You are viewing a single comment's thread from:
RE: Pesta pernikahan di kampung ku🥳
Tetapi di tempat kami masih ada tradisi seperti ini, biar pun miskin tetap merayakan pesta pernikahan walaupun tidak meriah dan mengundang kerabat dekat saja,
Sekarang semua barang juga serba mahal sehingga kita kesulitan dalam bidang ekonomi, seperti yang saya katakan semua sudah di kuasai oleh pemerintah sehingga rakyat jadi menderita.
Seperti yang saya adakan menjelang puasa tahun lalu, acara Sunnah rasul untuk kedua putra saya yang hendak di sunat dan mengadakan acara sedikit dan mengundang kerabat dan tetangga dekat.
Kalau tidak ada acara seperti ini anak-anak ngak ada yang mau di sunat 🤭, acara seperti ini tidak semua orang juga yang melakukannya, ada juga yang tidak tapi mereka cuma melakukan tepung tawar saja.
Menurut saya, sangat tidak mungkin anak-anak rela tubuhnya dipotong hanya karena sebuah upacara yang dirayakan, atau bahkan dirayakan secara besar-besaran. Ini soal keyakinan atau tidak.
Saya ingat beberapa tahun yang lalu betapa rakusnya anak-anak itu; saat itu saya tinggal di Jerman, setelah mengikuti sakramen komuni suci (upacara Katolik). Hadiah-hadiah yang sangat besar dan mahal diberikan, serta banyak uang. Saya terkejut melihat raut wajah yang tidak puas. Saya tidak pernah mengalami hal seperti itu, dan di Belanda pun hal ini tidak dirayakan secara berlebihan dengan hadiah-hadiah yang sangat mahal. Saya senang akan hal itu. Saat ini, jumlah orang miskin lebih banyak daripada orang kaya, dan menjadi miskin sudah lama bukan lagi suatu aib. Itu kenyataannya.
This BOOMING vote is yours and well deserved!
❤️🍀
Terimakasih temanku atas dukungannya semoga sehat selalu dan bahagia dimana pun anda berada