SANG PEMIMPI (3)
Suatu pagi yang cerah, Abak berdiri di depan sekolah yang baru saja diresmikan. Bangunan itu megah, dengan dinding putih bersih dan fasilitas modern. Di sampingnya, gedung-gedung perkantoran mulai menjulang, dan di kejauhan, perumahan padat penduduk terlihat. Desa yang dulu sepi, kini ramai, bising oleh suara kendaraan dan aktivitas manusia.
Bocah kecil dulu, Sadri,S.Pd.Gr namanya, seorang pria muda berpakaian rapi, berdiri di samping Abak. Dia adalah guru SD Muhammadiyah Gunung Lagan yang telah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Negri Semarang.
“Dulu, di sini hanya ada ilalang setinggi pinggang,” Sadri berkata, suaranya penuh haru. “Kau bilang, dunia yang lebih luas.”
Abak tersenyum, pandangannya menerawang ke arah bangunan lama yang kini menjadi bagian dari kompleks pendidikan yang lebih besar. Bangunan kayu itu masih ada, menjadi saksi bisu permulaan.
“Dunia itu ada, Sadri. Hanya perlu seseorang untuk menunjukkan jalannya.”
Sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka. Dari dalamnya keluar seorang pria paruh baya, rambutnya beruban di pelipis. Dia mengenali Abak dan segera mendekat.
“Abak!” pria itu berseru, merentangkan tangan. “Kau masih ingat aku? Aku Tanul. Dulu, aku salah satu yang menertawakanmu.”
Abak menjabat tangannya, pandangannya hangat. “Tentu saja aku ingat, Tanul. Kau yang bilang aku mengkhayal.” Tanul tertawa, tawa yang kini dipenuhi rasa hormat. “Ya, aku bodoh. Aku tidak bisa melihat apa yang kau lihat. Sekarang, putraku belajar di sekolah ini, dan dia bercita-cita menjadi dokter. Semua ini berkat kau.”
Mata tanul berkaca-kaca. “Kami dulu menganggapmu aneh, Abak. Tapi kau… kau adalah pemimpi yang mengubah desa ini. Mengubah hidup kami.”
Abak hanya tersenyum, menatap keramaian di sekelilingnya. Anak-anak berlarian di taman, mobil-mobil melaju, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing. Gunung Lagan tidak lagi terpencil. Itu adalah pusat kehidupan, sebuah bukti nyata dari sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan.
“Aku hanya menanam benih, Tanul,” Abak berkata, suaranya tenang. “Kalianlah yang menyiraminya.”
Tanul menatap Abak, lalu ke arah desa yang kini berkembang pesat. “Tidak semua orang berani menanam benih di tanah yang kering, Abak. Tidak semua orang punya mimpi sebesar itu.”
Angin berhembus, membawa suara tawa anak-anak dari kejauhan. Abak memejamkan mata sejenak, merasakan hangatnya matahari di wajahnya. Membayangkan kembali ilalang setinggi pinggang, bisikan-bisikan ejekan, dan kesunyian yang mencekam. Kini, semua itu telah tergantikan oleh denyut kehidupan, oleh harapan yang terus tumbuh, berkat sebuah sekolah yang dimulai oleh seorang pemimpi.
