Ibnu Batutah dan Aceh : Jejak Peradaban Islam di Ujung Barat Nusantara
Nama Ibnu Batutah tidak hanya tercatat sebagai pengembara terbesar dalam sejarah Islam, tetapi juga sebagai saksi hidup kejayaan Aceh pada abad ke-14. Dalam catatan perjalanannya, Aceh yang saat itu dikenal sebagai Samudera Pasai bukanlah negeri pinggiran, melainkan simpul penting peradaban Islam dunia.
Ketika Ibnu Batutah singgah di Samudera Pasai sekitar tahun 1345 M, ia menggambarkan Aceh sebagai kerajaan Islam yang tertata, religius, dan memiliki hubungan erat dengan dunia Islam internasional. Raja Pasai disebutnya sebagai pemimpin yang saleh, mencintai ulama, serta menjadikan syariat Islam sebagai fondasi pemerintahan. Catatan ini menjadi bukti kuat bahwa Aceh telah lebih dahulu mengenal tata kelola negara berbasis Islam sebelum banyak wilayah lain di Nusantara.
Lebih dari sekadar persinggahan, Aceh bagi Ibnu Batutah adalah pusat ilmu dan dakwah. Ia menyaksikan bagaimana para ulama dihormati, madrasah berkembang, dan bahasa Arab digunakan dalam tradisi keilmuan. Fakta ini menegaskan bahwa Aceh sejak awal telah menjadi pintu gerbang Islam ke Asia Tenggara, bukan hanya secara geografis, tetapi juga intelektual dan spiritual.
Dalam konteks hari ini, kisah Ibnu Batutah seharusnya menyadarkan kita bahwa Aceh memiliki warisan sejarah yang agung. Aceh bukan daerah yang baru belajar tentang identitas dan peradaban, melainkan wilayah yang sejak berabad-abad lalu telah terhubung dengan jaringan global dunia Islam. Ironisnya, warisan besar ini sering kali hanya menjadi romantisme sejarah, tanpa diterjemahkan ke dalam kebijakan, pendidikan, dan pembangunan karakter masyarakat.
Mengingat Ibnu Batutah bukan sekadar mengenang seorang musafir, melainkan membaca kembali cermin kejayaan Aceh. Jika dahulu Aceh dikenal dunia karena keilmuan, akhlak, dan kedaulatannya, maka pertanyaan besarnya adalah: mampukah Aceh hari ini kembali menjadikan sejarah sebagai arah, bukan sekadar cerita?
Ibnu Batutah telah menuliskan Aceh dalam peta dunia. Kisah ini bisa dibaca dalam sebuah kitab yang beliau tulis langsung dengan judul "رحلة ابن بطوطة". Kini, tanggung jawab kitalah untuk menuliskan masa depan Aceh agar kembali layak dikenang oleh dunia.

Thank you for sharing on steem! I'm witness fuli, and I've given you a free upvote. If you'd like to support me, please consider voting at https://steemitwallet.com/~witnesses 🌟