Independensi Media dalam Politik [3]

in #indonesia8 years ago

Namun elite, yang secara kuantitas tak sebanding dengan populasi rakyat, memiliki cara pandang lain soal ini. Betapa pun mereka mengaku sebagai representan publik. Di mata masyarakat, media seharusnya menjadi alat pemberdayaan publik.

Sebaliknya, bagi elite, media harus menjadi alat politis untuk membuat pengaruh serta pencapaian kepentingan-kepentingan lainnya.

silhouette-1632912_960_720.jpg

Elite memiliki dua karakter. Pertama, elite memiliki karakter plural. Maksudnya, elite memiliki latar belakang atau faktor pembentuk status yang tidak seragam. Kedua, karakter nonplural.

Karakter plural bermakna bahwa elite terdiri dari beberapa golongan. Sementara karakter nonplural adalah sifat-sifat yang sama-sama dimiliki oleh elite yang golongannya bermacam-macam itu.

Dalam ilmu politik, dikenal tiga golongan elite. Pertama, golongan elite tradisional. Elite dari golongan ini memperoleh status berdasarkan adat istiadat, warisan (sebagai pewaris takhta dan materi dalam kekuasaan), atau budaya lama (budaya yang menempatkan pendahulu [orangtua] si elite sebagai elite tradisional).

Kuasanya berdasarkan tradsisi, famili, dan agama. Elite tradisional kemudian dibagi ke dalam sejumlah golongan lain. Ada pemimpin agama, golongan bangsawan, tuan tanah, dan orang-orang dari kawasan yang telah diberi hak istimewa oleh pemerintah kolonial.

Seorang anggota elite dapat menganggotai beberapa kategori tersebut, misalnya seorang anak raja mungkin juga adalah seorang pemimpin agama ataupun seorang pemimpin agama juga dapat menjadi seorang tuan tanah yang memiliki beberapa kepentingan tertentu.

Kedua, elite baru. Golongan elite baru banyak dijumpai di negara-negara yang baru merdeka. Mereka biasanya adalah pejuang nasional yang relatif muda, memiliki hubungan dengan ibu kota, pemikiran atau pengetahuan yang lebih tinggi, dan membawa tuntutan pembaharuan sosial dan ekonomi.

Elite baru sudah mengenyam pendidikan modern. Di samping itu, mereka sangat menjunjung tinggi paham perkauman. Ketiga, elite ekonomi asing. Elite ini biasanya adalah para kreditur, bankit, pemilik pabrik, saudagar, hotel, golongan iktisas.

Mereka berkebangsaan asing, tapi mendapatkan otoritas ekonomi politiknya di negara lain berkat sikap kooperatif dengan otoritas politik. Di Indonesia, dahulu mereka masuk karena berhasil meyakinkan pihak kolonial dapat memberi keuntungan pula, di samping keuntungan memeras pribumi oleh tangan sendiri.

Apa yang tidak plural dari mereka semua yang berbeda-beda itu adalah keinginan yang cukup kuat, dan selalu ada, adalah memiliki pengaruh, baik yang dapat membawa keuntungan bagi dirinya sendiri maupun kelompok tempatnya berafiliasi. Ada banyak sarana atau alat untuk membangun, mengembangkan, atau mengoperasikan pengaruh. Namun dalam kehidupan politik modern, media massa adalah alat paling kuat untuk tujuan tersebut.

BACA JUGA

Fred. R. Von der mehden. 1987. Politik Negara-negara Berkembang. Jakarta: PT Melton Putra. Hlm. 111.

Sort:  

Adat bak ureng Mbong ,Hukom bak ureung teuga ,qanun keu piyasan , reusam keu mita beulanja ( adat sama orang sombong , hukum sama orang kuat , qanun untuk dimainkan , reusam untuk cari belanja ) benar begitu bg dimas

bisa jadi meunan