"Mantan Pensiunan BPN Asal Aceh Serukan Normalisasi Krueng Meureudu: "Jika Tidak Ditangani, Beberapa Kampung Bisa Hilang"”

in Steem SEAlast month (edited)

Screenshot_20260114-083716.jpg
Ismansyah Ismail Cut Ben

Pemalang, Jawa Tengah – Kekhawatiran mendalam terhadap kondisi sungai di tanah kelahirannya diutarakan oleh Ismansyah (70), seorang pensiunan Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang kini berdomisili di Pemalang, Jawa Tengah. Meski tinggal jauh, pria yang masa kecilnya dihabiskan di Meureudu, Pidie Jaya, ini terus memantau dan merasa prihatin dengan bencana banjir yang rutin melanda kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Meureudu.

Putra dari mantan Kapolres Pidie tahun 1970-an, Letkol (Purn.) Ismail Cut Ben, ini menyatakan keprihatinannya pasca banjir bandang besar yang baru saja melanda wilayah Sumatra, termasuk daerah tersebut. “Setiap musim hujan, banjir pasti datang. Krueng Meureudu yang saya kenal sejak kecil, tempat saya biasa mandi, sekarang dalam kondisi memprihatinkan dan sangat dangkal,” ujar Ismansyah dalam keterangan yang disampaikan kepada Cek Mad dari media ini lewat telepon selular, Selasa (13/1/2026).

Menurut analisisnya yang berdasarkan pengamatan dan ingatan akan kondisi geografis daerah itu, Ismansyah menawarkan sejumlah solusi komprehensif yang ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Pemerintah Provinsi Aceh, dan terutama Pemerintah Pusat.

Solusi Teknis yang Diusulkan:

  1. Pembuatan Kanal dan Waduk Penampung: Dia menyarankan pembangunan kanal yang luas dan dalam di kawasan hulu, tepatnya di daerah Blang Awe/Seunong. Kanal ini berfungsi membuat waduk buatan untuk menampung air berlebih di musim hujan, sehingga dapat mengurangi debit air yang langsung meluncur ke hilir.
  2. Pembesaran Saluran dan Pengerukan Sungai: Selokan atau anak-anak sungai di kiri kanan Krueng Meureudu harus diperbesar kapasitasnya untuk memperlancar aliran. Yang tak kalah penting adalah pengerukan atau normalisasi sungai secara menyeluruh, dari bagian hilir (Kuala) hingga ke hulu, untuk mengembalikan kapasitas tampung sungai.
  3. Rehabilitasi Lingkungan: Ismansyah menekankan pentingnya reboisasi hutan di wilayah tangkapan air dan penindakan tegas terhadap oknum-oknum perambahan hutan. Kerusakan hutan dinilainya sebagai akar masalah yang memperparah erosi dan sedimentasi, menyebabkan pendangkalan sungai.

Peringatan Serius: Ancaman Hilangnya Permukiman

Ismansyah memberikan peringatan yang tegas. Jika beberapa langkah korektif tersebut tidak segera diimplementasikan secara serius dan terencana, dia khawatir dampak jangka panjangnya akan lebih parah. “Kalau beberapa hal tersebut tidak segera ditangani, tunggu saja, beberapa kampung di DAS Krueng Meureudu akan hilang terkikis banjir dan sedimentasi,” tegasnya.

Seruan dari seorang putra daerah yang berpengalaman dalam tata kelola tanah ini diharapkan dapat menjadi perhatian bersama. Bencana banjir tahunan dinilainya bukan lagi sekadar fenomena alam biasa, melainkan konsekuensi dari akumulasi masalah ekologis dan tata air yang memerlukan penanganan sistemik dan berkelanjutan. (CM Cek Mad)