The Diary Game, Kamis 27 November 2025. Antara Tangisan Dan Doa
Assalamualaikum warahmatullah
semoga semua dalam rahmat dan lindungan Allah, inilah penggalan diary saya saat musibah 27 november
Malam ini hujan masih terus mengguyur, sudah seminggu genap hujan terus turun, berhenti hanya sebentar, air sudah mulai menyenangi halaman, sungai tanjong Punti sudah meluap sejak hari jumat. malam ini saya tidur tidak terlalu nyenyak. entah kenapa, jam 3.30 saya terbangun untuk ke kamar mandi, di luar hujan masih deras, tapi ada suara ribut-ribut, saya hanya mengabaikan saja, entah kenapa ada rasa malas untuk tahajud, saya pun melanjutkan tidur kembali,, jam 4.30 suara keras menggedor pintu depan dengan suara memanggil yang keras, tengkuuu,, bangun, air, saya terkejut, dan lebih terkejut lagi saat melihat sudah ada genangan air di lantai rumah, saya melihat HP sudah tenggelam, segera saya hidupkan semua lampu sambil tegas membangunkan ummi Aira, saya tidak panik, tapi saya langsung tahu ini adalah banjir kiriman, karena tadi siang sudah ada yang memberi tahu, tapi saya ragu, sekarang saya tahu pasti bahwa banjir ini akan parah. Saya segera membuka pintu. takut nanti tidak bisa di buka lagi, dalam sekejap air langsung naik se lutut, Anak-anak semua menangis ketakutan, ummi Aira sangat panik, saya tetap tenang, berfikir jernih. "ambil baju seadanya, abiya antar anak-anak ke mengasah, suara dari pengeras suara memanggil kami untuk segera naik ke mengasah, jaga keluarga dan jaga barang penting masing- masing”.
Segera saya keluar sambil menggendong si kecil, memegang tangan Ahmad dan Aira, kami berlari, semua nampak sibuk dengan keluarga masing-masing, suara tangisan memecah keheningan malam, sampai menasah saya melihat dimana akan saya titipkan anak-anak untuk menjemput ummi mereka, akhirnya saya melihat tengku Din, berdiri termangu, saya langsung berkata pada beliau, “ tolong jaga mereka, saya akan menjemput umminya” tidak menunggu anggukan, saya berpesan pada Aira, jangan nangis, jaga adik-adik,. Ikut kemana saja dibawa, mereka nampak bingung, khudaija menangis, tanpa saya hiraukan lagi segera berlari menembus air yang sudah sepinggang, masuk ke dalam rumah, ayo keluar, jangan hiraukan apapun, saya membuka lagi, mengambil uang yang ada di sana, hanya ini bekal kami, saya tidak tahu sampai kapan akan seperti ini, dengan tertatih-tatih kami mengarungi air yang semakin deras, menuju ke tempat pengungsian, setiba di sana, tengku din sudah ada di bawah menasah, kemana anak-anak.
Saya mulai bertanya ke sana kemari, ummi nampak nampak sangat bingung dan takut, saya katakan, “tenang saja, anak-anak ada di sini”. Akhirnya setelah setengah jam mencari kami mendapatkan mereka sedang duduk diantara para pengungsi dekat dengan istri tengku Din. Saya pun turun ke bawah menasah, sebab semua yang laki-laki di suruh turun, kami tidak muat lagi, hanya anak-anak dan perempuan saja yang boleh di atas, sampai di bawah saya di lihat oleh tengku Muhammad, segera saya di ajak ke lantai dua rumah mereka, saya pun menjemput anak-anak dan ummi Aira dengan susah payah menuju ke rumah Tengku Muhammad.
Jam 5.30 saya salat subuh, memohon bantuan Allah yang Maha kasih dan maha Dekat, lampu pun padam, dan drama pu mulai, ini baru awal kesusahan dan kesulitan yang akan kami hadapi dalam hari-hari ke depan.
Saat matahari terang saya mencoba mencari informasi sampai di mana banjir ini melanda, apakah hanya kami saja, informasi yang simpang siur, jam 10.00 saya bersama beberapa teman mencoba menerobos ke arah Panton Labu, siapa tahu ada harapan di sana, ternyata kami tidak bisa, hanya sampai batas desa Paya Naden, saya kembali, cemas akan ponakan yang berada di desa Tanjong Punti.
Kami tidak punya HP, semua terendam dalam air di rumah, saya bertanya, rupanya sinyal HP juga mati total, kami benar-benar terputus dari dunia luar.
Waktu terasa sangat lambat, air sudah melandai, arusnya sangat deras, rumah-rumah kayu pinggir jalan mulai hanyut di bawa air bah, kami hanya bisa menatap saja.
Seharian saya hanya berputar-putar saja tanpa arah, belum makan apa-apa, anak-anak alhamdulillah sudah ada sedikit makanan dari rumah tengku Muhammad, dan saat ini rumah beliau juga sudah penuh sesak dengan pengungsian, ada sekitar 50 orang mengungsi di sini, saya memilih berada di luar memberikan kesempatan untuk anak-anak dan perempuan.
Waktu terus bergerak, kecemasan pada anak-anak ponakan di Tanjong Punti semakin membuat saya bingun, hanya bisa memohon bantuan Allah semata, membantu siapa saja yang bisa saya bantu, dan di satu sisi saya yakin Allah pasti akan membantu anak ponakan saya di sana.
Akhirnya jam 9.00 malam saat saya masih terus berusaha mencari informasi untuk menerobos ke panton, dengan asumsi bahwa saya bisa pulang ke sana lewat jalur desa Alu Ie mirah, akhirnya di tengah gelap malam saya melihat 4 orang dengan menggigil mengarungi air, saya dekati, ternyata mereka dati tanjong Punti, segera saya hampiri, saya tanyakan keadaan mereka. “ di sana selamat semua, kami semua kelaparan, kami ingin mencari bantuan, mencari sedikit makanan untuk kami bawa pulang”.
Akhirnya mereka saya bawa ke posko darurat Bakso Cek Mar, mereka belum makan apa-apa sejak kemarin malam,. Sudah 24 jam, hanya beberapa suap nasi dengan garam, sisa air hujan, mereka pun bercerita bahwa mereka mulai mengungsi jam 3 malam, semua berdesakan di atas toren Air, ukuran 8 x 15, dengan pengungsi sekitar 60 orang, tidak bisa saya bayangkan, mereka semua dalam keadaan lapar, akhirnya setelah kami bujuk dan berfikir secara normal tidak mungkin malam ini kami bisa tembus kesanalagi, insya Allah besok kita akan sama-sama ke sana, saya yakinkan mereka, sekarang istirahatlah di sini (mereka dun duduk meringkuk dengan baju basah kuyup), kami semua sama, berjuang dalam kepanikan dan ketakutan,. Tapi ada lega dengan kabar yang ada.
Malam ini saya belum bisa tidur, memohon bantuan Allah dalam diam,,membaca zikir dan tahmid dalam diam, air mata berlinang, memohon kasih sayang Allah untuk semua ummat Muhammad yang terbentang dengan segala musibah yang terpampang.
Insya Allah akan saya sambung dalam kisah selanjutnya, ,,



