Semangka yang Terbelah oleh Alam

Suatu pagi, ketika matahari baru saja mulai menampakkan sinarnya,saya berjalan ke kebunnya dengan membawa pisau kecil dan keranjang rotan. Hari itu, ia berencana memetik beberapa semangka yang sudah matang. Ia sudah memperhatikan beberapa buah yang kulitnya mulai berwarna gelap dan terdengar nyaring ketika diketuk—tanda bahwa isinya sudah manis dan siap dipanen.
Namun, ketika ia tiba di tengah kebun, ia dikejutkan oleh pemandangan yang tak biasa. Salah satu semangka terbesar yang tumbuh di dekat pagar ternyata sudah terbelah sendiri! Retakannya sempurna, membelah buah itu menjadi dua bagian, memperlihatkan daging merahnya yang segar dan berkilauan di bawah sinar matahari. Aromanya yang manis langsung tercium oleh saya.
Subhanallah, ini luar biasa, saya dengan penuh keheranan. Ia berjongkok dan mengamati buah itu lebih dekat. Semangka itu matang dengan sempurna, dan cairannya menetes perlahan dari serat-serat dagingnya yang merah merona.
saya lalu mengambil salah satu bagiannya dan mencicipi sepotong kecil. Rasanya sungguh luar biasa—manis, segar, dan sangat lezat, Ia tersenyum lebar, merasa sangat bersyukur atas hasil panen yang begitu baik tahun ini.
Dengan hati-hati, ia mengangkat dua belahan semangka itu dan meletakkannya di dalam keranjangnya. Setelah itu, ia memetik beberapa buah lain yang juga sudah matang. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus berpikir tentang semangka yang terbelah sendiri itu. Mungkin karena tekanan air dalam buah yang sudah terlalu penuh, atau mungkin ini adalah hadiah dari alam karena ia merawat kebunnya dengan sepenuh hati.



