Keadilan ekologis : kembalikan hutan kita

in STEEM FOR BETTERLIFE8 days ago

IMG20260118163915.jpg

div.png

Hagoe's Village: Jan, 18th 2026

Semua orang menginginkan keadilan dalam berbagai aspek kehidupan, baik ekonomi, pendidikan, kesempatan kerja dan lain sebagainya, termasuk keadilan ekologis, dimana kita juga harus mewariskan bumi dan alam ini kepada generasi mendatang.

Hampir dua bulan pasca bencana ekologis yang cukup dahsyat melanda tiga provinsi di Sumatera, saat ini publik Indonesia masih terbelah terkait penyebab utama bencana tersebut.

Di era digital ini, perang narasi menjadi kunci utama, dimana yang memiliki sumber daya dan dana bisa "memonopoli" dan menguasai informasi yang berkembang dalam masyarakat.

Keterbelahan yang terjadi di dalam masyarakat sebenarnya sengaja diciptakan oleh pemilik modal dan pihak-pihak yang selama ini mengambil keuntungan dari eksploitasi sumber daya alam, dan sebenarnya adalah pelaku perusak hutan yang menyebabkan negeri ini mengalami bencana silih berganti.

Fakta dan data telah terpampang secara telanjang terkait kerusakan alam dan hutan, baik dari pandangan masyarakat awam maupun kajian ilmiah dan berbagai penelitian dari banyak pihak yang memiliki concern terhadap isu-isu lingkungan hidup.

Tetapi dalam masyarakat, isunya bahkan dibelokkan dari substansinya termasuk memasuki wilayah SARA (Suku, Agama dan Ras), dimana banyak netizen yang menghujat Suku Aceh, yang notabenenya adalah daerah terdampak parah dari bencana ekologis kemarin.

IMG20260118075323.jpg

Di kamar

Sebagai warga yang terdampak bencana ekologis kemarin, kami bisa melihat dengan nyata fakta bahwa kejadian bencana kemarin itu disebabkan oleh adanya deforestasi, yang ditandai dengan material banjir berupa kayu-kayu gelondongan di hampir seluruh wilayah yang terkena banjir.

Apalagi di era digital ini, kita bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang kerusakan hutan yang terjadi di daerah kami karena adanya tambang maupun perkebunan sawit yang cukup massif, yang artinya telah terjadi pembukaan lahan baru dan penggundulan hutan yang massif juga.

Setelah hampir dua bulan pasca bencana ekologis, kondisi daerah Aceh belum pulih lagi, dan sebagiannya masih dalam kondisi yang memperihatinkan.

Begitu pula dengan kondisi kami yang notabenenya hanya mengalami dampak yang tergolong sedang. Tetapi kami masih disibukkan dengan proses recovery pasca banjir.

Pagi ini setelah selesai sholat subuh, aku tetap berada di kamar dan mulai mencicil membuat postingan ditengah kondisi yang masih fresh.


IMG20260118082808.jpg

Sarapan pagi

Setelah menyelesaikan sebuah postingan, aku menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk ku sendiri berupa segelas kopi espresso panas tanpa gula dan juga telor rebus.

Untuk sarapan anggota keluarga yang lain, si kakak telah menyiapkannya, karena bundanya masih belum fit pasca diopname di rumah sakit sejak hari Senin yang lalu.

Usai sarapan pagi, aku menuju gudang belakang rumah kami untuk membuatkan tali jemuran agar si kakak bisa menjemur pakaian-pakaian kami sekeluarga.

Pasca istriku dirawat di rumah sakit, tentu cukup banyak pakaian kotor yang harus dicuci dan tentu membutuhkan tali jemuran yang lebih banyak agar bisa menjemur pakaian-pakaian setelah dicuci dan di press di mesin cuci.


IMG_20260118_095740.jpg

Di ruang tengah

Ketika aku membuatkan tali jemuran di gudang belakang rumah ternyata cukup menguras energi serta membuatku berkeringat di pagi ini. Dan setelah selesai membuat tali jemuran, aku istrahat sebentar di ruang tengah rumah kami.

Aku mendengarkan lagu-lagu di YouTube dan sempat juga menyanyikan beberapa lagu (berkaraoke ria) untuk menghilangkan rasa capek sebelum melanjutkan kegiatan ku di siang ini.


IMG20260118163923.jpg

Si kecil dan sepupunya

Kemudian aku menuju belakang rumah kami untuk mencoba membuat parit buangan yang sempat tertutup oleh endapan lumpur pada kejadian bencana banjir di bulan November tahun kemarin.

Parit ini merupakan saluran pembuangan dari kamar mandi kami menuju parit besar di halaman rumah kami. Namun ketika banjir datang dan endapan lumpur telah menutupinya maka saluran pembuangan kami tidak berfungsi lagi.

Dan resikonya, air buangan dari kamar mandi akan mengalir tanpa arah, bahkan sebagiannya akan masuk ke dapur ibu yang terletak di sebelah rumah kami.

Sudah lama aku ingin memperbaiki parit buangan dan kondisi ini, tetapi hal tersebut terkendala oleh endapan lumpur yang masih lembek sehingga tidak memungkinkan aku untuk membuat dan menggali parit buangan yang baru.

Dan disiang ini aku mencobanya kembali walaupun hasilnya belum maksimal karena konsistensi endapan lumpur masih agak lembek.

Pekerjaan ini cukup melelahkan sehingga aku beristirahat sebentar di depan rumah adikku yang baru saja selesai dibangun, tetapi belum sempat ditempati karena keburu datang banjir.

Ponakan kami yang baru saja tiba di rumah nenek mereka juga sedang bermain di halaman rumah adikku bersama si kecil Alvira.


IMG20260118170741.jpg


IMG20260118170751.jpg

Membereskan tanaman

Aku beristirahat sebentar untuk makan siang dan melaksanakan sholat Zuhur di hari ini. Dan beberapa saat kemudian, aku mulai melanjutkan kegiatanku untuk membereskan halaman rumah kami.

Di halaman rumah kami ada beberapa jenis tanaman yang aku tanam seperti bunga dan lain-lain. Tetapi semuanya menjadi berantakan ketika banjir datang dan menggenangi rumah kami selama seminggu.

Dan pasca banjir tersebut tentu menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi kami untuk membereskan rumah kami.


Screenshot_2026-01-18-14-14-08-89.jpg

Informasi cuaca

Cuaca di sore ini terlihat cukup cerah dan sesuai dengan harapan kami, agar aku bisa membereskan rumah kami pasca bencana ekologis yang lalu.

Dari informasi yang dirilis oleh pihak BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), memang mengindikasikan bahwa cuaca di di wilayah kami cenderung cerah dan berawan.

Bahkan ada juga peringatan tentang kondisi ekstrem (pantauan titik api) di beberapa wilayah di sekitar wilayah kami, yang sedikit banyak akan berpengaruh kepada wilayah kami.

Kondisi yang demikian mencerminkan posisi dilematis di daerah kami, dimana ada ancaman banjir dan tanah longsor di musim penghujan dan kekeringan saat musim kemarau tiba.


Screenshot_2026-01-18-15-36-46-26.jpg

Rakernas Gerakan Rakyat

Setelah membereskan halaman rumah, aku beristirahat di rumah sambil menonton YouTube agar bisa mengikuti perkembangan yang ada.

Ternyata ormas Gerakan Rakyat yang digagas oleh simpatisan Anies Baswedan (calon presiden yang lalu), saat ini sudah mendeklarasikan diri sebagai sebuah partai politik dengan nama Partai Gerakan Rakyat.

Dan Anies Baswedan sendiri didapuk sebagai anggota kehormatan dari partai ini, yang secara tegas menyatakan bahwa Anies Baswedan adalah tokoh inspiratif yang ditokohkan mereka.

Secara terang-terangan pula partai ini menyatakan bahwa Partai Gerakan Rakyat dibentuk sebagai wadah perjuangan dan kendaraan politik bagi Anies Baswedan sebagai calon presiden masa depan dengan ide-ide dan gagasan yang akan diperjuangkan.

Pendirian partai politik ini dilaksanakan pada acara Rakernas I Gerakan Rakyat, dimana Anies Baswedan menyampaikan pidato dengan tema Keadilan ekologis: Kembalikan hutan Indonesia.

Nah, aku cukup terkesan dengan pemaparan Anies Baswedan pada acara ini, yang memang sangat relevan dengan realitas dan kondisi Indonesia saat ini.

Walaupun banyak pihak mengesampingkan dampak deforestasi atau menyangkalnya tetapi partai ini menyatakan dengan tegas tentang kerusakan hutan dan alam yang terjadi, yang seharusnya menjadi concern kita semua.

Seharusnya pemerintah melakukan berbagai langkah yang signifikan untuk mengembalikan fungsi hutan Indonesia yang sudah terlanjur rusak oleh kegiatan tambang dan juga perkebunan kelapa sawit.

Bukan kita tidak butuh tambang dan kelapa sawit, tetapi data menunjukkan bahwa massif nya kegiatan tambang dan perkebunan kelapa sawit tidak memberikan kontribusi yang signifikan kepada kemakmuran rakyat.

Artinya gegap gempitanya usaha pertambangan dan perkebunan kelapa sawit hanya semakin memakmurkan sebagian kecil warga negara (hanya oligarki dan pemilik modal), sedangkan yang merasakan dampak dari kerusakan hutan dan alam adalah rakyat kebanyakan.

Jadi pantas jika kita menuntut keadilan ekologis untuk semua warga negara bahkan anak cucu kita dimasa yang akan datang.


IMG20260118221826.jpg

Anak-anak membeli durian

Aku bersiap-siap untuk melaksanakan sholat magrib di rumah saja pada hari ini, setelah makan malam bersama keluarga ku.

Seperti biasa ketika voting powerku sudah penuh, aku mulai membuka platform steemit, membaca beberapa postingan dan melakukan kurasi.

Selebihnya aku hanya istirahat saja di kamar sambil menonton video YouTube sebelum tidur, yang sudah menjadi kebiasaan ku selama ini.

Sekitar pukul 10 malam, si kecil Alvira diajak oleh abangnya ke Simpang Rangkaya untuk membeli dimsum. Tetapi kemudian mereka malah membawa pulang buah durian. Akhirnya mereka pun makan durian menjelang tengah malam ini.


Sekian postinganku kali ini. Stay Healthy and Fun, Ciao...!

Regards

@ alee75

Ciptakanlah keindahan di dalam hati Anda, dan keindahan di sekitar Anda akan mengikuti - Jalaluddin Rumi

We invite you to support @pennsif.witness for growth across the whole platform through robust communication at all levels and targeted high-yield developments with the resources available.
Click Here