Catatan Seorang Penulis #15|| KH. Moh. Idris Jauhari Dalam Kenangan Manis

image
Alm. KH. Moh. Idris Jauhari

Tiap kali saya menatap fotonya, kerinduan saya semakin bertambah kepada sosok ulama kharismatik yang satu ini.

Pertama kali saya menjadi santri baru kepada beliau saya dititipkan oleh orang tua. Kiai yang sederhana namun selalu penuh ide cemerlang, itulah yang melekat dan terus saya ingat.

Ketika menjadi santri beliau, saya termasuk santri yang paling nakal, santri yanv kerap mengirimi beliau puisi via sms, sungguh sebuah situasi yang tak lazim dilakukan seorang santri, namun saya sangat senang melakukannya.

Marah adalah kata yang tak pernah saya dengar baik sebelum maupun selepas saya berkirim puisi. Bersama beliau saya serasa mendapatkan sosok seorang ayah yang selalu memiliki waktu walau hanya sekedar mendengar curhatan.

Hanya Kiai Idris yang tahu saya berasal dari Junglorong Sampang atau Blega Bangkalan dari sekian ribu santri yang dimiliki.

Ada yang unik tiap kali ada wali santri sowan ke Kiai Idris hendak menjadikan putranya boyong dari pesantren. Biasanya Kiai Udris akan menayakan nama santri yang hendak diajak boyong oleh orang tuanya dari pesantren.

Jika nama yang disebutkan belum pernah difengar KH ai Idris menyarankan kepada wali santri agar puyranya tetap dimondokkan di Al-Amien Prenduan, seraya berucap saya tak mengenal anak Bapak, biasanya saya yang meminta wali santri untuk membawa pulang putranya dari Al-Amien Prenduan dan tidak dimondokkan lagi karena memang anak Bapak tidak cocok dimondokkan di sini.

Tak jarang suasana tegang berganti alamat dan kami saling tertawa kecil-kecil sedang wali murid yang hersangkutan mengangguk-angguk sesekali saling melempar senyum dan percakapan pun me jadi lebih mengasyikkan.

Kiai Idris semasa hidup pernah menjabat Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan (2007-2012) menggantikan Alm. KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA. Seorang konseptor ulung adalah julukan yang disematkan pada beliau.

Selepas beliau wafat, hanya kerinduan dan kenangan yang kerap mengisi kamar ingatan, semoga surga kado teranggun Allah yang dianugerahkan kepada Kiai Idris, Amien.

Madura, 18 Agustus 2018
Moh. Ghufron Cholid|@mgufroncholid31

Baca juga Catatan Seorang Penulis lainnya
Catatan Seorang Penulis #13|| Merawat Senyuman
https://steemit.com/catatanseorangpenulis/@mghufroncholid31/catatan-seorang-penulis-13-or-or-merawat-senyuman

Catatan Seorang Penulis #14|| Merayakan Kemerdekaan dengan Batik https://steemit.com/catatanseorangpenulis/@mghufroncholid31/catatan-seorang-penulis-14-or-or-merayakan-kemerdekaan-dengan-batik

Sort:  

Alangkah bahagianya bisa berkesempatan dekat dengan kiai, sungguh panorama yang sangat menakjubkan bagi saya dan semofa doa saudara dikalbulkan Allah dan surga tempat isyirah yangbnyata bagi kiai idris