Incredible India Monthly Contest of January #2: Protective vs. Possessive!

Two "P" seem so simple, but why am I having such a hard time explaining them? It's a dynamic: if I remain silent and indifferent, my wife gets angry and thinks I don't care, even though we just got back together after a minor argument a few days ago because I was seen as being intimately monitoring her activities on her smartphone. I'm really confused... 🤣🤣
Proteksif dan Posesif adalah perasaan berbeda pada dua individu berbeda, antara; pemegang kehendak dan penerima kehendak, atau takut kehilangan subjek dan, takut terkuasai sepenuhnya sebagai objek.
Manusia bukan bunga atau benda yang diperlakukan seperti properti setelah memilikinya. Hak atas pemilik hanya menyiram, merawat dan menjaga agar tumbuh dengan aman. Jika makna dari dua huruf "P" dikorelasikan secara bijaksana mungkin pihak penerima manfaat akan merasa benar-benar di butuhkan dan dihargai, artinya "eksistensi lahir karena merasa memiliki dan dibutuhkan."
Tanpa ragu aku mengatakan bahwa; wanita senang disanjung, dilindungi dan diposisikan sebagai ras teristimewa. Hal ini lumrah sebagai bagian dari kebutuhan psikologis, asalkan ia mendapatkan ruang sebagai manusia merdeka.

Pandangan saya tentang Protektif dan Posesif;
Protektif adalah kontrol sosial bersifat rasional dalam bentuk kepedulian untuk menjaga, merawat dan melindungi tanpa membatasi hak otonomi dan hak kebebasan pasangan atau orang-orang terdekat. Atau, upaya memberi kebutuhan perlindungan fisik dan batin kepada orang-orang yang terikat hubungan emosional dan kepada mereka yang dianggap rentan.
Posesif secara emosional bukan hanya bermakna mudah "cemburu" tapi hasrat mendalam untuk memiliki dan menguasai eksistensi orang lain, atau memanfaatkan eksistensi objek lain demi kepentingan dirinya. Bahkan "2P" ini sering diberlakukan oleh orang tua pada anak-anak mereka baik dalam keadaan sadar maupun tidak.
Beberapa alasan dibalik sifat Posesif dalam suatu hubungan;
Pertama; Kecemburuan berlebihan (Posesif) pada pasangan lahir karena hasrat untuk menguasai dan rasa takut, dua hal ini adalah tekanan yang menyebabkan kesalahan memaknai "kepemilikan" sehingga memposisikan pasangan sebagai properti atau aset, bukan sebagai subjek yang bebas.
Kedua; Manusia adalah subjek otonom yang menyenangi pujian dan perhatian, tapi juga menyukai kebebasan dan tidak senang atas intervensi berlebihan dari orang lain atau pasangannya. Salah satu kebutuhan dasar; setiap manusia memiliki kendali dan tanggungjawab atas dirinya, sehingga upaya-upaya untuk menguasai dan menjadikan pasangan sebagai objek kepemilikan penuh akan ditolak oleh prilaku dasar manusia (fundamental) karena dianggap sebagai tekanan dan pembatasan atas hak kebebasan.
Ya, Saya percaya kedua "P" ada dalam setiap pasangan, termasuk Pro dan Kontra;
Protektif dan Posesif berlebihan tidak ada korelasi untuk saling mendukung atau dijalankan secara bersama-sama karena terhalangi oleh perbedaan cara menggunakan akal oleh si pemegang kehendak dan si penerima.
Seperti pada tulisan awal, dimana pasangan kita sebagai penerima kehendak pada dasarnya mengakui bahwa protektif dan posesif adalah implementasi dari rasa memiliki dan tanggungjawab. Meskipun batasan keduanya (2P) sangat tipis namun konsekwensi justru lahir dari kekeliruan cara "mengistimewakan" sehingga pasangan bukan merasa nyaman tapi merasa dikendalikan secara utuh.
selesai..!
Terlepas dari itu,,
Dalam konteks politik istilah ini tidak tertulis kecuali dalam bentuk sindiran (metafora) publik yang menggambarkan sebuah kekuasaan dijalankan secara posesif. Yakni, pemangku jabatan merasa memiliki hak mutlak atas jabatan atau kekuasaan sehingga berupaya mengendalikan dan mendominasi suatu organisasi secara berlebihan agar patuh dan tunduk pada setiap keputusan.
Sekian... Terima kasih banyak atas kunjungan dan mungkin anda membacanya..
salam,
@ridwant
https://x.com/i/status/2017183687285284895
Curated by : @walictd
Terima kasih adinda @walictd 🙏
Thank you @sergeyk 🙏