Wartawan Senior Tempat Usaha Poranda Diterjang Banjir Bandang Pidie Jaya
MEURAH DUA, PIDIE JAYA . Rabu 10 Desember 2025– Ironi menyelimuti Muhammad M. Piah, atau yang akrab disapa Cek Mad (CM). Selama bertahun-tahun, sebagai wartawan senior di Pidie Jaya, ia setia melaporkan berbagai musibah yang menimpa warga. Kini, giliran dirinya yang merasakan pilu menjadi korban. Tempat usahanya dan rumah kelahirannya di Gampong Mns Jurong, Teupin Pukat, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, rusak parah diterjang banjir bandang yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu.
Kejadian bencana yang merendam sebagian besar Pidie Jaya itu meninggalkan bekas yang dalam bagi Cek Mad. Lokasi usaha menjahit yang biasa menjadi pusat aktivitas jurnalistiknya tak luput dari amukan air dan lumpur. Begitu pula dengan rumah tempat ia menghirup udara pertama kali, rumah yang penuh kenangan masa kecil, kini tertutup oleh lapisan lumpur tebal, menyisakan duka dan kerugian materi yang tidak sedikit.
"Kondisinya parah. Semua peralatan untuk usaha, arsip-arsip berharga, dan kenangan di rumah keluarga, semuanya terkena. Lumpur masuk ke mana-mana," ujar Cek Mad dengan suara bergetar, menggambarkan kepiluan yang dirasakannya dan keluarganya.
Di tengah kesulitan yang menghimpit, secercah perhatian datang menghangatkan hati. Hari ini, Cek Mad mendapat kunjungan khusus dari Tim Humas dan Protokol Setdakom Pemerintah Kabupaten (Prokopim Pemkab) Pidie Jaya. Kedatangan mereka bukan untuk wawancara, melainkan untuk menyerahkan bantuan sembako sebagai bentuk kepedulian.
Afdal, perwakilan Humas Prokopim yang menyerahkan bantuan, menjelaskan bahwa bantuan ini merupakan wujud kepedulian yang berantai. "Bantuan yang kami serahkan ini merupakan perpanjangan tangan dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Bantuan dari kampus tersebut disalurkan melalui Bapak Teuku Ahmad Dadek, mantan Penjabat (Pj.) Bupati Pidie Jaya, yang kemudian kami teruskan kepada salah satu yang sangat membutuhkan, yaitu Saudara Cek Mad," jelas Afdal secara rinci.
Bantuan berupa sembako ini mungkin tak sebanding dengan total kerugian yang diderita, namun nilainya sangat berarti bagi Cek Mad. Ia menyambutnya dengan rasa haru dan terima kasih yang mendalam.
"Atas nama pribadi dan keluarga, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh donatur, khususnya Universitas Atma Jaya Yogyakarta, kepada Bapak Teuku Ahmad Dadek, serta Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya melalui Prokopim yang telah mengulurkan tangan. Bantuan ini sangat meringankan beban kami di masa pemulihan ini," ungkap Cek Mad penuh syukur.
Kisah Cek Mad ini menjadi potret nyata betapa bencana banjir bandang di Pidie Jaya menyentuh semua lapisan, tanpa terkecuali. Para pelapor berita, yang biasanya berada di garis depan meliput penderitaan orang lain, kali ini harus berjuang membenahi puing-puing kehidupannya sendiri. Bantuan yang datang, sekecil apapun, menjadi pengingat bahwa solidaritas dan kepedulian sesama adalah modal utama untuk bangkit dari keterpurukan. (**)
