The Diary Game (21/03/2026) | My activities on the first day of Eid al-Fitr and the difficulty of finding a coffee shop.
Ketika semua mata tertuju pada perang! berbagai spekulasi muncul tentang bagaimana nasib akhir dua negara dan sekutunya setelah perang selesai. Sebagian kecil dari mereka sama sekali tidak akan senang jika masih ada senyuman bahagia diwajah anak-anak Gaza. Konflik geopolitik sedang mempertaruhkan jutaan nyawa untuk membinasakan jutaan manusia tak berdosa di tanah yang tersisa hanya seluas 365 Km2 tersebut.
Negara mana yang anda dukung atau anda anggap sebagai musuh bukan pilihan untuk menjamin kehidupan manusia di bumi akan berjalan baik kecuali semuanya dihentikan. Atau menunggu "masanya datang" sebagaimana terukir dalam surat Al-Maidah serta dalam literatur Hadis. It shouldn't have been necessary to burn down a rice barn to get rid of a single rat. But it was necessary because the rat had taken over the barn.
Disisi lain, sebahagian masyarakat awam dipaksa menguras energi dan kuota saat situasi dunia semakin memburuk, dimana sejumlah kreator konten "sengaja" menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk menciptakan kebohongan publik dengan mendaur ulang sejumlah peristiwa secara masif hingga menimbulkan kesenangan atau kecemasan, seperti narasi viral di media sosial tentang sejumlah pejabat negara Islam di Timur Tengah "..lebih takut pada donald trump ketimbang Tuhannya!" bukanlah fakta empiris, namun "sindiran tajam" beberapa pemikiran atas sikap sejumlah penguasa negara timur tengah yang takut jika kehidupan mewah mereka terusik dan terancam karena harus membantu penderitaan bangsa / negara lainnya. Padahal mereka tahu bahwa politik identitas ekstrem sudah dimulai sejak akhir abad ke-19 dimana satu kaum secara perlahan membangun sebuah negara di atas negara lainnya.
Aku tidak berupaya untuk mengusik keinginan siapapun! Silahkan berjalan sesuai kepercayaan masing-masing, karena narasi pendek di atas hanyalah rangkuman bacaanku sepulang dari melaksanakan Shalat Idul Fitri di Masjid Islamic Center, dan sebahagian narasi lainnya merupakan poin-poin khutbah dari sang khatib di sela-sela menyambut hari kemenangan umat muslim khususnya dalam wilayah Kota Lhokseumawe.
..aku lupa membawa smartphone dan meminta putraku untuk mengabadikan beberapa photo dengan perangkat HP miliknya.
![]() | ![]() |
|---|---|
Selesai kegiatan shalat Idul Fitri saya dan keluarga menuju ke pemakaman umum yang berlokasi di Desa Kuta Blang. Ziarah kubur adalah kunjungan ke makam orang-orang terdekat (keluarga) yang sudah tiada, dan kegiatan tersebut merupakan salah satu warisan tradisi umat muslim sejak lama dalam rangka mengentalkan hubungan emosional dengan Pencipta, mengingat kematian serta menghadiahkan pahala dari bacaan-bacaan ayat Alqur'an, zikir dan doa kepada ahli kubur.
Setelah kurang lebih satu jam di areal pemakaman umum selanjutnya kami kembali ke rumah untuk beristirahat. rasa lapar juga memaksa kami untuk menikmati lontong yang sudah disiapkan oleh istri saya sebelum memanfaatkan momen lebaran untuk melanjutkan kegiatan bersilaturahmi dengan keluarga lainnya serta sejumlah tetangga dekat.
Lontong adalah kuliner tidak asing bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, makanan khas ini sudah menjadi menu utama di hari idul Fitri juga sebagai hidangan istimewa untuk menyambut keluarga dan tamu di hari raya. Selesai menikmati lontong kami juga kedatangan tamu dan saling bersilaturrahmi sebelum rasa kantuk benar-benar memaksaku untuk tertidur hingga kurang lebih dua jam.
Sebagaimana anda lihat photo di atas, sesederhana itulah kehidupan kami sebenarnya. Kehidupan sederhana baik dari segi makanan bahkan gaya hidup kami saat menyambut Idul Fitri.
Bangun tidur aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum keluar dari rumah untuk menikmati segelas kopi.
Tidak satupun warung kopi yang biasanya aku nongkrong terbuka di hari pertama lebaran. Aku hanya menemukan satu warung kopi tanpa embel nama yang berlokasi di kawasan Keude Aceh. Setiba disana aku memesan minuman berwarna hitam pekat tersebut dalam gelas ukuran kecil dan menikmatinya seraya membaca perkembangan terbaru tentang konflik Timur Tengah melalui media-media populer (mainstream) untuk menghindari berita-berita hoax buatan AI.
Suasana mulai gelap dan sepi, aku pun kembali kerumah dan berharap malam ini dapat melanjutkan kegiatan silaturrahmi dengan keluarga yang belum sempat kami datangi. Rasa lelah tentu saja ada namun Idul Fitri adalah momen indah dimana suasana bahagia menghapus rasa letih setelah seharian mengukuti sejumlah kegiatan dan ritual keagamaan.


Malam hari sekitar pukul 20.00 wib aku menuju pusat kota Lhokseumawe tanpa tujuan penting kecuali hanya untuk melihat kondisi pusat perbelanjaan di malam pertama idul Fitri. Sebagaimana photo dibawah: adalah kondisi di Jalan perdagangan dipenuhi sejumlah pedagang petasan serta beberapa toko pakaian, penjual aksesoris dan mainan anak-anak memulai beraktifitas.

Kami sekeluarga mengucapkan "Minal Aidin Walfaidin.." mohon maaf lahir batin🙏
Sekian... Terima kasih banyak atas kunjungan dan mungkin anda membacanya..
salam,
@ridwant




https://x.com/i/status/2036113635941163091
Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
Curated By @ heriadi
Terima kasih kanda @heriadi 🙏