadz Suwadi di hadapan jemaah yang hadir. Khutbah tersebut menyentuh hati dan menguatkan semangat jemaah yang masih berduka dan berjuang memulihkan kehidupan mereka.

Pelaksanaan shalat Jumat di meunasah ini mengingatkan masyarakat pada sejarah awal pembentukan Kemukiman Kuta Simpang pada akhir era 1960-an hingga awal 1970-an. Pada masa itu, sebelum Masjid Tgk. Japakeh berdiri, Meunasah Gampong di Jurong Teupin Pukat inilah yang menjadi pusat ibadah dan titik pemersatu bagi lima gampong pendiri kemukiman, yaitu: Mns. Jurong Teupin Pukat, Beuringen, Pante Beureune, Buangan, dan Lueng Bimba. Masjid Tgk. Japakeh kemudian dibangun secara swadaya oleh masyarakat dari kelima gampong tersebut sebagai simbol persatuan dan kemajuan.

Kondisi hari ini seolah mengajak kita mengenang kembali akar sejarah kita. Meunasah ini adalah saksi bisu awal mula kita bersatu sebagai sebuah kemukiman. Kembali ke sini untuk shalat Jumat pasca bencana terasa sangat menyentuh, mengingatkan bahwa persatuan dan gotong royong adalah modal terbesar kita untuk bangkit,

Dengan dilaksanakannya ibadah shalat Jumat di tengah keterbatasan ini, masyarakat Kuta Simpang tidak hanya menunjukkan komitmennya terhadap kewajiban agama, tetapi juga meneguhkan kembali ikatan sosial-historis yang telah menyatukan mereka selama puluhan tahun. Aktivitas keagamaan yang penuh makna ini menjadi simbol harapan dan ketabahan, sekaligus menjadi pijakan awal untuk membangun kembali kehidupan yang porak-poranda diterjang banjir bandang.

Editor : CM Cek Mad

IMG-20251212-WA0113(1).jpg

IMG-20251212-WA0118.jpg

IMG-20251212-WA0115.jpg

IMG-20251212-WA0113.jpg