Pentingnya Ilmu dan Akhlak Mulia

in Teachers & Students9 days ago (edited)

Ilmu adalah bekal yang wajib kita tuntut sejak kecil, masa dewasa, hingga raga tak lagi bernyawa. Anjuran untuk belajar memang berlaku sepanjang hayat, mulai dari ayunan hingga kita masuk ke liang lahat.

image.png

Menempuh pendidikan merupakan bagian dari menyadari pentingnya ilmu pengetahuan

Mengapa ilmu pengetahuan begitu penting? Dengan ilmu, insya Allah masa depan akan menjadi lebih cerah dan kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih berkualitas di muka bumi.

Ilmu mempermudah segala urusan, membantu kita mencapai keinginan dengan lebih efisien, serta membawa kedamaian dan ketenangan dalam batin.

Ali bin Abi Thalib pernah berpesan bahwa "Tidak ada kekayaan yang lebih berharga selain ilmu pengetahuan, tidak ada warisan yang lebih mulia selain pendidikan, dan tidak ada penyesalan yang lebih menyedihkan selain kebodohan." Kutipan ini mempertegas bahwa ilmu adalah fondasi utama bagi peradaban manusia.

Keutamaan ini bahkan sudah dicontohkan sejak awal penciptaan manusia. Ketika Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS, Allah sendiri yang menjadi gurunya. Allah membekali Nabi Adam dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan peta harta karun, bongkahan emas, atau lokasi sumur minyak.

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝٣١

Artinya : Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!” (Al-Baqarah · Ayat 31)

image.png

Membangun menara yang menjulang tinggi dan indah seperti ini juga membutuhkan ilmu pengetahuan

Padahal, Allah Maha Kuasa untuk memberikan kekayaan materi tersebut secara instan. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa ilmu jauh lebih berharga daripada harta fisik mana pun dan merupakan bekal terbaik untuk menjalani kehidupan di dunia.

Namun, ada satu hal yang perlu kita ingat: semakin tinggi ilmu yang kita miliki, seharusnya semakin rendah hati pula sikap kita. Ilmu bertugas memperbaiki akhlak dan menjaga moral, bukan justru membuat kita menjadi manusia yang tidak beradab.

Ilmu itu ibarat pohon, sedangkan akhlak adalah buahnya. Pohon yang tumbuh tinggi menjulang namun tidak berbuah tentu tidak akan memberi manfaat bagi orang yang lapar di bawahnya.

Begitu pun manusia; setinggi apa pun gelarnya, jika tidak berakhlak, ia hanya akan menjadi sosok yang angkuh tanpa memberi manfaat nyata. Ini menjadi pengingat bagi kita bahwa ilmu tanpa akhlak tidak akan membawa kemuliaan.

Mari kita belajar dari kisah Iblis. Dahulu, Iblis adalah sosok yang sangat berilmu hingga menjadi guru bagi para malaikat di surga. Namun, ketika Allah SWT memerintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam AS, seluruh malaikat bersujud kecuali Iblis. Ia membangkang dan bersikap sombong karena merasa dirinya lebih baik dan lebih berilmu daripada Adam. Kesombongan inilah yang sering kali menjadi ujian terberat bagi orang-orang yang berilmu.

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ ۝٣٤

Artinya : (Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir. (Al-Baqarah · Ayat 34)

Oleh karena itu, mari kita jauhi sifat sombong dan merasa paling hebat. Mari kita jadikan ilmu yang kita peroleh sebagai sarana untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan suka menolong sesama. Semoga refleksi singkat ini dapat menginspirasi dan memotivasi kita semua untuk terus konsisten menuntut ilmu hingga akhir hayat.