Mengunjungi adik ipar yang terkena musibah banjir

Saat hendak berangkat ke tempat adik ipar
Hai sahabat stemians semuanya, selamat datang di blog saya @suryati1 semoga kabarnya pada sehat dan bahagia semuanya ya, saat ini kami sedang mengalami musibah banjir dan itu sangat menyedihkan bagi kami, tapi kami tidak patah semangat untuk bangkit kembali.
Hari ini aku bersama keluarga dari suamiku pergi mengunjungi salah satu anggota keluarga yaitu adik dari suami yang tertimpa musibah banjir beberapa waktu lalu, tidak lupa pagi-pagi sekali saya pergi absen terlebih dahulu kemudian menemani suami ngopi sambil saya membalas beberapa komentar teman-teman.

Keadaan sepanjang jalan yang kami lalui
Setelah selesai saya mencoba membuat postingan namun tidak sempat saya selesaikan karena saya harus pulang dan membantu memasak di rumah ibu mertua yang nantinya akan kami bawa ke tempat adik ipar yang akan kami kunjungi.
Kami memasak nasi, membuat sambal udang, menggoreng ikan dan juga membuat sayur santan serta peyek udang, jam 11 kami sudah selesai memasak dan bersiap-siap untuk berangkat, anak-anak beserta beberapa orang anak gadis naik becak, sementara kami naik kereta.

Tempat dia menyelamatkan diri malam kejadian

Pakaian semua tersapu banjir dan berlumpur

Tinggi airnya seperti yang di tunjukkan adikku
Awalnya sempat hujan gerimis namun tidak lama kemudian hujan gerimis pun berhenti dan kami semua berangkat beriringan, anak-anak sangat gembira naik becak, setiba di daerah Panton Labu suasana menjadi sedikit menegangkan apalagi dengan keadaan banyak toko yang masih tutup.
Barang-barang sudah bertumpuk-tumpuk di depan toko dengan lumpur yang sangat tebal, sungguh pemandangan yang sangat tinggi enak di pandang namun semua itu tidak mungkin bisa di bersihkan dengan mudah mengingat persediaan air yang kurang.

Makan siang bersama, apa yang kami bawa dari rumah
Jalan yang biasa dilalui dan nampak bersih sekarang berlumpur dan sangat susah untuk di lewati dan kalau tidak hati-hati maka siap-siap kita berpelukan dengan aspal, sepanjang jalan menuju kediaman adik ipar aku melihat tidak ada rumah yang luput dari lumpur.
Sepanjang jalan hanya terlihat pakaian berlumpur, tempat tidur dan masih banyak lagi, seperti mobil, kereta yang terendam air sehingga hanya terparkir begitu saja seperti kota mati, jalannya yang sangat licin akibat gerimis membuat kenderaan berjalan seperti siput.
Sampai di rumah adik ipar, ternyata keadaan memang sangat menyedihkan tak ada pakaian yang tersisa kecuali yang melekat di badannya saja, beruntung kami membawakan beberapa pakaian bekas untuknya kalau yang baru tentu saja kami tidak punya, rumahnya di ruang tamu dan kamar saja yang sudah bersih selain itu masih berlumpur.
Aku juga melihat loteng rumah yang sudah bolong dimana waktu banjir kemarin dia naik ke sana untuk menyelamatkan diri selama 2 hari tanpa ada makanan, hanya ada bakso di dalam kulkas yang sudah terapung, dia meraihnya dan memberikan kepada anak-anaknya.
Sementara itu adiknya di samping rumah sudah naik ke tumpukan padi dan air sudah sepinggang, dia berdiri di sana selama 2 hari juga tanpa tidur sama sekali, setelah banjir berkurang dia turun dan kaki-kakinya sudah berkeriput terendam air, adik ipar ku yang berada di atas loteng hanya melihat saja tanpa bisa menolongnya sama sekali.

Kota Panton labu seperti kota mati(zombie)
Mungkin hari ini mereka tertawa saat bercerita namun waktu mengalami banjir kemarin mereka tidak berhenti berdoa untuk keselamatannya dengan air mata, saya saja mendengar cerita mereka tak henti berurai airmata karena terharu dengan kisah pilu mereka.
Sekian postingan saya hari ini, terimakasih sudah singgah dan meluangkan waktu untuk membacanya, wassalam.




Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
Terimakasih temanku atas dukungannya 🙏