The Diary Game 18-01-2026 (Mebawa Bayi Ke Masjid Ba’alawi)
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halo sahabat stemians, senang sekali rasanya bisa kembali menyapa Anda di komunitas luar biasa ini. Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi sedikit cerita tentang aktivitas saya dalam satu hari yang terasa sederhana, tetapi penuh makna.
Pagi hari saya awali seperti biasa. Saya bangun lebih awal untuk menunaikan sholat Subuh, kemudian melanjutkan dengan membersihkan rumah. Saya melihat ke area dapur, memperhatikan apa saja yang bisa dirapikan dan dibersihkan. Tidak lama kemudian, ibu memanggil saya dan meminta bantuan untuk membersihkan ikan. Ibu baru saja membeli ikan merah sebanyak 1 kilogram dengan harga Rp20.000. Jika dikonversikan ke harga STEEM saat ini dengan kurs sekitar Rp1.100 per 1 STEEM, maka harga ikan tersebut setara dengan kurang lebih 18 STEEM. Sambil membersihkan ikan, saya menikmati suasana pagi yang tenang di rumah.
Di tengah aktivitas tersebut, tiba-tiba sepupu saya menghubungi saya. Beliau mengajak saya dan keluarga untuk pergi ke Masjid Ba’alawi karena ada acara turunin bayi, yaitu tradisi membawa bayi untuk pertama kalinya ke tempat tersebut. Kami pun bersiap dan berangkat bersama-sama menggunakan satu mobil Avanza. Di dalam mobil terdapat sekitar tujuh orang dewasa dan empat orang anak kecil. Perjalanan dari rumah menuju Masjid Ba’alawi tidak terlalu jauh, hanya sekitar 30 menit saja.
![]() | ![]() |
|---|
Sesampainya di sana, suasana masjid langsung membuat hati terasa tenang. Perpaduan warna hijau dan putih yang mendominasi masjid terlihat sangat indah dan menyejukkan mata. Warna-warna tersebut juga melambangkan warna yang sangat dekat dengan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Ketenteraman yang saya rasakan di masjid ini benar-benar luar biasa. Saya juga sempat mendengar cerita dari beberapa orang bahwa saat banjir besar pada 27 November 2025 lalu, air sudah menggenangi jalan di sekitar masjid, tetapi bagian dalam masjid sama sekali tidak dimasuki air. Masya Allah Tabarakallah, sebuah tanda kebesaran dan penjagaan Allah SWT.
![]() | ![]() |
|---|
Di sana, saya lebih banyak menemani adik-adik laki-laki. Mereka makan di atas balai sambil duduk bersama, bercanda, dan tertawa riang. Karena menemani mereka, saya tidak sempat melihat langsung prosesi penurunan bayi tersebut. Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak, kami melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah di dalam masjid. Suasana sholat berjamaah di masjid itu terasa sangat khusyuk dan menenangkan.
Setelah itu, kami berencana pergi ke toko emas karena telinga bayi tersebut belum dilubangi. Agar bisa dipakaikan anting, maka proses pelubangan telinga perlu dilakukan terlebih dahulu. Kami singgah di Toko Mas Pasifik. Di sana kami membeli sepasang anting, sekaligus melubangi telinga sang bayi. Tangisannya pecah karena rasa sakit, tetapi semua itu tentu demi kebaikannya kelak. Kami juga sempat pergi ke toko emas sebelah untuk membeli gelang emas. Harga emas saat ini memang sudah cukup tinggi, sekitar dua jutaan hingga dua juta enam ratus ribu rupiah per gramnya.
![]() | ![]() |
|---|
Setelah urusan di toko emas selesai, kami pun pulang. Dalam perjalanan, kami singgah sebentar untuk membeli bakso. Setibanya di rumah, saya melihat ibu ternyata sudah memasak sop iga sapi. Aromanya saja sudah sangat menggugah selera, dan rasanya benar-benar enak. Kami makan bersama keluarga dengan penuh kehangatan.
Sore harinya, saya menunaikan sholat Ashar, lalu membereskan rumah dan mandi. Setelah itu, saya pergi ke tempat pengajian bersama Naqi dan Uun. Usai pengajian, saya pulang ke rumah sebentar, melaksanakan sholat Maghrib, dan beristirahat karena kepala terasa sedikit sakit, mungkin akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak dari sop iga tadi.
Tidak lama kemudian, saya mendapat kabar bahwa adik ayah saya, yang biasa kami panggil Bunda, sedang sakit. Kami pun pergi menjenguk beliau ke rumahnya. Di sana, Amel juga sedang mengajar les privat, sementara saya menunggu. Kami disuguhi martabak, kemudian sekitar pukul 10 malam kami pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, suasana kembali ramai. Ki tiba-tiba menangis dan merengek minta dibelikan cokelat SilverQueen. Mau tidak mau, saya harus pergi mengambil uang di ATM. Selain itu, Nafisa juga meminta Cimory dan sosis Kanzler. Kebiasaan mereka memang jika meminta makanan, tidak pernah sedikit. Akhirnya uang saya pun habis untuk memenuhi permintaan mereka.
Setelah semuanya tenang dan anak-anak tertidur, saya menunaikan sholat Isya. Malam itu saya juga menyempatkan diri membaca Surat Al-Mulk sebelum akhirnya beristirahat. Hari yang panjang pun ditutup dengan rasa lelah, syukur, dan ketenangan.
Semoga cerita sederhana ini bisa menjadi pengingat bahwa di balik rutinitas harian, selalu ada momen-momen berharga yang patut disyukuri. Terima kasih sudah membaca hingga akhir.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.










Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
We support quality posts, good comments anywhere and any tags.