Blangkon yang Bolong Tengahnya

Penutup kepala merupakan salah satu perhiasan yang di gunakan oleh laki laki baik dewasa maupun anak – anak , banyak sekali jenis penutup kepala yang popular sekarang, mulai dari topi, kopyah ,sorban , blangkon dsb. Menurut Wikipedia Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon.
Sebutan blangkon berasal dari kata blangko dari bahasa belanda Blanco, istilah yang dipakai masyarakat Jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai. Dulunya blangkon tidak berbentuk bulat dan siap pakai, melainkan sama seperti ikat kepala lainnya yakni melalui proses pengikatan yang cukup rumit. Seiring berjalannya waktu, maka tercipta inovasi untuk membuat ikat kepala siap pakai yang selanjutnya dijuluki sebagai blangkon.
Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.
Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Blangkon Surakarta mondholannya trèpès atau gepeng sedang mondholan gaya Yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde.
Kabupaten sidoarjo sendiri mempunyai blangkon khas yang menggambarkan kebudayaan di sidoarjo. Namanya dari blangsing ini sendiri adalah Udeng Pacul Gowang. Udeng Pacul Gowang sendiri ini memiliki ciri khas ada lubang di atas dilengkapi dengan variasi di bagian belakang berupa dualipatan yang berdiri seperti Pacul Gowang atau Cangkul yang sudah gupil.
Dalam filosofinya sendiri Udeng Pacul Gowang adalah penutup kepala gowang atau yang artinya tertutupnya sebagian kepala melambangkan keseimbangan atara terbukanya pikirian prajurit dan upaya merahasiakan atau menutup keburukan dirinya untuk kewibawaannya. Bagian runcing bentuk yang menyerupai gunung melambangkan jiwa teguh dan kokoh, selain itu prajurit harus pandai, cerdas dan berilmu tinggi. Bagian tumpul melambangkan sifat seorang prajurit harus rendah diri dan andap asor untuk dapat menyatu dengan masyarakatnya. Penutup tengkuk yang pada dasarnya memang menutup tengkuk saat di apaki ini melambangkan bahwa prajurit harus dapat melihat kesalahan dirinya sendiri sebelum menyalahkan orang lain karena tengkuk merupakan silbol dari diri kita sendiri, tulis Kompasiana.com dalam sebuah artikelnya.
Ini berarti didalam sebuah penutup kepala yang sederhana itu memiliki arti yang sangat medalam bagi kehidupan kita, makna prajurit dalam filosofi di atas sendiri bisa di artikan sebagai kita sebagai pribadi yang harus senantiasa andap asor, selalu terbuka pikiran kita terhadap sesuatu yang baru akan tetapi juga harus menutup keburukan kita bahkan orang lain, kita juga harus pandai, cerdas dan juga berilmu tinggi agar dalam seantiasa bersaing dengan ketatnya pesaingan apappun di dunia ini dan yangv paling penting adalah kita tidak boleh menyalhakan orang lain terlebih dahulu dan harus melihat kesalahan kita sebelum melihat ke kesalahan orang lain.
Dengan filosofi yang mendalam tersebut Udeng Pacul gowang menjadi perhiasan wajib bagi pengantin di daerah Sidoarjo dan sekitarnya. Terutama riasan penagntin model putri jenggolo yang merupakan riasan adat/ budaya yang di gunakan di daerah Sidoarjo dan sekitarnya. Bahkan Udeng Pacul Gowang ini pun bisa di kolaborasikan dengan pakian muslim yang di kenakan oleh para pengantin bahkan oleh masyarakat umum.
Selain menjadi perhiasan pengantin Udeng Pacul Gowang yang sudah membudaya di Sidoarjo juga di manfaatkan oleh beberapa pengusaha untuk memperjual belikan Udeng Pacul Gowang tersebut. Dilansir dari Detiknews Udeng ini di jual tidak hanya di Sidoarjo. Udeng ini di jual ke Yogyakarta, Surabaya bahkan Jakarta. Dan omsetnya pun mencapai puluhan juta perbulan.
Udeng Pacul Gowang juga tercatat dalam daftar inventaris Kekayaan Intelektual Komunial (KIK) Ekspresi Budaya Tradisional dan memiliki Sertifikat hak cipta dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) yang diberikan kepada Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Sidoarjo sebagai seni Budaya Khas Sidiarjo. Tentunya dengan pengakuan ini di harap Udeng pacul gowang ini dapat di kenal oleh masyarakat luas baik dalam negeri maupun luar negeri dan yang tak kalah penting adalah pengrajin kesenain ini dapat menjual produk ini samapai ke mancanegara sehingga Udeng Pacul Gowang menjadi sebuah budaya khas dan juga bisa membantu masyarakat untuk mensejahterakan kehidupan mereka.
