PRESIDEN PIKUN DIKELILINGI PEJABAT BEJAT
Tadi malam aku ngopi bareng beberapa orang teman, biasa lah bahas banyak hal, utamanya perpolitikan terkini di Konoha1. Hal yang paling mendominasi adalah musibah banjir dan karena ada di antara kami beberapa orang Aceh maka lebih fokus ke Aceh. Aku sudah sangat terbiasa bagaimana orang-orang selalu tertarik dengan Aceh: ganja, GAM, syariat Islam, Tsunami 2004, dan kini banjir 2025. Mereka mungkin tidak tahu bahwa ada hal lain yang bisa diasosiasikan dengan Aceh: senjata api, shabu-shabu, fakta yang tidak untuk dibanggakan. Atau mungkin mereka lebih ingin bersikap "sopan".
Aku lihat popularitas Gubernur Aceh memang meningkat di media sosial, dan hal itu sudah dimulai jauh sebelum itu, setidaknya ketika timbul konflik terkait klaim 4 pulau Aceh oleh Gubsu, si bobi nganu beberapa waktu lalu. Dan itu juga jadi bahan perbincangan.
Hal lain yang menarik adalah seorang teman yang berasal dari bagian tengah agak ke timur Konoha, setelah ceramah panjang lebar tentang betapa biadabnya polah pejabat yang menyebabkan banjir dan longsor (dan jatuhnya korban jiwa terkait itu) serta betapa lebih biadabnya komentar-komentar dan tingkah mereka pasca banjir, dia menyederhanakan kondisi Konoha saat ini dengan kalimat pendek: "Memang amburadulnya sudah parah sekali negara ini, Presiden pikun dikelilingi pejabat bejat."
Aku tertawa pendek dan berkata, "Pikun?" Mencoba mempersoalkan pemilihan katanya. Aku tidak mempersoalkan pemilihan kata bejat yang ditempelkan ke pejabat, khususnya yang disebut mengelilingi Presiden.
"Ya! Apa lagi kata yang pas, coba? Rakyat lagi musibah dia ke luar negeri. Mirip itu bupati apa itu," cerocosnya lancar dengan kecepatan yang mencoba menyamai laju kereta cepat Woosh yang dibangun dengan utang yang oleh banyak orang pandai disebut tidak wajar itu tapi dibela-bela setengah mampus oleh gerombolan penjilat kuasa. Menurutku tidak terlalu mirip: 1) Pak Bupati diberi cuti 3 bulan setelah meninggalkan rakyatnya saat bencana untuk pergi umroh, sementara pak Presiden tidak mendapatkan keistimewaan serupa; 2) Pak Bupati lebih mementingkan bertemu Tuhan ketika rakyat sedang musibah, sementara Pak Presiden sepertinya lebih logis dan lebih memilih mengincar Sukhoi terbaru.
"Entahlah," jawabku. Kopiku mendadak terasa pahit sekali.
Ketidakpuasan publik yang terlihat di media sosial, saat ini juga telah mengeskalasi, tidak lagi terbatas pada kepolisian, DPR, dan institusi atau kelembagaan negara bahkan presiden sebagai pelaksana daulat rakyat, tapi sudah kepada negara itu sendiri sebagai entitas tertinggi. Seseorang pernah berkata bahwa Konoha mungkin saja bubar pada tahun sekian. Entahlah.
Aku tidak menghabiskan kopiku. Itu lebih baik bagiku. Dan ketika aku melangkah keluar, gerimis terasa tidak sedingin biasanya.
Catatan
1 Konoha berasal dari bahasa Jepang Konohagakure (木ノ葉隠れの里) yang berarti "Desa Tersembunyi di Dedaunan", namun dalam percakapan sehari-hari, kata itu dipelesetkan sehingga memiliki kepanjangan "Kingdom of Nepotism Oligarchy and Hidden Ambition". Hanya pemerintahan khayali, tidak berasosiasi pada negara atau kerajaan atau kekaisaran nyata manapun.




harambaluy kalinyo... brok diateuh brok
phak luyak ,,,,
Konoha is everywhere... I wouldn't let a cup of coffee go to waste because of it, but it makes me angry. Sad. Disappointed. I grew up in a time when people saw problems and tried to solve them constructively, at every level. Nations were striving for disarmament; diplomatic relations were more important than prestige or pure ideology. And then things happened. Certainly not seamlessly, certainly not without warning. But... No, I didn't foresee how bad, disheartened, and resigned I would eventually feel.