The Diary Game (Sabtu, 14 Februari 2026) Memanen Sawit
سَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Hai sobat steemian semuanya dimanapun anda berada, bagaimana kabar anda hari ini? semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT, Aamiin. Hari ini saya kembali membagikan aktivitas sehari-hari dalam The Diary Game.
Sejak pagi sekali saya telah menghubungi Muhalim tukang panen sawit untuk mengajaknya memanen sawit di kebun milik saya. Hari ini telah lewat empat hari dari jadwal yang seharusnya karena Muhalim sedang bepergian ke Banda Aceh kampung istrinya, dan sepulang dari sana dia mengalami demam selama dua hari.
Setelah ada kepastian dari Muhalim bahwa nanti sore kami akan melakukan panen sawit, saya pergi ke warung kopi untuk membeli kopi susu dan beberapa potong kue sebagai sarapan pagi. Kemudian saya kembali ke tempat usaha untuk melakukan kegiatan rutin.
Hari ini putra saya akan kembali pulang ke rumah setelah pengumuman libur puasa Ramadhan dari pondok pesantren Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam Blang Bladeh Kabuaten Bireun tempat dia menuntut ilmu pendidikan agama.
Seperti yang telah saya putuskan dengan Muhalim tadi pagi, setelah menunaikan ibadah sholat Dhuhur dan makan siang, saya dan putra saya mempersiapkan diri untuk berangkat ke kebun memanen sawit.
Putra saya saya senang karena pada hari kepulangannya bertepatan dengan jadwal panen sawit. Dia berharap banyak banyak gerondolan sawit yang rontok untuk dipilih dan dijual, sebab dia tahu semua hasil penjualan gerondolan sawit akan saya berikan semua kepadanya untuk dipergunakan sebagai uang jajan selama berada di kampung.
Lagi pula putra saya telah memberitahukan bahwa dia akan pergi bersama teman-temannya mengadakan acara bakar-bakar ikan dan ayam. Sebelum berangkat ke kebun, saya meminta kepada putra untuk membeli teh dingin sebanyak tiga bungkus agar bisa diminum ketika lelah bekerja di kebun.
Saat tiba di kebun ternyata Muhallim telah datang duluan dan telah memetik beberapa tandan sawit yang telah matang. Karena telah lewat empat hari dari jadwal panen yang seharusnya, Muhalim mengatakan sangat banyak gerondolan sawit yang rontok dan itu membuat semangat putra saya untuk segera memungutnya dimasukkan ke dalam karung yang dibawakan dari rumah.
Karena banyak gerondolan sawit yang rontok, saya turut ikut memungutnya supaya bisa dan harus habis pada sore ini dan bisa dijual bersamaan dengan tandan sawit yang telah dipanen. Sementara Muhalim terus bekerja memanen sawit yang dibantu oleh adiknya karena kesehatannya belum normal pulih. Setiap pohon sawit mereka jajaki untuk memastikan ada tandan sawit yang matang untuk bisa dipanen.
Alhamdulillah, hasil panen sawit yang didapatkan pada hari ini lebih besar daripada hasil panen sebelumnya. Setelah semua tandan sawit telah selesai dipanen, saya menghubungi toke pengepul tandan sawit untuk mendatangkan mobil pengangkut supaya hasil panen bisa segera dibawa ke tempatnya untuk ditimbang.
Ternyata tidak harus menunggu lama karena mobil pengangkutan tandan sawit telah tiba. Tandan sawit segar segera mereka pungut yang masih tersebar di beberapa titik yang telah dikumpulkan. Beberapa saat kemudian kami bersama-sama meninggalkan kebun dan pergi ke tempat pembelian tandan sawit yang terletak tidak terlalu jauh dari kebun. Tandan sawit diturunkan dari mobil pengangkut dan dilakukan penimbangan.
Beberapa saat lagi azan magrib akan segera berkumandang, saya dan putra saya segera pulang ke rumah untuk mandi dan menunaikan kewajiban ibadah sholat Magrib. Untuk memulihkan tenaga karena lelah bekerja di kebun, saya membeli semangka segar yang dijual di pinggir jalan untuk dibuatkan jus oleh istri.
Demikian cerita singkat saya dalam tajuk The Diary Game pada edisi kali ini. Terima kasih atas waktunya berkenan membaca tulisan saya ini dan memberi dukungan sebagai penyemangat bagi saya untuk selalu menghadirkan karya-karya yang lebih baik lagi.
Semua foto yang ditampilkan pada postingan ini menggunakan;
| camera Picture | iphone |
|---|---|
| Model | 12 Pro Max |
| iOS | 18.6.2 |
| Original picture | @yuswadinisam |
| Location | Nisam, Aceh, Indonesia |
Salam hormat,
@yuswadinisam
















Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
Thank you very much my friend @mahadisalim and team @steemcurator07 for supporting my post