You are viewing a single comment's thread from:
RE: Begini Cara Cari Uang Tergampang di Dunia: Petingkah Steemian Kita
Sebenarnya ini lebih tertuju buat aku sendiri, mbak. Scrolling tulisan2ku di awal sewaktu pertama bikin akun, bikin aku sadar, "waduhhh..aku sepragmatis ini rupanya ya." Jadi malu dan kesal sendiri. Hehe..
Bagus kamu @bookrak bisa melakukannya... coba tanya levy dan aiqa mereka pun dulu pernah demikian, dan lalu menyadari kesalahan karena menjadi plagiat akan mematikan diri sendiri... yang parah itu yang ngotot dan terlalu malu mengakui sehingga terjebak, pada akhirnya nanti akan rugi sendiri... lebih enak karya original sendiri, toh terbukti karyamu memang patut diacungi jempol.
Iya mbak. Akhirnya semua emang sadar dan percaya, bahwa berproses itu penting. Berproses dalam artian terus belajar untuk meningkatkan kualitas, dan ga melulu mikir ngejar kuantitasnya saja.
Itu dia! Salah satu alasan saya keluar dari dunia media adalah karena saya merasa terkurung diburu oleh kuantitas dan kekakuan yang membuat saya tidak bisa bernafas serta tidak bisa mengekspresikan diri sesuai dengan diri saya, terutama lagi karena media saat ini sudah "terkepung" oleh kapitalisme. Di dalam menulis, tidak ada kata berhenti belajar walau sudah merasa mampu dan hebat, karena kalau berhenti maka habislah semua pemikiran dan kreatifitas.
Apa yang bisa kita harapkan dengan media sekarang, mbak? Hampir tak ada. Untunglah Indonesia ada banyak figur seperti Setnov dan Tiang Listriknya. Kalau tidak, waduh. Tiap hari redaksi media gaduh besok mau nulis apa, mau nulis apa? Haha