Membahas Problem Solving Bersama Ikatan Mahasiswa Minang dan Kenangan di Rancong |
Cuaca sangat panas ketika saya tiba di Komplek Perumahan TNI-AL di Rancong Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Saya sudah pernah beberapa kali ke komplek tersebut. Ada satu penari di Sanggar Nahrasiyah yang saya dirikan bersama Raisa Agustiana, tinggal di sana. Ketika dia pulang latihan dan pulang dari penampilan, saya yang mengantarnya.
Di masa konflik danmasih menjadi wartawan Serambi Indonesia, saya sering ke mari. Kejadian yang masih saya ingat adalah ada seorang tentara gadungan yang ditangkap dan dibawa ke sana. Di depan saya, seorang tentara beneran memukul tentara gadungan itu karena dianggap sudah mencemarkan nama baik TNI-AL.
Seorang kawan tentara tersebut merelai dan meredakan emosi. Di depan wartawan memukul warga, meski ada kesalahannya, mungkin dianggap tidak baik.
Khusus untuk memenuhi undangan Ikatan Mahasiswa Minang (Imami), sebelumnya juga digelar di Komplek Perumahan ini. Saya sering menjadi salah satu pemateri untuk pembekalan kader Imami. Mereka sering menggelar acara di Komplek Militer, sebelum di Komplek Denrudal di Pulo Rungkom.
Intinya, aktivis Imami akan menggelar pelatihan di tempat yang bisa mereka pakai secara gratis. Maklumlah, kegiatan mereka hanya didukung oleh jaringan Ikatan Masyarakat Minang di seputaran Lhokseumawe dan Aceh Utara. Biasanya, donatur datang dari masyarakat Minang yang memang banyak di Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.
Menghadiri kegiatan di Komplek Perumahan TNI-AL di Rancong, agak tidak terlalu menyenangkan bagi saya. Ada beberapa sebabnya.
Pertama, lokasi tersebut melewati akses destinasi wisata Pulau Seumadu. Terkadang, warga mengutip uang masuk di sana. Saya harus menjelaskan bahwa tujuan saya bukan ke Pulau Seumadu, tapi ke perumahan.
Kedua, jalan ke sana sangat sunyi dan penuh semak belukar. Kalau malam hari, gelap dan menakutkan. Ketika menghantar penari itu beberapa kali, sangat tidak nyaman.
Terakhir, kondisi jalan sangat jelek. Banyak lubang dan sampah di tengah jalan.
Nah, acara di musala itu sangat panas karena tidak ada mesin pendingin. Kipas angin yang ada, tak mampu mengusir hawa panas yang mendera. Saya menyampaikan materi tentang problem solving dengan kemeja bermandikan keringat seperti yang tampak di beberapa foto dalam postingan ini.
Saya menjelaskan beberapa metode prolem solving yang serinf saya gunakan. Saya sampaikan juga penyelesaian masalah dalam organisasi kami, Bawaslu Kota Lhokseumawe. Ketika memenuhi undangan tersebut, saya masih dalam kapasitas sebagai anggota Bawaslu Kota Lhokseumawe.
Dan saya selalu menyinggung lembaga tersebut, soal demokrasi dan kepemiluan, dalam berbagai kesempatan. Jadi, keberadaan saya di berbagai forum tetap menggunakan bendera Bawaslu.
Salah satu metode problem solving yang saya gunakan adalah dengan mind maps yang dikembangkan Tony Buzan. Saya menggunakan pohon pemetaraan berpikir untuk mencari sumber masalah, menganalisanya, serta mencari beberapa jalan keluar. Dalam menulis, metode ini sering saya gunakan.
Saya senang menjadi pemateri rutin di kegiatan Imami, meski tidak dibayar. Benar, saya tidak mengharapkan honor ketika menjadi pemateri di mana pun, kecuali di lokasi jauh yang menuntut biaya perjalanan untuk bahan bakar. Kalau ada honor, alhamdulillah. Kalau tak ada, bukan masalah.
Satu hal yang saya suka, Imami selalu memberikan saya buku sebagai imbalan. Ini juga honor yang lebih bermanfaat. Terima kasih buat Imami. []
Foto-foto kegiatan bersama Ikatan Mahasiswa Minang di Komplek Rancong, Lhokseumawe.





🎉 Congratulations!
Your post has been upvoted by the SteemX Team! 🚀
SteemX is a modern, user-friendly and powerful platform built for the Steem community.
🔗 Visit us: www.steemx.org
✅ Support our work — Vote for our witness: bountyking5
Thank so much.