Sempat Terpuruk Banjir, Tradisi Meugang di Gampong Pante Beureune Kembali Meriah Berkat Bantuan Presiden dan Kolaborasi Berbagai Pihak
Pidie Jaya – Tiga bulan pascabanjir bandang yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, warga Gampong Pante Beureune, Kecamatan Meurah Dua, akhirnya dapat tersenyum lega. Tradisi Meugang yang sempat dikhawatirkan tidak akan berlangsung tahun ini akibat musibah tersebut, justru berlangsung meriah pada Rabu (18/2/2026). Kemeriahan itu berkat bantuan seekor lembu dari Presiden RI Prabowo Subianto, satu lembu dari program Pengabdian Masyarakat (Dianmas) mahasiswa STIK yang berkolaborasi dengan Polres Pidie Jaya, serta dukungan dari Lembaga Human Inisiatife.
Keuchik Gampong Pante Beureune, saat berbincang dengan Cek Mad dari media ini di sela-sela acara makan bersama, mengungkapkan rasa syukurnya. "Kami sangat bersyukur. Setelah banjir tiga bulan lalu, warga sempat putus asa tidak bisa merayakan Meugang. Namun berkat perhatian Bapak Presiden, adik-adik mahasiswa STIK, dan Human Inisiatife, tradisi ini bisa kembali hidup," ujarnya.
Menurut Keuchik, lembu bantuan Presiden dan STIK disembelih dan dagingnya dibagikan secara merata kepada seluruh warga. Setiap kepala keluarga mendapatkan satu tumpuk daging mentah yang siap diolah. Sementara itu, lembu dari Human Inisiatife diolah menjadi masakan dan disantap bersama dalam acara makan siang di Meunasah setempat, usai pelaksanaan salat Dhuhur.
Suasana kebersamaan semakin terasa dengan hadirnya unsur Muspika Kecamatan Meurah Dua, para mahasiswa STIK, serta sejumlah undangan lainnya. Tak ketinggalan, Abiya Jeunib, Ulama Muda yang dikenal dermawan, turut hadir dan mendonasikan berbagai bahan kebutuhan pokok untuk mendukung kegiatan berbuka puasa warga Pante Beureune selama bulan Ramadhan mendatang.
Iptu Mas Iqbal, yang memimpin langsung program Dianmas mahasiswa STIK di wilayah Polres Pidie Jaya, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian terhadap korban bencana. "Kami ingin memastikan bahwa warga tidak hanya terbantu secara fisik pascabanjir, tetapi juga dapat merasakan kebahagiaan dalam menjalankan tradisi budaya dan keagamaan seperti Meugang," jelasnya.
Pantauan di lokasi, warga tampak antusias menerima pembagian daging. Tumpukan daging yang dibagikan tidak hanya berupa daging sapi, tetapi juga dilengkapi dengan minyak goreng, kecap, serta bumbu-bumbu dapur seperti bawang putih. "Alhamdulillah, lengkap sekali. Kami sangat terbantu, apalagi sebentar lagi mau puasa," ujar seorang warga dengan wajah sumringah.
Perwakilan dari Lembaga Human Inisiatife yang turut hadir menambahkan bahwa pihaknya selama ini memang aktif membantu para korban banjir di berbagai wilayah, termasuk di Pidie Jaya. "Kami berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat, tidak hanya saat tanggap darurat tetapi juga dalam pemulihan sosial dan budaya," ungkapnya.
Tradisi Meugang sendiri merupakan warisan budaya Aceh yang dilakukan dengan menyembelih hewan ternak dan memasak dagingnya untuk disantap bersama keluarga dan tetangga, biasanya menjelang bulan suci Ramadhan, Idul Fitri, atau Idul Adha. Di Gampong Pante Beureune, tradisi ini memiliki makna khusus sebagai simbol kebersamaan dan syukur.
Dengan berbagai bantuan yang mengalir, warga Pante Beureune kini dapat menyambut Ramadhan dengan lebih tenang dan penuh berkah, meskipun masih dalam masa pemulihan pascabencana.
(CM)










