Biar demikian hidup tetap harus berjalan
Hai sahabat stemians semuanya, selamat datang di blog saya @suryati1 semoga kabarnya pada sehat dan bahagia semuanya ya,
Setelah melakukan pekerjaan saya di dapur dan selesai sarapan saya ingin keluar rumah sebentar karena di rumah sepi apalagi sekarang sedang mati lampu, rumah juga sedang basah akibat bocor karena hujan semalam, selama musim hujan sebelum banjir keadaan rumah ku tidak ada kenyamanan sama sekali.

Anak-anak bulu sedang tidur nyenyak di kasur
Selama itu juga aku sering keluar rumah dan duduk di bale-bale dan mencari sinyal handphone sekedar menelpon anakku, saat hendak keluar aku melihat kedua kucing ku sedang tidur di kasur dengan nyenyaknya, aku suka menggoda si Utih kalau sedang tidur dan dia suka marah beda dengan adiknya si mo dia akan diam saja.
Di luar rumah tetangga ku sedang memetik daun melinjo katanya ingin memasak kuah pliek, aku juga di minta membantu memotong sayuran, kemudian memasak sayur tersebut dengan di bantu kakak ipar ku, setelah masak kami membagikan sama rata dengan beberapa tetangga yang lain.

Menyiapkan bahan-bahan untuk memasak
Aku pun makan siang dengan kuah pliek tersebut bersama dengan suamiku sementara anak-anak makan siang dari makanan MBG yang sudah beberapa hari di bagikan pasca banjir, anak-anak senang dan menunggumu makanan tersebut setiap hari kecuali hari Sabtu dan Minggu.
Sore hari aku pergi finger dan pulang lewat rumah kakak karena ingin mengantar tikar untuk menjemur padinya yang basah aku juga membawa kuah pliek yang ku masak tadi siang untuknya serta ikan mujair yang di jaring suamiku di kerambak, karena hari ini setelah suamiku makan siang dia pun pergi ke kerambak untuk menjaring ikan.

Hasil tangkapan di kerambak, bukan bandeng tapi mujair yang masuk ke kerambak kami
Ikannya lumayan banyak sehingga kami jual dan sebagian lagi untuk kami makan, setelah ashar aku dan suamiku langsung pergi namun sampai ke rumah kakak sudah azan magrib, kami tidak bisa membawa kenderaan dengan cepat karena jalan sangat licin, sepanjang jalan juga banyak lubang-lubang sehingga sangat susah untuk di lewati.
Sampai di Alue ie puteh dada saya terasa sangat sesak dan kepala saya mulai sakit, saya sangat sedih menyaksikan pemandangan yang menyayat hati terpampang jelas di depan mata bagaimana menderita nya mereka setelah mengalami banjir bandang beberapa waktu lalu, rumah mereka masih berlumpur.

Lumpur masih mengenang area sawah
Listrik juga padam sehingga sangat sulit mendapatkan air untuk membersihkan lumpur tersebut, jalan paya cicem pun sangat susah untuk di lewati karena masih banyak lumpur dan kendaraan harus sabar mengantri untuk melewati jalan ini.
Walaupun desa kami juga mengalami banjir namun tidak separah mereka, saat ini kami sudah berada di rumah dan lumpur pun sudah kering, sebagian lumpur yang kering sudah di angkut dan di jadikan tanah timbun sehingga kalau pun hujan tidak licin lagi halamannya,
Sepanjang jalan aku juga melihat banyak pohon sawit yang di taman dan awalnya bukan masalah sekarang malah menjadi petaka terbesar, bagaimana tidak di hutan sekarang sudah tidak ada lagi pepohonan yang ada sekarang lahan sawit sehingga tidak ada lagi yang menguatkan tanah dengan akar-akarnya dan longsor pun terjadi, tak ada lagi yang menyerap air sehingga menjadi banjir.
Dulu kita di jajah tapi hutan tidak di gunduli, tapi sekarang lihat siapa dan siapa yang di jajah, penjajah sesungguhnya adalah bangsa kita sendiri dan benar kata Almarhum abu Tumin sebelum beliau berpulang ke Rahmatullah dan sekarang sudah jadi kenyataan.
Sekian postingan saya hari ini, terimakasih sudah singgah dan meluangkan waktu untuk membacanya, wassalam.












Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
Terimakasih temanku atas dukungannya 🙏🌹