Ratapan Dikala Hujan

in #indonesia8 years ago


HUJAN kembali Allah curahkan di Bumi Serambi Mekkah. Pertanda rahmat kembali mengalir di Bumi Iskandar Muda. Bubei yang lama tersimpan kembali memainkan perannya di Lueng-Lueng persawahan. Anak-anak seusia SMP dan SMA menikmati keceriaan dalam suasana penuh kesejukan.

Ikan air tawar menjadi pasangan di saat menyantap nasi di meja makan ditambah dengan gorengan daun melinjo yang aduh hai. Tentu secuil garam, turut menemani indahnya sarapan dikala itu. Curahan hujan yang Allah turunkan betul-betul terasa dengan penuh kenikmatan.



Sumber

Kala itu, tempat-tempat yang didirikan bangunan cakar langit sekarang. Masih berbentuk rawa-rawa yang dihuni berbagai jenis ikan tawar. Tempat yang sekarang kalian jadikan sebagai pusat perbelanjaan. Masih bisa menampung derasnya aliran air hujan.

Mereka tidak berlomba-lomba untuk menimbun perkarangan rumahnya. Mereka lebih tertarik untuk menentukan jadwal pasti seminggu sekali untuk membersihkan selokan-selokan yang ada di samping rumahnya. Kebersamaannya sangat terasa, baik dikala duka maupun suka.



Sumber

“Itu dulu”, kata mereka. Sekarang di era yang penuh dengan kepalsuan dan tipu daya. Susah untuk dibedakan antara rahmat dan bencana. Hujan yang seharusnya menjadi rahmat dan tempat bersuka cita bagi anak-anak. Malah menjadi kemudaratan dan kegelisahan bagi orang tua.

Belum selesai angkat-mengangkat perabotan rumah tangga. Terpaksa mereka lari untuk memastikan anaknya tidak terbawa derasnya arus air hujan dan sungai. Lagi-lagi di zaman yang penuh dengan tipu daya, susah untuk membedakan antara rahmat dan bencana.



Sumber

Hidup di zaman yang penuh dengan kepalsuan ini. Salah dan menyalahkan itu hal biasa. Bahkan menjadi sarapan pagi bagi sebagian besar umat manusia. Sumbat selokan di pinggiran rumah bukan mengambil cangkul untuk membersihkannya. Malah asyik mencari tumbal dan kambing hitam untuk disalahkannya.

Biasanya pemerintah menjadi tumbal dan luapan kekesalannya. Sebegitu pasrahnya manusia yang hidup di zaman penuh dengan kepalsuan. Solusi di depan mata, namun tetap mencari celah untuk saling menyalahkan antar manusia.


Ratapan Dikala Hujan

Sort:  

thanx. bagus sekali untuk bahan renungan

makasih . . .

Hidup di zamanpenuh kepalsuan butuh pemahaman yang kuat agar tidak sampai kita dipalsukan alias dimanfaatkan untuk kepentingan orang-orang yang berhati busuk. Saling menyalahkan dan mencari kambing hitam hal yang biasa. Itulah jalan iblis memperdaya umat manusia. Mari kita jaga hati jangan sampai kita kotori begitu kata Ust.Aagim. terimakasih sudah berbagi, salam sukses sahabat @munawir91.

Ok Bang, makasih juga telah mau singgah di postingan ini . . .
salam sukses untuk kita semua . . .