Mendalami Krueng Aceh: Semacam Hobi Baru

in #indonesia8 years ago (edited)

image

Banda Aceh adalah kota air. Berabad-abad silam, ketika Kerajaan Aceh Darussalam masih menjadi satu negara terkuat di Asia Tenggara, Banda Aceh adalah satu bandar yang menggunakan sungai dan kanal sebagai jalur transportasi, selain jalur daratnya.


Deretan kalimat di atas adalah apa yang pernah disebut oleh Dedy Satria alias Dedy Besi suatu kali waktu. Dedy Satria merupakan arkeolog yang banyak mendalami sejarah Aceh berdasarkan penelitian-penelitiannya terhadap benda atau situs-situs bersejarah. Lamuri adalah salah satu situs yang sampai sekarang masih ditelitinya, dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun.

Sejak mendengar pernyataan Dedy, aku seperti punya semacam hobi berjalan-jalan di pinggir Krueng Aceh seorang diri. Krueng adalah kata bahasa Aceh yang berarti sungai. Tidak hanya itu, hingga sekarang aku masih berupaya mencari literatur dan data-data yang bisa menjelaskan (membuktikan) apa yang disebutkan si arkeolog.

Kota yang cantik adalah kota yang tahu benar memanfaatkan sungai yang ada, dan mahfum banyak bagaimana mengelola jalur-jalur air atau kanal yang mengular di sekujur tubuhnya.

Setidaknya itulah yang kupahami dari perkataan Dedy Satria ketika menjelaskan betapa pentingnya sungai dan kanal bagi sebuah kota. Dan itu sudah pernah dilakukan oleh endatu-endatu Aceh berabad silam.

Itu sebabnya, ketika duduk ngopi di kedai kopi Cek Yuke yang letaknya tepat di pinggir Krueng Aceh--tepat pula seberang Kodam-- aku kerap membayangkan, sejatinya Banda Aceh adalah setara dengan London yang punya sungai Thames. Bisa menyandingkan diri dengan Kota Paris yang dibelah sungai Seine. Boleh jadi juga Banda Aceh bisa bertukar cerita tentang keindahan kotanya dengan Kota Shanghai yang dilintasi sungai Huangpau di tengahnya.

image

image

Sayangnya, yang kubayangkan itu barangkali hanya pernah berlaku pada zaman kerajaan saja, dan mustahil terjadi lagi pada masa sekarang. Krueng Aceh, khususnya di daerah pusat kota, sepertinya, hanya boleh dikuasai tentara belaka. Kuta Alam dan Peuniti dua daerah pinggir sungai telah diduduki asrama tentara dan polisi militer. Begitu pun kawasan Peunayong; mulai jembatan Pante Pirak hingga belakang Hotel Medan telah menjadi markas Kodam Iskandar Muda.

Di daerah-daerah yang sangat strategis itu, barangkali, jangankan orang sipil atau turis datang untuk sekadar menikmati suasana pinggir sungai. Kambing pun enggan mendekat saat kebelet makan meski ada rumput hijau menghampar di depan sana.

image

image

Keindahan pinggir sungai yang bersisa dan dapat dinikmati khalayak ramai hanyalah di lintasan jalan Cut Meutia saja. Itu pun, dengan harap-harap cemas karena bisa saja Polresta yang berkantor di samping gedung Bank Indonesia mengkapling tanah pinggir sungai, yang entah untuk keperluan apa.[]

Sort:  

Bereh that rakan..

Kiban hai rakan? Peu haba sagoe nyan? Kuyakin kuh inan leubeh brat bereh lom. 😁

@mrainp420 has voted on behalf of @minnowpond. If you would like to recieve upvotes from minnowpond on all your posts, simply FOLLOW @minnowpond. To be Resteemed to 4k+ followers and upvoted heavier send 0.25SBD to @minnowpond with your posts url as the memo

Mantap adoe semoga sukses selalu @ilyasismail Aceh Timur

Sabah beurayeuk, aduen @ilyasismail. Beu sukses keu droeneuh, keu keluarga dan rakan-rakan sinan mandum.

Ironis sekali dimana sungai yg merupakan sarana publik kok seperti ada pemilik.....

Sangat-sangat ironis memang bg @elneddy. Tapi apa mau dikata, orang Kodam punya kuasa, dan Pemerintah Aceh yang juga punya kuasa, sepertinya tak sempat berpikir tentang urusan ini. Mungkin mereka yang berkuasa tak pernah tahu bagaimana nikmatnya mandi sungai melebihi nikmat mandi di kolam renang. 😀

Aceh sayang lagee Aneuk Hana sabohna lawetnyoe.

Tulisannya kurang "greget" dibandingkan tulisan sebelumnya bro @bookrak . . .

Iya bang @fajrieffendi. Tulisan ini hanya sekali tulis, tanpa baca ulang, tanpa dipermak lebih lanjut, tapi langsung upload dan memang terkesan buru-buru. Mesti diakui menulis asal-asalan harus dibuang jauh-jauh. Terimakasih banyak sudah memberikan pandangannya, bang. Akan jadi semacam motivasi untuk terus belajar dengan komentar seperti ini.

Iya bang @fajrieffendi. Tulisan ini hanya sekali tulis, tanpa baca ulang, tanpa dipermak lebih lanjut, tapi langsung upload dan memang terkesan buru-buru. Mesti diakui menulis asal-asalan harus dibuang jauh-jauh. Terimakasih banyak sudah memberikan pandangannya, bang. Akan jadi semacam motivasi untuk terus belajar dengan komentar seperti ini.