Pedesnya Kebun Cabeku

in WhereIN2 hours ago

Di pojok kebun belakang, ada dua pohon cabe yang dari awal nggak kelihatan istimewa. Batangnya kecil, tingginya juga nggak sampai selut. Kalau dilihat sekilas, mungkin orang bakal bilang “ah, itu nggak bakal banyak buahnya”.

Eh ternyata dia paling rajin.
Sekarang buahnya lebat sekali. Tapi belum masak, masih hijau, panjang, tapi padat di setiap cabang. Sepertinya dia ingin buktikan, "Aku kecil, tapi aku nggak kosong.”

Aku jadi ketawa sendiri pas melihatnya.
Soalnya kita sering ngukur orang, ngukur diri, dari tinggi, dari besar, dari yang keliatan.
Padahal yang ngasih rasa, yang bikin hidup pedes dan berwarna, kadang datang dari yang paling nggak disangka.

Cabe ini nggak butuh tinggi buat berbuah banyak. Dia cuma butuh tanah yang cukup, air yang nggak telat, dan waktu buat tumbuh tenang.

Aku jadi inget, kadang kita juga gitu.
Ngerasa diri kurang, ngerasa nggak cukup keliatan. Tapi kalau dijaga baik-baik, hal kecil di kita bisa kasih dampak yang nggak kecil.

Besok kalau sudah merah semua, sepertinya bisa dipetik buat sambal. Bayangkan saja, pedesnya asli dari tangan sendiri.
Pedesnya bikin melek, tapi rasanya bikin bangga.

Buat teman Wherein yang lagi merasa kecil, merasa nggak cukup, lihat cabe ini ya.
Dia nggak tinggi, tapi dia lebat.
Dia nggak besar, tapi dia berarti.

Salam kompak selalu.

By @midiagam

WhereIn Android