SANG PEMIMPI (habis)
Angin berhembus terasa dingin membelai kulit, namun kehangatan keramaian desa memadamkan gigil. Matahari sore menyiramkan warna jingga ke atas bukit-bukit yang selama ini menjadi saksi bisu perjuangan Abak. Dua puluh tahun berlalu sejak tubuh Abak menyerah pada stroke telah memenjarakannya dalam kursi roda, namun pikirannya tak pernah berhenti menjelajah. Kini, penantian panjang itu usai. Di sebuah ranjang rumah sakit yang jauh dari hiruk pikuk desa, Abak menghembuskan napas terakhir, meninggalkan jejak yang tak terhapus.
"Innalillahi wa innailaihi rajiuun," terdengar isak suara seorang wanita muda, Keyla. Cucu Abak, kini menjadi guru di SD Muhammadiyah Gunung Lagan, mengajar anak-anak tentang teknologi sederhana yang dulu Abak impikan. "Kakek selalu melihat jauh ke depan. Bahkan saat kakinya tak bisa melangkah, pikirannya terbang melampaui batas desa ini." Seorang tetua desa, Mbah Pardi, mengusap matanya yang berair. "Aku ingat, Abak selalu bilang, 'Lihatlah ke gunung, bukan hanya ke tanah. Di sana ada energi, di sana ada masa depan.'"
Pak Nura tersenyum pahit. "Sekarang Abak telah tiada, tapi lampu-lampu telah menyala di malam hari. Anak-anak kita belajar dengan cahaya." Ia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah jalan setapak beraspal yang membelah desa. "Maka, atas nama seluruh warga desa, kita sepakat...," sesaat hening menggantung.
"...Untuk mengabadikan nama Abak sebagai nama jalan utama desa kita," Pak nura mengumumkan, "Mulai hari ini, jalan ini adalah Jalan Abdi!."
Sebuah plang kayu baru, sederhana namun kokoh, terpasang di ujung jalan. Di atasnya, terukir jelas nama: "Jl abdi ". Belakangan diketahui bahwa nama tersebut bukanlah nama almarhum sebenarnya. Itu nama seseorang yang dulu pernah sebagai mitra usaha abak berjualan bbm. Keyla menatap plang itu, air mata mengalir di pipinya. Ia merasakan kehadiran kakeknya, semangatnya yang tak pernah padam, hidup di setiap langkah kaki yang melintasi jalan itu.
"Dia akan bangga, key," Ade menepuk pundak Keyla. "Dia akhirnya diakui."
Keyla mengangguk, senyum merekah di bibirnya. "Kakek tidak pernah mencari pengakuan. Dia hanya ingin melihat desa ini maju." Ia mengusap pipinya. "Dan sekarang, Kakek melihatnya."
Gunung Lagan,21 Ramadhan 1447 H
Untukmu dari aku yang rindu tak pernah padam…abak
Allahummagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.
