SLC-S31/W1-“Creative Interpretation| The Word (Invisible)”

in Steem4Nigeria5 hours ago

Invisible.png


I love the rain, but not tonight, when your departure makes me enjoy it in a different way. Here, behind the rain-fogged windowpane, we often watch the lights of vehicles below, often mistaken for a thousand dancing fireflies. You often hug me from behind, and we always love that feeling. Hugging me from behind while enjoying the fireflies below through the foggy glass is a luxurious atmosphere we share.

Your fingers always trace my initials and yours on the glass. Initials enclosed in a love symbol. "Soon, the symbol of love will disappear with the dew, but not our love. It will never disappear. Our love is like dew, always appearing every morning."

You said that sentence so often that it felt like a mantra, until I could memorize it word for word. It became a strengthening mantra, one that made life beautiful and passionate.

But now that mantra hurts, the rain outside has turned into iron needles pouring from the sky and piercing my heart. And here I am tonight, alone, reminiscing about the rain and the stories we once wove together.

This morning we parted as usual. After enjoying breakfast, we warmed each other with a warm hug. Your scent was still the same as ever; my nose had already memorized it. You planted a loving kiss on my forehead, bowing deeply because my height only reached your chest.

"Love should speak, that's the title of a short story my friend wrote. So, I never get tired of telling you how much I love you," you said softly, half whispering.

I replied with an unusual sentence, because we hate repetition, except for the mantra behind the window. Then we parted ways, heading to our respective offices, which were located in different directions, so we could never leave together.

We never imagined this morning would be our last meeting. I still received messages from you upon arriving at the office. You described the world in chaos, the sound of sirens wailing. After that, I received news from a news portal that your office was among those hit by a missile attack that afternoon!

I received the sad news from your work colleague that you were among the missing victims. Your office was destroyed and collapsed to the ground. As of last night, the search and evacuation of victims was ongoing. But you were still missing.

Behind the rain-blurred windows, I was still waiting for a miracle in deep sorrow. Many phone calls and messages came in, from who knows who. I didn't respond. I wanted to be alone with you in this invisible shadow.

Behind the windowpane, as wet as my eyes, I wished you were here, hugging me from behind, then scrawling our initials and a love symbol on the fogged glass.


That's the story born from my imagination. I invite @lirvic, @yuswadinisam, and @munaa to join this challenge. Thank you so much.[]


01.jpg

6c417055-9aa7-4950-a2b2-61f9cb733db6.jpeg


SLC-S31/W1-“Creative Interpretation| The Word (Invisible)”

Aku suka suasana hujan, tapi tidak malam ini ketika kepergianmu membuatku menikmati hujan dengan cara berbeda. Di sini, di balik kaca jendela yang berembun karena hujan, kita sering melihat cahaya kendaraan di bawah sana yang sering kita anggap seribu kunang-kunang yang sedang menari. Kamu sering memelukku dari belakang dan kita selalu suka suasana itu. Memeluk dari belakang sambil menikmati kunang-kunang di bawah sana melalui kaca buram akibat embun, adalah suasana mewah milik kita bersama.

Jemarimu selalu menggoreskan inisial namaku dan namamu di kaca. Inisial yang dikurung tanda cinta. “Sebentar lagi lambang cinta itu akan hilang bersama embun, tapi tidak dengan cinta kita. Tidak akan hilang. Cinta kita seperti embun, selalu muncul setiap pagi.”

Kamu sering mengucapkan kalimat itu hingga terasa seperti mantra, sampai aku bisa menghapalnya, kata demi kata. Kalimat itu menjadi mantra yang menguatkan, yang membuat hidup menjadi indah dan bergairah.

Tapi sekarang mantra itu terasa menyakitkan, hujan di luar sana berubah menjadi jarum-jarum besi yang ditumpahkan dari langit lalu menusuk hatiku. Dan di sinilah aku malam, sendiri mengenang hujan dan cerita yang pernah kita rajut bersama.

Pagi tadi kita berpisah seperti biasa. Setelah menikmati sarapan, kita saling memberikan kehangatan dengan pelukan yang hangat. Aroma tubuhmu masih sama seperti dulu, hidungku sudah menghapalnya. Kamu mendaratkan kecupan penuh kasih di keningku dengan menunduk dalam karena tinggi tubuhku hanya sampai di dadamu.

“Seharusnya cinta berkata, itu judul cerpen temanku dulu. Jadi, aku tak pernah bosan untuk mengatakan betapa aku mencintaimu,” ucapmu lembut, setengah berbisik.

Aku membalasnya dengan kalimat tak biasa, sebab kita membenci pengulangan, kecuali mantra di balik jendela. Lalu kita berpisah, menuju kantor masing-masing yang terletak di arah berbeda sehingga kita tidak pernah bisa berangkat bersama.

Kita tidak pernah menyangka, pagi tadi adalah pertemuan terakhir kita. Aku masih menerima pesan darimu setibanya di kantor. Kamu menggambarkan situasi dunia yang sedang kacau, suara sirine menderu. Setelah itu aku mendapat kabar dari sebuah portal berita bahwa kantormu termasuk yang terkena serangan rudal siang itu!

Aku mendapat berita duka dari kawan sekantormu bahwa kamu termasuk salah satu yang menjadi korban hilang. Kantormu hancur dan runtuh ke bumi. Sampai tadi malam, pencarian dan evakulasi korban terus dilakukan. Tapi kamu tetap belum ditemukan.

Di balik jendela yang buram oleh hujan, aku masih menunggu keajaiban dalam duka mendalam. Banyak panggilan telepon dan pesan masuk, entah dari siapa. Aku tidak menanggapinya. Aku ingin berdua dengan sosokmu dalam bayangan yang tak terlihat ini.

Di balik kaca jendela yang basah seperti mataku, aku berharap kamu ada di sini dan memelukku dari belakang, lalu menggoreskan inisial kita dan tanda cinta di kaca yang berembun.


Begitulah kisah yang lahir dari imajinasiku. Aku mengundang @lirvic, @yuswadinisam, dan @munaa untuk meramaikan tantangan ini. Terima kasih.


IMG_8465.JPG