Andai Saja
Andai saja tahun-tahun bisa berputar kembali, aku ingin kembali ke masa kita bertemu. Pegang erat kelembutan itu, jangan pernah lepaskan tanganmu lagi. Andai kau tak melepaskannya, apakah kita akan menjadi putih. Apakah kau masih bisa menyatukan jari-jarimu, berjalan hingga akhir hayat bersama.
Andai kau bisa melihat ke belakang lagi, aku akan memberikan segalanya untukmu. Katakan, apa yang belum kau katakan. Jangan biarkan penyesalan memenuhi hatimu. Sayangnya, tahun-tahun tak bisa diputar kembali. Mereka yang telah terlewat sulit untuk diminta, hanya pikiran yang tertinggal di hatiku. Aku hanya bisa bertemu denganmu dalam mimpiku.

Di mimpi itu, aku berani bilang semua.
Bahwa rinduku bukan luka, tapi do'a yang tiap malam kupanjat pelan. Bahwa putih yang kau tanya, bukan tentang baju pengantin, tapi tentang hati yang bersih, yang tetap menyimpan namamu tanpa benci.
Kau tersenyum, menyatukan jarimu dengan jariku. Nggak ada janji panjang, nggak ada sumpah berisik. Hanya nafas yang sama, arah yang sama, sampai ujung jalan mimpi itu habis.
Lalu pagi datang, mengetuk pelan dari sela jendela. Bulan yang semalam menemaniku, kini pudar diganti langit biru putih cerah. Kau pergi lagi, seperti selalu.
Tinggalkan aku dengan sisa hangat di telapak tangan, dan pertanyaan yang tak pernah sempat kau jawab.
Aku nggak marah pada waktu.
Aku cuma belajar memeluk yang bisa kupeluk, kenangan. Karena walau tahun tak bisa diputar, cinta yang pernah tulus akan selalu tau jalan pulang ke hati.
Jika suatu hari kita bertemu lagi, entah di dunia, entah di do'a, biarkan aku menggenggam lebih lama. Bukan karena takut kehilangan, tapi karena akhirnya aku tau, melepaskanmu dulu adalah pelajaran paling perih yang membuatku dewasa.
Sampai saat itu, aku akan menyimpan “andai” itu rapi di dada, dan membiarkan mimpi jadi rumah kedua kita.
Salam kompak selalu.
By @midiagam
