Warga bantu warga

Hagoe's Village: Jan, 20th 2026
Indonesia terkenal dengan budaya gotong royong sejak zaman dahulu, walaupun seiring perkembangan zaman telah terjadi degradasi parsial saat ini.
Tetapi, secara umum semangat bergotong royong masih cukup kental di sebagian besar warga masyarakat di Indonesia yang bisa dilihat dari berbagai aktivitas keseharian masyarakat maupun kondisi khusus seperti bencana dan lain-lain.
Semangat gotong royong ini menjadi roh perjuangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan oleh para pejuang dan pendiri bangsa Indonesia sejak dulu yang diwariskan kepada generasi penerus bangsa.
Fenomena terakhir dengan kejadian bencana ekologis yang melanda tiga provinsi di Indonesia adalah bukti nyata bahwa semangat gotong royong masih terpatri dalam sanubari warga negara Indonesia, dimana sesama warga negara saling membantu dalam menghadapi bencana ini dengan berbagai upaya dan kontribusi yang bisa diberikan.
Saling tolong menolong ini tidak terbatas pada tingkatan atau strata masyarakat tertentu maupun lokasi serta entitas tertentu. Semuanya larut dalam semangat untuk saling tolong menolong meskipun mereka sendiri juga merupakan korban terdampak dari bencana ini.
Sarapan pagiMasih dalam semangat tolong menolong ini, pada hari ini aku akan mengikuti kegiatan gotong royong di sebuah lokasi yang telah ditentukan oleh pemerintah daerah.
Pemerintah kabupaten Aceh Utara telah menginstruksikan kepada para ASN agar mengikuti kegiatan gotong royong sesuai dengan jadwal dan lokasi yang telah dibuat, dalam rangka melakukan pembersihan fasilitas umum seperti sekolah-sekolah, mesjid-mesjid, pesantren dan fasilitas umum lainnya.
Untuk itu aku akan menuju lokasi yang telah ditentukan untuk mengikuti kegiatan tersebut di pagi ini setelah sarapan pagi di rumah dengan menu sederhana saja.
Singgah di mesjidAku berangkat dengan menggunakan motor bersama adikku dan membawa peralatan kerja seadanya. Dan kami singgah di sebuah warung kopi yang ada di desa kami untuk membeli air mineral dan juga mie Caluek untuk snacks kami saat melakukan gotong royong nantinya.
Dengan penuh semangat kami menuju lokasi kegiatan di kecamatan Baktya, tetapi kemudian kami harus singgah di sebuah mesjid agar tidak kena tilang oleh polisi, karena kami hanya menggunakan satu helm saja.
Setelah polisi lalulintas berangkat dari lokasi kemudian kami segera menuju lokasi kegiatan gotong royong di hari ini.
Mie CaluekSekitar pukul 08.15 wib aku dan adikku sudah tiba di lokasi kegiatan gotong royong pada hari ini yaitu di Dayah Tinggi Samudera Pasee, dimana Dayah ini merupakan salahsatu fasilitas pendidikan yang terdampak oleh bencana banjir kemarin.
Saat aku tiba di lokasi, ternyata belum satupun peserta gotong royong yang hadir. Padahal aku sempat berpikir bahwa aku sudah telat tiba di lokasi, karena terhalang oleh polisi lalulintas di jalan.
Sambil menunggu para peserta gotong royong yang lain hadir, aku beristirahat sebentar di sebuah warung kopi di depan Dayah Tinggi Samudera Pasee sambil menikmati Mie Caluek yang aku bawa tadi.
Di depan Dayah Tinggi Samudera PaseeBeberapa saat kemudian, beberapa ASN dan staf dinas kami sudah tiba di lokasi, yang disusul oleh para ASN lain di Kabupaten Aceh Utara untuk sama-sama melaksanakan gotong royong di Dayah ini.
Kami membawa perlengkapan kerja yang ada agar bisa membersihkan endapan lumpur yang ada di lokasi ini, dimana menurut informasi dari pimpinan Dayah bahwa ketinggian air banjir di lokasi ini sekitar dua meter (sama dengan kondisi di tempat tinggal ku).
Berbeda dengan tempat kediaman kami yang memang menjadi langganan banjir sejak dulu, lokasi ini belum pernah terdampak banjir sebelumnya.
Tetapi pada kejadian bencana ekologis kemarin, daerah ini ikut terdampak cukup parah, yang jejaknya masih bisa dilihat pada hari ini.
Membersihkan endapan lumpurKami bekerja secara bersama-sama membersihkan endapan lumpur yang masih ada di kompleks Dayah Tinggi Samudera Pasee ini dengan peralatan yang ada.
Endapan lumpur yang sudah mengeras kami angkut dan kami pindahkan ke belakang bangunan yang permukaannya lebih rendah., sehingga halaman depan sudah terlihat lebih rapi.
Selain membersihkan endapan lumpur yang ada di halaman depan bangunan Dayah, sebagian dari peserta gotong royong itu juga membersihkan ruangan kelas dan juga kamar para santri di Dayah ini.
IstirahatKetika sudah capek, kami berhenti sebentar untuk beristirahat sambil menikmati Kopi dan juga kue-kue yang disediakan oleh pihak Dayah.
Pekerjaan ini dilanjutkan oleh para ASN yang lain secara bergantian sampai dengan waktu tengah hari dimana para ASN yang melaksanakan kegiatan gotong royong sudah mulai bubar.
Aku ikut melaksanakan gotong royong semampuku karena aku sudah berulang kali mengalami sakit karena kecapean ketika membereskan rumah kami, rumah ibuku serta rumah mertuaku yang ikut terdampak banjir.
Di rumah @bahrolAku tidak langsung pulang ke rumah setelah ikut bergotong royong di lokasi ini, karena aku berniat mengunjungi keluarga ibuku yang tinggal tidak jauh dari lokasi ini.
Mereka juga belum pernah mengalami bencana banjir seperti ini. Tetapi kemarin ikut mengalaminya dengan kondisi yang lebih kurang sama dengan yang kami alami.
Bahkan mereka harus mengungsi ke Meunasah setempat selama beberapa hari dan mengalami sejumlah kerugian materi karena bangunan rumah rusak, kendaraan bermotor dan barang-barang lainnya.
Keluarga yang kami kunjungi pada siang ini adalah Mak cikku yang juga mertua dari @bahrol. Karena kami sama-sama mengalami bencana, maka kami belum sempat saling berkunjung pasca bencana.
Dan karena kebetulan aku sedang berada di lokasi yang dekat dengan rumah mereka maka aku sekalian melihat kondisi mereka.
Membeli siomaiMenjelang waktu sholat Zuhur, aku dan adikku pamit kepada Mak cik untuk pulang ke rumah kami di Matangkuli.
Kegiatan gotong royong tadi cukup menguras energi dan stamina sehingga aku harus pulang untuk istirahat dan melaksanakan sholat Zuhur di rumah.
Setibanya di rumah aku mencoba menyiapkan postinganku sambil beristirahat. Dan setelah selesai sholat ashar barulah aku kembali keluar rumah bersama si kecil Alvira dengan tujuan untuk mengisi Pertamax mobil kami.
Dalam perjalanan pulang si kecil Alvira juga membeli siomay kesukaannya di Simpang Parang Sikureueng. Dan kemudian kami segera kembali ke rumah.
Membakar sampahSesampai di rumah aku segera memarkirkan mobil di garasi, lalu mengganti pakaian dan kemudian membantu istriku yang sedang membersihkan halaman rumah kami.
Aku mengangkut sampah-sampah yang telah terkumpul dan kemudian membawanya ke luar halaman rumah agar bisa dibakar.
Beberapa saat kemudian aku segera bersiap-siap untuk melaksanakan sholat magrib, karena waktu sholat magrib akan segera tiba.
Sekian postinganku kali ini. Stay Healthy and Fun, Ciao...!
@ alee75
Click Here 












Congratulations! This post has been voted through steemcurator08 We support quality posts, good comments anywhere and any tags.