Singgah di Masjid Abu Daud Beureuéh: Mengisi Energi Fisik dan Spiritual
Dua jam lebih membelah jalanan dari Banda Aceh menggunakan sepeda motor, rasa lelah dan pegal mulai menjalar ke seluruh tubuh. Memasuki kawasan Beureunun, Pidie, pandangan saya tertuju pada sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh dan anggun di tepi jalan. Itulah Masjid Baitul A'la Lil Mujahidin, atau yang jauh lebih akrab di telinga masyarakat sebagai Masjid Abu Daud Beureueh. Tanpa ragu, saya membelokkan setang motor untuk singgah sejenak.
Masjid bersejarah ini didirikan pertama kali sekitar tahun 1950–1951 atas prakarsa Teungku Muhammad Daud Beureueh, seorang ulama kharismatik sekaligus Gubernur pertama Provinsi Aceh. Menariknya, pembangunan masjid ini sempat terhenti selama kurang lebih 10 tahun akibat gejolak politik/peristiwa DI/TII di Aceh, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali pada tahun 1963 dan rampung total pada tahun 1973. Salah satu cerita yang paling melekat dalam sejarahnya adalah kerelaan masyarakat Pidie dan sekitarnya yang bergotong-royong mengumpulkan sumbangan material, termasuk gerakan "beras segenggam" untuk mendanai pembangunannya. Kini, masjid megah berarsitektur indah ini telah ditetapkan resmi sebagai situs cagar budaya nasional sejak tahun 2004. (Referensi: Dokumentasi Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI & Ensiklopedia Bebas Wikipedia)
Setelah memarkirkan motor di area parkir masjid yang lumayan luas, kesan pertama saya adalah kagum. Halaman masjid di sekelilingnya tampak begitu lapang, bersih, dan terawat dengan sangat baik.
Langkah kaki kemudian saya arahkan menuju tempat wudhu. Di dekat area tersebut, perhatian saya terhenti pada sebuah makam yang dipagar rapi. Di sanalah tempat peristirahat terakhir sang konseptor masjid sekaligus tokoh besar Aceh, alm. Teungku Muhammad Daud Beureueh. Berdiri di sisinya, saya terdiam sejenak, meresapi karisma sejarah yang tertinggal, lalu mengirimkan untaian doa Al-Fatihah untuk beliau.

Potret Makam alm. Teungku Muhammad Daud Beureuéh
Usai berziarah, saya membasuh diri di tempat wudhu. Begitu air menyentuh kulit, rasanya luar biasa dingin dan bersih. Rasa kantuk dan lelah akibat terpaan angin jalanan langsung sirna begitu saja, digantikan oleh kesegaran yang memulihkan stamina tubuh.

Potret Kulah Tempat Wudhu Masjid

Potret Tempat Wudhu Di Depan Masjid

Potret Tempat Wudhu dan Toilet Wanita

Potret Tempat Wudhu dan Toilet Pria
Menuju pintu masuk masjid, saya disambut dengan selebaran foto doa masuk masjid yang tertempel rapi di pintu masuk masjid, sebuah pengingat kecil yang sangat baik bagi setiap jemaah. Begitu melangkah ke dalam, keindahan interiornya langsung memanjakan mata. Arsitekturnya terasa luas, megah, namun tetap menghadirkan ketenangan yang dalam. Sembari berjalan pelan, saya sempat memotret beberapa sudut indahnya untuk mengabadikan momen singgah ini.

Potret Tempat Sholat Jama'ah Perempuan
Fasilitas di dalam masjid pun sangat ramah jemaah. Tersedia kursi-kursi duduk bagi jemaah lansia atau yang membutuhkan, deretan mukena bersih untuk jemaah perempuan, serta Al-Qur'an yang tertata rapi di rak untuk dibaca.

Potret Kursi Bagi Jamaah yang membutuhkan

Potret Mukena Yang Tersedia Dalam Masjid

Potret Al-Quran Yang Tersedia Dalam Masjid
Di atas hamparan karpetnya yang nyaman, saya menunaikan ibadah sholat sunnah dhuha dengan khusyuk. Setelah salam, saya memanfaatkan waktu beberapa saat untuk merebahkan badan. Sembari meluruskan punggung, saya melakukan stretching kecil dan mengkretek badan secara mandiri untuk melepas sisa-sisa ketegangan otot. Sungguh nikmat tiada tara ketika rasa pegal di punggung perlahan hilang digantikan semilir angin ketenangan di dalam rumah Allah ini.
Setelah dirasa tubuh sudah kembali bugar dan energi terisi penuh, saya bersiap-siap keluar dari masjid. Perjalanan di depan masih panjang, sekitar 4 jam lagi berkendara untuk sampai ke tujuan akhir.
Singgah di Masjid Abu Daud Beureueh memberikan pengalaman yang membekas di hati. Bukan sekadar tempat istirahat fisik, tetapi juga tempat mengisi ulang energi spiritual di tengah penjelajahan bumi Serambi Mekah. Semoga di lain kesempatan, saya bisa singgah kembali ke masjid bersejarah ini.
🕙 Hari dan jam operasi: 24 Jam (Setiap Waktu Sholat Tiba)
📍 Alamat lengkap Masjid Abu Daud Beureu'eh - Baroh Bar. Yaman, Kec. Mutiara, Kabupaten Pidie, Aceh 24151 Peta] https://share.google/WPHXfeceS7IvozLIx
📍Lokasi di Peta Atlas Steem [//]:# (!steematlas 5.28176099 lat 95.97718147 long Masjid Abu Daud Beureuéh d3scr)







