Banjir hari keempat

Hagoe's Village: Nov, 28th 2025
Banjir hari ini sudah memasuki hari keempat di desa kami, dan kami masih terisolir dari informasi dan kondisi keluarga serta sanak saudara kami yang tinggal di beberapa tempat, termasuk anak kami yang sedang menempuh pendidikan sarjananya di Banda Aceh.
Listrik masih padam dan kami hanya mengandalkan lilin buatan dari bahan minyak goreng dan cotton Bud sebagai penerangan di malam hari.
Jaringan internet masih down sehingga kami tidak bisa berkomunikasi, walaupun baterai handphone ku masih ada, dikarenakan memiliki power bank di rumah.
Aku hanya menghidupkan handphone sesekali saja untuk melihat sinyal serta mengambil beberapa foto untuk menulis postingan nantinya.
Bangun pagi pun badan terasa pegal-pegal karena tidur berhimpitan diatas kasur yang dikelilingi oleh air banjir yang menggenangi rumah kami sejak empat hari yang lalu.
Di kecil sedang menulisAku bangkit dari tempat tidur dan melihat kondisi dan ketinggian air banjir yang masih lumayan didalam rumah. Apalagi di halaman dan sekeliling rumah kami yang masih cukup tinggi.
Semua anggota keluarga ku sudah bangun termasuk si kecil Alvira yang mengeluarkan buku tulis dari kamar tidur kami.
Dia pun duduk diatas sebuah dipan yang belum tergenang oleh air dan mulai menulis sambil menunggu sarapan pagi yang disiapkan oleh istriku pagi ini.
Entah apa yang ditulisnya? Aku pun tidak sempat melihatnya karena aku sedang membantu bundanya untuk menyiapkan sarapan pagi kami.
Sarapan ditengah banjirDi hari keempat banjir, stok makanan kami sudah terbatas. Hanya ada beras, beberapa bungkus mie instan dan sejumlah bahan makanan lainnya.
Begitu pula dengan gas melon yang sudah menipis sehingga memaksa kami untuk memasak menggunakan kayu bakar yang tidak ikut terendam air.
Kami tidak men-stok bahan makanan terlalu banyak karena kami tidak menyangka kalau banjir akan separah dan selama ini.
Makan siang dengan mie instanHampir semua ruangan dalam rumah kami sudah tergenang oleh air banjir setinggi 50 centimeter. Hanya tersisa gudang belakang rumah yang lebih tinggi daripada bagian rumah lainnya.
Sebagian barang-barang didalam rumah telah ku pindahkan ke gudang sejak hari pertama banjir. Dan setelah sarapan pagi ini aku menuju gudang belakang rumah untuk membuat para-para dengan bahan yang ada sebagai langkah antisipasi bila banjir naik lebih tinggi lagi.
Setelah selesai membuat para-para dan tempat tidur darurat di gudang belakang, aku membantu istriku menyiapkan makan siang kami.
Masih dengan menu mie instan dan sedikit bahan lainnya yang masih tersisa di rumah kami selama banjir berlangsung.
Si kecil bermain sendirianBadanku cukup lelah setelah membuat para-para dan tempat tidur darurat di gudang belakang. Dan setelah makan siang aku mencoba istirahat sebentar di gudang belakang.
Si kecil Alvira mengikuti ku ke gudang belakang karena disana dia bisa bermain untuk menghilangkan rasa bosannya.
Walaupun ia hanya bermain sendirian di dekat kucing kami yang tidur disampingnya, karena aku mencoba tidur siang sebentar diatas tempat tidur darurat yang ku buat tadi pagi.
Kondisi banjir di belakang rumahWalaupun aku mencoba tidur tetapi mataku tidak mau terpejam juga. Ya, nggak apa-apa juga. Yang penting badanku sempat beristirahat sebentar walaupun tidak tidur.
Lagian aku memang tidak pernah tidur siang sejak beberapa tahun terakhir. Kalaupun di kamar, hanya golek-golek saja untuk istirahat badan.
Aku pun melihat kondisi air banjir melalui jendela gudang belakang rumah kami. Dan ternyata belum surut juga.
Air banjir masih menggenangi kandang kambing milik adikku yang berada di belakang rumah kami.
Kondisi banjir di teras depanDi sore hari kami hanya duduk-duduk di ruang depan rumah sambil melihat kondisi banjir di halaman depan rumah kami.
Tidak banyak yang bisa kami lakukan ditengah banjir seperti ini, dimana didalam rumah dan sekeliling rumah kami masih ada air yang cukup tinggi.
Air hanya surut sedikit saja, sementara hujan masih turun mengguyur desa kami yang membuat kami masih was-was akan adanya potensi air naik lagi.
Mie instan untuk makan malamSore ini kami mendapatkan mie instan yang diberikan oleh tetangga kami yang dititipkan melalui adikku, saat adik sedang mencari dedaunan untuk makanan kambing miliknya dengan menggunakan sampan.
Ditengah kondisi seperti ini kami masih saling membantu berbagi makanan kepada sesama tetangga kami.
Dan untuk makan malam kami di hari ini kami terpaksa memasak mie instan yang diberikan oleh tetangga kami, karena stok makanan lain sudah menipis.
Listrik masih padamKami makan malam lebih cepat dari biasanya, karena bila tidak maka kami akan kegelapan saat makan, karena listrik masih padam di kawasan tempat tinggal kami.
Kami hanya mengandalkan lilin buatan sederhana untuk penerangan di malam hari. Dan untuk makan malam ditengah kondisi seperti itu tentu tidaklah mudah, sehingga kami mempercepat waktu makan malam kami.
Sekian postinganku kali ini. Stay Healthy and Fun, Ciao...!
@ alee75
Click Here 









No puedo imaginar lo duro que han sido estos días para ti y toda tu familia, espero que en estos momentos ya la situación esté resuelta.
Qué bueno que en estos momentos tan difíciles puedes contar con buenos vecinos y familia que te apoya.
Saludos y bendiciones!
Terima kasih atas keprihatinan anda, teman. Saat ini banjir sudah surut di tempat tinggal dan desa saya. Kami harus membereskan lumpur dan sampah-sampah yang ada di sekeliling kami.
Membersihkan lumpur di jalan
Sementara di beberapa tempat lainnya masih terisolir dan sangat memperihatinkan.
Terima kasih atas keprihatinan anda, teman. Saat ini banjir sudah surut di tempat tinggal dan desa saya. Kami harus membereskan lumpur dan sampah-sampah yang ada di sekeliling kami.
Membersihkan lumpur di jalan
Sementara di beberapa tempat lainnya masih terisolir dan sangat memperihatinkan.
Qué difícil que estén viviendo toda esta situación, lo bueno es que ya el agua retrocedió y todo lo demás se irá solucionando.
Fuerza y fe!!