Ubah Persepsi atau Kita akan tertinggal
Salah satu yang menghambat kemajuan adalah pola berpikir yang defensif, takut mengambil resiko dan nyaman berada pada zona aman. Tayangan Rhenald Kasali shubuh tadi saat saya masih berkutat dengan kerjaan kurikulum menyadarkan saya tentang pentingnya meletakkan persepsi pada porsi yang benar jika perlu ubah orientasi persepsimu.
Berkisahlah beliau tentang sosok Jusuf Kalla yang berhasil meyakinkan pemindahan Bandara Polonia Medan ke Kuala Namu setelah digagas oleh Gubernur Tengku Rizal Nurdin kemudian mangkrak sekian tahun akibat berbagai hal yang tidak mampu didobrak terutama kondisi sosial masyarakat dan kekuatan politik yang mencari aman-aman saja. Kejadian jatuhnya pesawat Mandala Air tahun 2005 di kawasan padat penduduk Padang Bulan Medan karena Bandara Polonia berada dekat dengan pemukiman itu, menyebabkan 117 orang dalam pesawat (salahsatunya Gubernur Rizal Nurdin) dan 49 orang lainya di pemukiman meninggal seketika dan menghanguskan sedikitnya 5 rumah penduduk, mempercepat proses pemindahan Bandara Polonia ke Kuala Namu. Jusuf Kalla berhasil meyakinkan persepsi masyarakat dan politikus di sana bahwa Bandara Polonia sangat tidak layak lagi dipertahankan sebagai jalur transportasi udara yang padat karena landasan pacunya tidak dapat diperpanjang lagi akibat berdekatan dengan kawasan padat penduduk.
JK yang memang terkenal jago diplomasi meyakinkan masyarakat, direktur BUMD di kuala namu serta pengambil keputusan di sana bahwa pemindahan bandara harus segera dilakukan terlebih jika Sumut ingin daerahnya maju. Kendala utama yang muncul saat itu adalah masyarakat sekitar Kuala Namu enggan melepas tanahnya dengan harga murah, sementara Pemerintah Daerah tidak bergeming dengan harga yang ditawarkan.
Tidak butuh waktu lama bagi JK meyakinkan hal tersebut, melihat harga yang memang tidak layak, JK meminta kembali Pemda untuk meninjau harga dan mengubah istilah, jangan "Ganti Rugi" tapi "Ganti Untung", mengganti tanah utk negara lalu memperoleh keuntungan, termasuk membuka lahan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar. Persepsi masyarakat berubah, Bandara Kuala Namu nan megah dengan gaya bangunan Eropa berdiri indah di daerah yang dulunya jarang sekali dikunjungi orang, daerah yang mgkn terkenal menakutkan di Sumut, tp menjadi daerah yang sekarang begitu nyaman. Bandara Kuala Namu merupakan Bandara kedua terbesar di Indonesia setelah Soekarno Hatta, data ini belum termasuk Bandara di Jabar yang baru saja diselesaikan oleh Pemerintah Jokowi JK setelah lama digagas oleh Pemerintah SBY JK.
Pengalaman diplomasi JK yang merubah cakrawala berpikir bukan saja tentang keberhasilannya di Sumut. Lebih 30 tahun Aceh dilanda konflik berkepanjangan, tidak terhitung lagi berapa nyawa melayang, kadang terasa seperti sandiwara, tapi sangat horor, tak elok saya ceritakan bagaimana aniaya terjadi live di hadapan keluarga. Banyak orang yang putus asa tentang kedamaian di bumi Aceh. Bahkan ayah saya pernah berkesimpulan, ada pembiaran konflik di Aceh yang bisa jadi menguntungkan suatu pihak, ini adalah proyek berdarah yang tidak pernah menjamin nyawa seseorang bisa selamat. JK berdiri sebagai pemimpin yang kemudian mampu meyakinkan setiap pihak bahwa konflik di Aceh harus dihentikan, kedua belah pihak mengerucut pada proses perdamaian meski sering ragu dan curiga untuk berdamai, bahkan setelah ratusan ribu nyawa melayang akibat tsunami, termasuk para kombatan GAM yang ikut meninggal dalam musibah terbesar di Indonesia.
JK pada tahun 2005 meyakinkan petinggi GAM dalam proses diplomasi bahwa jika perang dilanjutkan maka masyarakat Aceh yang jadi korban, karena perangnya tak bergeser tetap di Aceh, lalu apakah masyakat Aceh mau berperang sesama Aceh karena sebagian TNI yang diturunkan juga dari suku Aceh, tapi jika ingin berdamai, maka perdamaian itu ada di Aceh, bagi kedamaian masyarakat Aceh pula. JK merubah persepsi berperang dengan indahnya perdamaian. Meja perundingan yang alot berubah humanis saat kedua belah pihak menurunkan egonya demi kepentingan besar, kemaslahatan masyarakat. Kini, Aceh sedang mengejar ketertinggalan dari daerah lain di Indonesia, bisa jadi karena berdamainya telat, tapi jika tidak berdamai, tentu saja masih jauh tertinggal.
Dalam sekup yang kecil, untuk bidang studi yang saya ampu, Matematika, juga demikian. Jumpa pertama dengan siswa saja sudah mulai skpetis dengan kesulitan bidang studi ini. Pertemuan pertama dengan siswa di kelas saya selalu mengajak mereka melihat Matematika dari persepsi yang berbeda, persepsi kebermanfaatannya dalam kehidupan, sisi humanis dan sosial Matematika, bahkan sisi religius dari Matematika. Karena pernah siswa saya menantang, "emang kalau bisa Matematika masuk surga ?, apa pentingnya pelajaran Matematika kalau sekedar berhitung ?, kalkulator juga bisa membantu". Saya merubah persepsi Matematika yang horor itu dengan kenyataan di dalam kehidupan kita, Matematika sangat applicable, Matematika juga menyenangkan, misteri yang indah. Bahkan jika tak bisa Matematika lalu menjadi pengambil keputusan bias-baru masuk neraka. Karena kita semua pemimpin, di tangan kita ada keputusan.
Setidaknya saya merasa lega, siswa saya meski tidak berprestasi hebat di bidang Matematika, namun tidak membencinya sampai akhir hayat.
Persepsi mengubah cara pandang kita yang berdampak pada keputusan-keputusan hidup yang kita ambil, bukan pekerjaan sederhana saja.




Informasi yang sangat bagus pak @atafauzan79
terima kasih