Hobi, Keluarga dan Cinta (Bilingual)
Hai stemian,
Banyak orang mengatakan, segala sesuatu itu akan terasa indah bila melibatkan cinta di dalamnya, bekerja karena cinta, waktu yang dihabiskan bersama keluarga bukti cinta dan juga hobi adalah cinta.
Terasa melankolis memang bila cinta menjadi topik tulisan untuk stemian, namun perannya begitu kuat dan menjadi pengikat antara hobi dan keluarga, siapapun bila disodorkan opsi antara hobbi dan keluarga pasti memilih keluarga sebagai prioritas utama.
Bika kita liat secara sederhana, hobi bisa menjadi profesi dan menguntungkan secara bisnis, namun waktu untuk keluarga bukanlah sesederhana itu untuk kita lepaskan. Hobi versus keluarga selalu menghasilkan konflik batin, menimbulkan pertentangan dan cinta hadir dengan uniknya sebagai penengah sekaligus pembanding walau terkadang dipersalahkan atau dipertanyakan kehadirannya.
Mari sejenak kita mengkaji cinta dalam perspektif hobi, menulis, olahraga dan jenis hobi lainnya akan merupakan sebuah kebutuhan akan aktualitas diri, hadir sebagai bentuk kamuflase ego dari pribadi yang butuh ruang privat.
Sederhana saja, kita rela berkorban demi hobi dan mengorban waktu untuk keluarga demi lelah yang tak terbayarkan dengan materi karena sebuah anggapan sebatas pembenaran bahwasanya pencapaian bagi kita sudah cukup memenuhi kepuasaan bathin.
Manusia akan jelas memilah dan tegas menyatakan hobbi harus di salurkan agar hidup tidak menjadi statis, dan keluarga tetap berada dalam posisi kebutuhan utama
Saat cinta pada hobbi dipersalahkan, dia akan beralibi dan mengutarakan alasan alasan logis dari penyederhanaan kebutuhan akan sosialisasi dan juga update informasi. Hobbi merupakan upaya pembuktian bahwa manusia itu untuk hidup karena secara punya potensi daya cipta, karya dan karsa.
Klise memang, waktu keluarga sering kali terabaikan hobbi, karena mengisi waktu berkualitas bersama dengan orang orang dekat yang kita sayangi merupakan sebuah kesempatan yang jarang kita dapat. waktu selalu lebih cepat dari kemampuan kita dalam memenuhi kebutuhan hidup. Biarpun keluarga berada di prioritas tertinggi untuk kebutuhan namun sering kali kita selalu punya agenda lain dan penundaan untuk keluarga menjadi sebuah kebiasan buruk.
Kembali lagi, saat pemenuhan itu terasa berkurang karena kesibukan dan rutinitas kita maka cinta kembali hadir untuk di pertanyakan.
Ketika cinta pada keluarga dipertanyakan, maka jawabannya adalah cinta bisa berwujud dengan cara berbeda dan waktu hanya sebuah runtutan peristiwa yang bisa di setting dan di rencanakan lebih bijak sehingga masih banyak waktu dan kesempatan untuk melakukan hal hal yang sederhana namun bermakna.
Waktu yang kita habiskan bersama hobi hanya kamuflase dari bentuk lahirian kita akan dihargai dan diakui kapasitas diri sedangkan waktu berkualitas bersama keluarga adalah internalisasi bentuk kebutuhan kejiwaan kita akan kasih sayang dan perhatian.
Hobi, keluarga dan cinta bukanlah perbedaan sudut pandang dan penempatan, mari merenungi kembali lebih besar mana ketenangan hati yang kita dapatkan saat bersama keluarga atau menyalurkan hobi ?, karena hidup dengan cinta bukanlah sebatas negosiasi waktu antara hobi dan keluarga.
English
Hobbies, Family and Love
Many people say, everything will be beautiful when it involves love in it, work out of love, time spent with family proof of love and also hobby is love.
It feels melancholy when love becomes a writing topic for the stemian, but its role is so strong and a binder between hobbies and family, whether offered a choice between hobbi and family must choose the family as the main reward.
If we look simple, hobby can be a profession and a business, but the time for the family is not that simple for us to let go. Hobbies versus family always produce inner conflicts, causing opposition and love to be present uniquely as mediators as well as comparators despite being blamed or questioned.
Let's take a moment to examine love in the perspective of hobby, hobby writing, sports and other types of hobbies will be a form of self-actuality, present as a form of camouflage ego of private who need private space.
simple, we are willing to sacrifice for the hobby and sacrifice the time for the family for the sake of tired who did not pay for the material because a presumption is limited to the justification that the achievement for us is sufficient to satisfy the inner satisfaction.
Humans will clearly sort and declare hobbi must be channeled to live not become static, and the family remains in an important position
When love for hobbi is blamed, he will cultivate and express the logical reasons of simplifying the need for socialization as well as update information. Hobbies is an effort to prove that humans to live because of the potential of creativity, works and intention.
Cliches indeed, family time is often overlooked hobbi, because filling quality time together with people close to our loved one is a rare opportunity we can. time is always faster than our ability to suply the needs of life. Even if the family is at the highest priority for the need but often we always have other agendas and the delay for the family becomes a bad habit.
Back again, when the fulfillment was noticeably reduced because of our busyness and routine then love comes back to be in question.
When love in the family is questioned, then the answer is love can be manifested in different ways and time is just a collapse that can be in the setting and in the plan more wisely so there is still plenty of time and opportunity to do things simple yet meaningful.
The time we spend with hobbies only camouflage from our form of being alone will be appreciated and acknowledged self-capacity while quality time with family is the internalization of form our psychological needs forf affection and attention.
The hobby, family and love is not a difference of point of view and placement, let's contemplate the greater the peace of mind that we get with family or hobby, because living with love is not merely a time negotiation between hobbies and family.


Setiap orang pasti memiliki hobi. Sayangnya hobi seseorang itu bisa mengalahkan urusan lainnya, termasuk keluarga. Padahal hakikatnya, apa yang kita lakukan seharusnya demi keluarga, bukan demi hobi. Namun, faktanya justru berkata lain. Hal itu tidak terjadi. Justru hobi yang menjadi utama, bukan sebaliknya.
Kita sebaiknya memang harus intropeksi diri dan mau bertanya kepada diri sendiri. Apa sih tujuan kita hidup di dunia ini. Apa tujuan kita menjalin rumah tangga? Apakah itu hanya formalitas semata? Atau demi memenuhi ego kita yang ingin diperhatikan dan menjadi prioritas utama?
Tulisan sahabatku @maspribumi sangat inspiratif. Terima kasih sudah berbagi.
Salam pena kreatif dari Kota Kembang - Bandung
Sama sama sahabat @jharyadi, kita memang harus banyak mengulang kaji. :-)
Setuju pak
This post has been ranked within the top 80 most undervalued posts in the first half of Nov 21. We estimate that this post is undervalued by $7.10 as compared to a scenario in which every voter had an equal say.
See the full rankings and details in The Daily Tribune: Nov 21 - Part I. You can also read about some of our methodology, data analysis and technical details in our initial post.
If you are the author and would prefer not to receive these comments, simply reply "Stop" to this comment.