Deforestasi : Fakta atau hoax?

in Nature & Agriculture13 days ago (edited)

IMG20260104163352.jpg

div.png

Hagoe's Village: Jan, 4th 2026

Fakta dan hasil penelitian dari berbagai LSM yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup menyebutkan bahwa telah terjadi deforestasi yang massif di Indonesia yang memicu bencana ekologis pada akhir bulan November kemarin. Sementara masih banyak pihak yang masih mencoba men-denied fakta ini.

Hari Minggu adalah kesempatan yang bagus untuk kembali membenahi rumah kami pasca bencana ekologis yang terjadi pada akhir November 2025 yang lalu.

Serasa nggak ada habisnya pekerjaan kami, baik membereskan rumah sendiri, rumah orangtua maupun rumah mertua yang sama-sama terdampak oleh bencana ekologis tersebut, dengan derajat yang berbeda-beda.

Sudah sebulan lebih pasca bencana terjadi, kami masih bergelut dengan segala problema yang ditinggalkan oleh bencana tersebut, karena kami memiliki keterbatasan sumberdaya dan juga dana untuk membereskan rumah kami.

IMG20260104080346.jpg

Coffee Mix

Pagi ini aku akan kembali melanjutkan pekerjaanku membereskan gudang belakang kami, dimana masih banyak barang-barang yang harus disortir agar gudang tidak berantakan.

Sebelum memulai kegiatan, aku sarapan pagi terlebih dahulu dengan menu seperti biasa, telor rebus, beberapa potong tempe goreng dan coffee mix, tentunya.

Bencana ekologis beberapa waktu yang lalu merupakan sebuah pukulan berat bagi kami, dimana penyebabnya adalah karena deforestasi yang massif terjadi di Indonesia, khususnya di daerah kami.

Banyak pihak men-denied bahwa penyebab bencana ini adalah karena faktor deforestasi. Bahkan mereka hanya menyebutnya sebagai bencana alam.

Padahal kalau kita mau jujur dan obyektif, diksi yang tepat digunakan adalah bencana ekologis, karena bencana alam terjadi hanya oleh faktor alam sendiri sedangkan bencana ekologis adalah bencana yang terjadi disebabkan oleh adanya campur tangan manusia, yang dalam hal ini adalah perusakan lingkungan berupa deforestasi.

Di hampir semua pulau di Indonesia termasuk pulau Sumatera dan Provinsi Aceh, deforestasi disebabkan oleh pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan juga tambang.

Di sekitar wilayah tempat tinggal kami, komoditi kelapa sawit diusahakan secara massif, baik oleh perusahaan-perusahaan besar maupun oleh rakyat kebanyakan. Buktinya bahkan di sebelah rumah kami ada kebun sawit milik warga setempat yang cukup mengganggu kenyamanan kami.

Untuk membuka perkebunan kelapa sawit tentu harus dilakukan land clearing, dan pastinya akan merusak hutan. Sebagai buktinya adalah material banjir berupa jutaan ton kayu, bahkan ada kayu dengan diameter 2 meter dan memiliki nomor penandanya yang hanyut dibawa air banjir.

Jadi mau dibantah dengan argumentasi apalagi? Sementara buktinya bisa dilihat dengan kasat mata di berbagai tempat yang menjadi lokasi terdampak bencana ekologis ini.

Para cukong dan pemilik modal mendapatkan dua keuntungan sekaligus, dapat kayu dan juga bisa menanam sawit. Sedangkan rakyat biasa yang menanggung akibatnya seperti yang terjadi di akhir bulan November tahun kemarin.


IMG20260104112013.jpg

Menjemur cover mobil

Aku bekerja membereskan gudang belakang kami sampai menjelang waktu sholat Zuhur dan makan siang, dan setelah selesai makan siang dan sholat Zuhur, aku istirahat sebentar di kamar sambil menyiapkan postinganku untuk hari ini.

Kemudian aku melanjutkan pekerjaanku untuk membereskan rumah serta barang dan perlengkapan kami secara pelan-pelan saja, karena banyaknya barang dan perlengkapan yang harus dibereskan.

Sore ini aku juga menjemur cover mobil kami yang sempat basah, karena siang ini cuaca cukup mendukung untuk menjemur pakaian ataupun barang-barang lainnya.


IMG20260104112031.jpg

Kolam ikan koi

Setelah selesai menjemur cover mobil, aku melanjutkan membersihkan teras depan dan samping kolam ikan koi kami, yang juga ikut tergenang oleh endapan lumpur saat bencana ekologis terjadi bulan yang lalu.

Saat ini, endapan lumpur masih memenuhi kolam ikan koi kami. Dan sepertinya aku akan mempertimbangkan untuk tidak lagi memfungsikan kolam ikan koi tersebut, karena sudah dua kali banjir besar terjadi dan menghanyutkan ikan-ikan koi kami.

Rencananya aku akan mengubah kolam ikan koi ini sebagai teras aja dan difungsikan sebagai tempat santai dan menerima tamu saja.

Saat ini kami memiliki tiga unit kolam ikan, dan yang masih difungsikan hanya satu, yaitu kolam di sebelah selatan rumah, yang diisi dengan ikan nila merah. Sedangkan kolam di sebelah Utara rumah mungkin nantinya akan aku jadikan aviary mini atau kadang ayam saja.


Tampak depan
Ruang tengah
Kamar mandi

Pembersihan lumpur di rumah adik

Setelah membereskan teras depan dan kolam ikan koi, aku menuju rumah adik yang berada di samping rumah ibu kami, yang juga terdampak oleh banjir kemarin dulu.

Rumah mereka baru saja selesai dibangun sebelum banjir, bahkan belum sempat ditempati, karena banjir datang lebih dahulu.

Rencananya mereka akan menempati rumah ini dalam waktu dekat sehingga mereka mulai membersihkan endapan lumpur yang masih ada didalam rumah mereka.


IMG20260104163318.jpg

orderan Flashdisk

Sore ini aku menerima orderan barang dari TikTok, yaitu sebuah flashdisk dengan kapasitas 1 tera byte, yang sudah aku order cukup lama, tetapi baru datang hari ini, setelah sempat tertunda pengirimannya.

Padahal aku memesannya bersaman dengan charger handphone untuk mobil. Tetapi charger tersebut sudah tiba sebelum akhir tahun, sedangkan flashdisk ini baru tiba hari ini.


IMG20260104171746.jpg


IMG20260104171801.jpg

Membersihkan parit

Setelah selesai sholat ashar, aku menuju jalan didepan rumah untuk membersihkan endapan lumpur yang ada di parit depan rumah kami.

Parit di depan rumah kami tergenang oleh endapan lumpur, yang membuat aliran air di parit ini menjadi macet dan tersumbat.

Bila hujan sebentar saja maka halaman rumah kami akan kembali tergenang oleh air, sehingga kami harus membersihkan endapan lumpur di parit ini sesegera mungkin.

Begitulah kegiatan dan keseharian kami pasca bencana ekologis yang terjadi pada bulan November kemarin, yang harus membereskan rumah dan kediaman kami secara swadaya.

Sementara banyak pihak masih men-denied bahwa penyebab sebenarnya bencana ekologis ini adalah karena deforestasi yang massif, seperti halnya data-data yang berasal dari penelitian berbagai LSM lingkungan, seperti, WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) yang merupakan organisasi lingkungan hidup non-pemerintah terbesar dan tertua di Indonesia, Green peace dan lain-lain.


Sekian postinganku kali ini. Stay Healthy and Fun, Ciao...!

Regards

@ alee75

Ciptakanlah keindahan di dalam hati Anda, dan keindahan di sekitar Anda akan mengikuti - Jalaluddin Rumi

We invite you to support @pennsif.witness for growth across the whole platform through robust communication at all levels and targeted high-yield developments with the resources available.
Click Here
Sort:  

This is a very strong and eye-opening post. You explained clearly why this should be called an ecological disaster and not merely a natural one. The real-life evidence you shared—especially about land clearing, palm oil plantations, and the flood impacts—makes it impossible to deny the reality of deforestation. I truly admire your resilience in rebuilding step by step despite limited resources. Posts like this are important because they raise awareness and remind us that environmental damage always returns to affect human life. Thank you for sharing this powerful and honest experience. 🌱

 8 days ago 

Cuando hay deforestación hay daños ,y no solo ecológico sino también en hogares. Y espero que pronto puedas realizar las reparaciones en tu hogar y todo quede como antes

 7 days ago 

Terima kasih teman atas harapan anda untuk kami. Deforestasi memang berdampak luas, bahkan untuk negara-negara di sekeliling kami ataupun dunia, karena hutan alam di negara kami adalah salahsatu penopang ekologis yang cukup besar bagi iklim dunia.