Ingat Bhinneka Tunggal Ika, Dong!

in #indonesia8 years ago

Sudah lama kita masuk ke era globalisasi, di mana salah satu alasannya adalah karena kesadaran bahwa memang harus ada kerjasama di dunia ini, semua pasti ada kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Namun sepertinya masih banyak yang terjebak dengan kehidupan di masa lampau, di mana masih ada rasa keakuan yang begitu tinggi sehingga cenderung menjadi rasis terhadap yang lain. Tentunya ini memalukan, karena tidak begitulah seharusnya kita hidup sebagai manusia. Jika benar terhormat, maka tahu persis bagaimana menghormati orang lain yang berbeda.


Sumber: http://detak.co/detail/berita/urgensi-membumikan-bhinneka-tunggal-ika-dan-pancasila

Jika pernah tinggal atau paling tidak berjalan-jalan dan belajar budaya masyarakat di Pulau Jawa, tentunya akan paham dengan apa yang saya maksud. Soalnya, memang berbeda! Jangankan beda propinsi, satu propinsi dengan suku yang sama saja bisa berbeda-beda. Contohnya bahasa Sunda orang di Bandung, Bogor, dan Banten, walaupun sama-sama berbahasa Sunda, tetapi tetap saja berbeda bahasa yang digunakan. Masing-masing punya ciri khas dan logatnya sendiri-sendiri. Belum lagi yang di daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, seperti di daerah Tegal, mereka punya bahasa sendiri yang disebut dengan “Bahasa Ngapak”. Orang Jawa Tengah dan Jawa Timur pun tidak sama, Jawa Tengah dan Yogyakarta saja, beda kok, budayanya. Betawi pun punya lima bahasa berbeda, walaupun sama-sama di seputar wilayah Jakarta.

Nah, anehnya, saya bingung kalau orang bilang orang Jawa. Apa yang dimaksud adalah orang dari Pulau Jawa, orang Jawa Tengah, Jawa Timur, atau yang dari mana, nih?! Begitu juga bila ada yang bilang orang "Sumatera", ntar dulu, pulau Sumatera itu sangat luas dan semua daerah memiliki juga budaya dan adat istiadatnya masing-masing. Perbedaan itu ada dan persamaan juga ada di seluruh Indonesia ini, salah satu contohnya adalah soal dukun dan ritual-ritual magis itu ada di seluruh Indonesia, berikut dengan segala adat dan upacaranya. Walaupun berbeda-beda saja caranya, tetap saja sama juga. Pada dasarnya memang kita memiliki budaya animisme yang kuat, dan itu adalah agama yang sangat tua dan menjadi akar dari budaya serta adat istiadat yang sulit dihilangkan.

Jika urusannya adalah soal orang jahat dan baik, ya di mana-mana juga ada. Jika orang luar PulauJawa bilang orang Jawa yang jahat, maka di Pulau Jawa juga ada tuduhan bahwa orang dari Sumateralah yang kasar. Nah loh! Sama-sama tidak jelas! Sebenarnya, bagaimana sih ini?! Kan, di setiap tempat juga ada yang baik dan buruk, tergantung kepada masing-masing manusianya saja. Tidak baik, kan, menuduh orang lain, apalagi kalau menuduh orang sesuku dan sepulau, waduh gawat!

Buat saya pribadi, yang sudah sangat “gado-gado” tidak sanggup untuk menerima generalisasi seperti ini, terlebih lagi kita sudah hidup di era yang memang pencampuran itu sudah terjadi di mana-mana sehingga sudah sepatutnya kita bisa lebih bisa bijaksana. Saya malah pusing jika masih ada yang merasa “paling baik” dan “paling hebat’, karena itu justru adalah bentuk kesombongan yang bisa merusak dan menjatuhkan sendiri. Apa bedanya dengan rasisme yang selama ini kita lawan dan tolak?! Rasis terhadap suku dan orang dari daerah lain, ya tetap saja rasis!

Di sisi lain, jika kita mau saja belajar, maka kita bisa melihat bagaimana anjuran dan contoh itu sudah dilakukan oleh para Nabi dan pendahulu kita di jaman dulu. Mereka tidak menikah atau memilih pasangan hanya dari kaum mereka saja, kan? Lagipula hasil dari perkawinan campur lebih aman dibandingkan dengan perkawinan dari lingkungan dekat, resikonya terlalu tinggi, seperti kasus masalah penyakit turunan, idiocy, dan lainnya. Jadi memang apa yang diajurkan dalam kitab-kitab suci itu benar adanya, dan memang terbukti. Aneh saja jika memang benar yakin tapi masih melawan juga.

Ini berdasarkan pengalaman pribadi saja, rasanya capek juga jaman sudah sedemikian majunya tapi masih harus ada urusan seperti ini. Belum lagi ditambah bumbu-bumbu urusan politik kekuasaan dan lain sebagainya yang membuat kita semakin mudah dipecah belah. Dunia semakin tua, kok, ya bukannya semakin dewasa manusia di dunia ini. Sampai jodoh yang katanya memang diatur Allah pun harus diatur sedemikian kerasnya oleh manusia. Apa yang salah, sementara semua adalah makhluk ciptaan Allah, menghina orang lain sama artinya dengan menghina Allah yang sudah menciptakan. Apa sudah sanggup membuat manusia sendiri?!


Sumber: http://redaksiindonesia.com/read/tiada-tunggal-ika-andai-bhinneka-tinggal-duka.html

Yakin saja bahwa setiap perbedaan itu adalah anugerah dan rahmat, tidak usah takut dengan perbedaan sampai harus sampai rasis berlebihan. Tidak ada yang untung dari sifat berlebihan! Lagipula, jangan terlalu cepat mengambil keputusan, coba pelajari dulu, lain dulu lain sekarang. Jangan sampai kita terus hidup dengan bayang-bayang masa lalu dan tidak mampu maju ke depan hanya karena ketakutan dan ketidakyakinan kita sendiri, lalu kemudian terus menghakimi dan menunjuk jari. Yuk ah, berubah! Malu!

Bandung, 24 Mei 2018

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

Sort:  

menurut saya perbedaan itu adalah suatu keindahan seperti pelangi, tercipta dari berbagai warna sehingga indah sekali..🌈💕

Bener Bangeet kak @mariska.lubis gk perlu bahas perbedaan diantara kita. Sudah menjadi sunatullah kita hadir di muka bumi ini dengan ras dan suku-suku yang berbeda. Karena perbedaan itu Rahmat dari Sang Pencipta, bahkan Qur'an menyatakan

"Manusia diciptakan berbeda agar saling mengenal antara suku dan Bangsa."

Setiap manusia tidak memiliki fisik yang benar-benar sama. Setiap orang akan memiliki Sidik jari yang berbeda, Rambut warna Mata dan Kulit. Bayangkan Jika kita wajah manusia di Bumi semua sama. Kayak Mesin dan Robot keluaran Honda. Dan pasti membosankan.

Bhineka Tunggal Ika karena perbedaan itu adalah Rahmat dari yang Maha Kuasa. Salam by @azroel. Thank you

Perbedaan memang indah ya teh, saya sendiri tinggal di perbatasan Jabar-Jateng, bahasanya campuran jawa-sunda. Saya sendiri ngapak teh Kaya mas @tusroni, pokoke "Ora ngapak, ora kepenak"😊😊😊😊

Saya pun memiliki pengalaman tentang hal ini. Ketika saya hidup di Aceh, saya dikatakan orang Jawa. Tetapi ketika di Sulawesi dan Brebes saya dikatakan orang Aceh. Saya santai saja. Yang pasti saya orang Indonesia
Hahaha

Yap kak bener sekali. Apalagi sampai menstereotipkan budaya. Mending salimg bersatu, indahnya perbedaan~

Makin banyak pengetahuan dan pengalaman seseorang biasanya semakin bisa menghargai perbedaan...

Sepakat. Sering banget bertemu dengan orang-orang yang seperti ini. Semakin jauh 'kepak sayapnya', maka semakin bijak dia dalam memandang dan menghargai perbedaan.

Sesungguhnya perbedaan itu lah yang bikin sebuah bangsa menjadi berwarna. Kaya akan ragam adat dan budaya. Sayangnya, spt yg Teh Mariska katakan di atas, msh banyak pula yg rasis. Sedih jika berhadapan dg sikap-sikap yang masih seperti ini. :(

Salah satu aset kekayaan Indonesia adalah keberagaman dan kemajemukan yang luar biasa. Kita disatukan oleh Pansasilan yang sebentar lagi kita rayakan kesaktiannya..

Dulu 30 tahun lalu, Bang Rhoma pernah mendendangkan lagu ini, agar kita bersatu dalam kebhinekaan dan tidak Sarah..

Catatan yang menarik tentang keanekaragaman penduduk Indonesia.

Kita bersatu dan menyatu karena perbedaan sebenarnya adalah pemersatu sesuai dengan kata-kata Tuhan

Kamu diciptakan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.

Bhineka Tunggal Ika (Walaupun berbeda-berbeda tetapi satu juga).
Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Coin Marketplace

STEEM 0.05
TRX 0.29
JST 0.043
BTC 68415.31
ETH 1988.91
USDT 1.00
SBD 0.38