Doa 'Cut Bang Said' untuk Pemulihan PAUD Arfia Pasca Banjir di Hadapan Gubernur Aceh
PIDIE JAYA. -Dalam sebuah momen yang penuh haru dan harapan,alumni pertama PAUD Arfia, yang akrab disapa Cut Bang Said, berkesempatan bertatap muka langsung dengan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. Dalam pertemuan tersebut, dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan permohonan tulus untuk pemulihan gedung sekolah pertamanya yang hancur diterjang banjir bandang, agar bisa kembali menjadi taman belajar bagi generasi penerus di Gampongnya, Meurah Dua, Pidie Jaya.
Kisah ini diceritakan oleh Ari Khan dari Pengurus atau Pembina PAID ARFIA kepada Cek Mad dari media ini. Pertemuan antara Gubernur Muzakir Manaf dengan seorang alumni PAUD ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah simbol penghubung antara pemangku kebijakan dengan akar rumput—anak-anak yang merasakan langsung dampak musibah terhadap masa depan pendidikan mereka.
Cut Bang Said, yang kini telah beranjak dewasa, mewakili suara puluhan bahkan mungkin ratusan anak terdampak yang terdiam. Ia menyampaikan kepeduliannya yang mendalam terhadap tempat ia pertama kali mengenal huruf dan angka.
"Mohon sekolah kami diperbaiki kembali, Pak Gubernur. Semoga semua lumpur bisa dibersihkan, dan anak-anak bisa kembali belajar seperti dulu,” ujar Cut Bang, membawa pesan kolektif warga dan orang tua murid. Kalimat sederhana itu mengandung muatan permohonan yang kompleks: bukan hanya soal pembersihan fisik, tetapi juga penyelamatan masa depan pendidikan anak-anak di wilayahnya yang sempat terputus.
PAUD Arfia, sebelum musibah, adalah salah satu titik awal perjalanan pendidikan bagi anak-anak di sekitar Kecamatan Meurah Dua. Kehancurannya akibat banjir bandang beberapa waktu lalu tidak hanya meninggalkan kerusakan material, tetapi juga kekosongan dan ketidakpastian dalam proses belajar-mengajar untuk anak usia dini. Aktivitas pendidikan terpaksa berhenti, meninggalkan trauma dan kesenjangan belajar.
Pertemuan ini menyoroti sebuah dimensi lain dari pemulihan pasca-bencana yang seringkali tersembunyi di balik pembangunan infrastruktur besar: pemulihan ruang belajar dan impian. Ari Khan, dalam penuturannya, tampak ingin menunjukkan bahwa bencana tidak hanya memutus akses air bersih atau merusak rumah, tetapi juga mengancam fondasi paling dasar dari pembangunan sumber daya manusia—pendidikan anak usia dini.
Harapan yang disampaikan Cut Bang Said adalah cerminan dari harapan seluruh komunitas. PAUD bukan sekadar tempat bermain, melainkan fondasi karakter dan kesiapan belajar anak. Pemulihannya akan menjadi sinyal kuat bahwa kehidupan, termasuk pendidikan, benar-benar bangkit setelah tragedi.
Respons Gubernur Muzakir Manaf terhadap permohonan ini belum diuraikan secara detail dalam pertemuan tersebut.Namun, keberanian seorang alumni muda untuk menyuarakan langsung kebutuhan ini di hadapan pemimpin tertinggi provinsi patut diapresiasi. Ia menjadi penyambung lidah yang efektif antara kebutuhan mendesak di lapangan dengan meja kebijakan.
Doa dan harapan yang diungkapkan Cut Bang Said dengan mata berkaca itu kini menggantung, menantikan realisasi. Semoga perhatian terhadap pemulihan sektor pendidikan, khususnya PAUD yang sering terabaikan dalam situasi darurat, menjadi prioritas. Kembalinya anak-anak ke PAUD Arfia yang bersih dan aman tidak hanya akan memulihkan gedung, tetapi juga memulihkan masa depan, menumbuhkan kembali harapan untuk melahirkan generasi Aceh yang cemerlang dari bangku pendidikan paling awal.
Momen pertemuan ini mengingatkan semua pihak bahwa dalam setiap proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana, suara korban—termasuk suara masa lalu yang diwakili oleh alumni—perlu didengar, karena merekalah yang memahami betul makna sebuah tempat bernama "sekolah". (CM)
