Pengalaman Saya Operasi Saraf 20/8/2025
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halo sahabat stemian semua,
Apa kabar kalian hari ini? Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalani setiap aktivitas sehari-hari. Alhamdulillah, pada kesempatan yang baik ini saya masih diberi kesempatan untuk kembali berbagi cerita bersama kalian semua di komunitas tercinta ini.
Pada kesempatan kali ini, saya ingin membagikan sebuah pengalaman yang sangat berkesan sekaligus cukup menegangkan dalam hidup saya, yaitu tentang operasi ketiga yang saya jalani di Rumah Sakit Graha Medistra Lubuk Pakam, Medan. Pengalaman ini menjadi salah satu fase paling berat yang pernah saya lewati, tetapi juga penuh dengan pelajaran dan rasa syukur.
sebelumnya, saya mengalami kecelakaan pada 4 September 2024. Setelah kecelakaan tersebut tulang clavicula saya patah operasi tahap pertama pasang pen dan tangan kanan saya divonis mengalami BPI (Brachial Plexus Injury), yaitu cedera pada saraf pleksus brakialis yang menyebabkan gangguan fungsi saraf, seperti kelemahan hingga kelumpuhan pada lengan dan tangan.
Mendengar diagnosis tersebut tentu bukan hal yang mudah bagi saya dan keluarga.
Sejak saat itu, saya harus menjalani berbagai pengobatan dan tindakan medis yang terbilang cukup berat dan sama sekali tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Rasa sakit, lelah dan rasa takut sering kali datang. Namun, alhamdulillah, dengan dukungan keluarga, doa orang-orang terdekat, serta pertolongan Allah SWT, semua proses tersebut perlahan bisa saya lewati satu per satu.
Pada tulisan kali ini, saya tidak bermaksud untuk mengeluh. Saya hanya ingin berbagi pengalaman yang dipernah bisa saya lupakan, yaitu saat menjalani operasi ketiga.
Setelah saya divonis BPI (Brachial Plexus Injury) di Rumah Sakit Malahayati Medan,
Kemudian saya langsung dirujuk ke Rumah Sakit H. Adam Malik Medan untuk penanganan lebih lanjut. Sejak saat itu, saya rutin melakukan kontrol selama kurang lebih empat bulan di Rumah Sakit Adam Malik. Setiap kontrol saya jalani dengan penuh harapan, meskipun prosesnya terasa sangat panjang dan melelahkan tapi harus tetap semangatt.
Setelah melalui berbagai pemeriksaan, akhirnya dokter memutuskan bahwa tindakan operasi harus dilakukan di Rumah Sakit Graha Medistra Lubuk Pakam, dikarenakan fasilitas dan alat di rumah sakit sebelumnya belum mencukupi untuk tindakan operasi saraf yang saya butuhkan. Mendengar keputusan tersebut, saya kembali dirujuk ke rumah sakit grahamedistra lubuk pakam dan harus menjalani kontrol bolak-balik sambil menunggu jadwal operasi.
Selama kurang lebih empat bulan, saya dan keluarga harus melakukan perjalanan pulang-pergi dari Aceh Utara ke Medan satu minggu sekali bahkan pernah 2 kali seminggu. Perjalanan ini memakan waktu berjam-jam dan tentu sangat menguras tenaga, pikiran, serta biaya. Meski begitu, kami tetap menjalaninya dengan sabar karena semua ini demi kesembuhan saya.
Akhirnya, pada kontrol terakhir, dokter menjadwalkan operasi saya pada 20 Agustus 2025. alhamdulillah mendengar kabar tersebut, saya dan keluarga benar-benar merasa lega. Setelah penantian yang begitu panjang, akhirnya ada kepastian. Rasa syukur pun selalu kami panjatkan.
Malam sebelum operasi, perasaan saya sebenarnya masi belum terlalu takut karena ini bukan operasi pertama bagi saya. Namun tetap saja ada rasa cemas, terlebih dokter menjelaskan bahwa operasi ini akan memakan waktu sekitar 8 jam karena merupakan operasi saraf. Saya mencoba menenangkan diri dan memasrahkan semuanya kepada Allah SWT.
Setibanya di Rumah Sakit Graha Medistra Lubuk Pakam, saya langsung ditempatkan di kamar. Alhamdulillah, saya mendapatkan kamar kelas satu, sehingga hanya saya pasien di dalam kamar dan saya merasa cukup nyaman. Pada malam itu juga saya mulai dipasangi infus seperti pasien operasi pada umumnya.
Keesokan paginya, 21 Agustus 2025, sekitar pukul 08.00, saya sudah diminta untuk berpuasa. Di rumah sakit saat itu, saya hanya ditemani oleh ibu saya karena anggota keluarga lainnya memiliki kesibukan masing-masing. Hanya saya dan ibu, tetapi kehadiran beliau sudah lebih dari cukup bagi saya karna ibu memang orang pertama yang saya butuhkan selamanya.
Sekitar pukul 04.00 dini hari, suster mulai masuk ke kamar untuk mempersiapkan saya menuju ruang operasi. Setelah sampai di ruang tunggu, saya dan ibu mempersiapkan diri sambil menunggu dokter datang. Tepat pukul 06.00, nama saya dipanggil dan tempat tidur saya mulai didorong menuju ruang operasi.
Saat itu, perasaan saya benar-benar berbeda. Ruang operasi yang sama sudah saya masuki dua kali sebelumnya, dan ini adalah kali ketiga. Saya hanya bisa pasrah dan terus berdoa, meyakini bahwa semua proses ini pasti akan terlewati. Dokter sempat mengajak saya berbicara menanya bagaimana kronologi pas saya kecelakaan sambil mengganti infus dan memasang beberapa alat. Tidak lama kemudian, sekitar lima menit setelah itu, saya pun dibius total.
Sekitar pukul 01.30 malam, operasi saya dinyatakan selesai. Saat itu saya belum sepenuhnya sadar, tetapi saya seperti mendengar suara ibu saya menangis sambil memanggil nama saya. Beberapa menit kemudian saya mulai sadar dan langsung memanggil ibu saya. Tubuh saya terasa sangat dingin, seperti es, dan muka saya terlihat pucat karena kedinginan yang pastinya belum pernah saya rasakan sebelumnya. dan saya merasakan seluruh badan saya sudah terpasang gips, setelah itu, suster mendorong
saya kembali ke kamar, pagi harinya bangun tidur saya lihat sunrise.
Tiga hari kemudian, saya dipanggil dokter untuk mengganti perban. Saat itu dokter menjelaskan bahwa gips tersebut tidak boleh dilepas sama sekali selama 8 minggu. Mendengar hal itu saya sangat terkejut, tetapi saya mencoba menerima dan berpikir yang terpenting adalah kesembuhan.
Dokter kemudian menanyakan kondisi saya, apakah sudah bisa duduk dan berjalan. Setelah pemeriksaan, dokter menyampaikan bahwa dua hari lagi saya sudah dibolehkan pulang. Mendengar kabar itu, saya dan ibu langsung senyum-senyum sangat senang.
Setelah pulang ke rumah, saya tetap harus kembali kontrol satu minggu sekali selama 8 minggu. Seperti biasa, kami kembali bolak-balik ke Medan. Perjalanan ini benar-benar menguras tenaga dan biaya, tetapi ibu saya tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran. Semua beliau lakukan demi kesembuhan saya. Di sinilah saya benar-benar merasakan betapa besar cinta seorang ibu untuk anaknya ibu adalah orang yang paling terpenting dalam hidup kami.
Setelah 8 minggu, saya kembali ke Medan untuk melepas gips, seperti biasa kita harus menunggu sampai giliran nama dipanggil,
Saat nama saya dipanggil, saya berpikir bahwa semua kesulitan ini akhirnya akan berakhir. Selama menggunakan gips, hampir seluruh aktivitas terasa tidak nyaman, mulai dari tidur, berjalan, hingga melakukan kegiatan kecil lainnya.
Namun ternyata, proses pelepasan gips juga tidak mudah. Saat gips dilepas, saya merasakan sakit yang luar biasa karena otot dan urat saya seperti tertarik. Dokter menyampaikan bahwa saya harus menunggu beberapa minggu lagi agar posisi tangan bisa turun dan kembali lebih sempurna. Di fase ini, kesabaran saya benar-benar diuji.
Saya pun harus menjalani terapi empat kali dalam seminggu di rumah sakit yang sama, dan Karena tidak memungkinkan untuk terus pulang-pergi, ibu saya akhirnya memutuskan untuk menyewa mess dekat rumah sakit dan kami tinggal di sana sementara waktu.
Alhamdulillah, setelah semua proses tersebut, sekarang saya sudah menjalani terapi di rumah sakit di Aceh yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, yaitu dua kali seminggu. Meskipun perjalanan saya masih panjang dan operasi ketiga ini baru memberikan hasil sekitar 30%, serta kemungkinan masih harus menjalani operasi lagi ke depannya, saya tetap sangat bersyukur karna masi dikasih kesempatan untuk berjuang.
Operasi ini benar-benar menguji mental dan keberanian saya, karena ada banyak rasa khawatir yang muncul sebelum masuk ke ruang operasi. Meski demikian, saya terus mencoba menenangkan diri dan memasrahkan semuanya kepada Allah SWT.
Semoga cerita ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu berhati-hati dimanapun kita berada,harus selalu bersyukur, sekaligus menjadi pelajaran dan motivasi bagi sahabat semua agar tidak pernah menyerah dalam menghadapi ujian hidup.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita saya. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan perlindungan oleh Allah SWT.










Curated by: @jyoti-thelight