Selamatkan Rumahnya
KEBERLANGSUNGAN hidup satwa liar tidak bisa dipisahkan dengan kelestarian lingkungan (darat dan laut). Kalau manusia membutuhkan rumah yang super mewah dan lengkap dengan perabotan didalamnya, maka hewan yang hidup di hutan belantara hanya membutuhkan hutan yang lebat dengan tingkat tutapan vegetasi yang sempurna. Kesadaran menjaga satwa, memberikan dampak konsekuensi logis akan kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan. Melestarikan salah-satu diantaranya, tanpa menjaga secara utuh akan keberlangsungan hidup keduanya. Sama juga dengan membiarkan kehancuran ekosistem yang ada.
Tanpa hewan, proses serbuk sari dan peningkatan plasma nutfah untuk mempertahankan keanekaragaman hayati tidak akan berjalan secara alami. Dalam proses metarantai kehidupan, tumbuh-tumbuhan merupakan kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan dengan satwa-satwa yang ada. Siklus tersebut berputar secara terus-menerus sesuai dengan hukum sunnatullah (hukum alam) sampai dengan alam ini ditiadakan oleh yang Maha Kuasa. Jadi tidak ada alasan bagi setiap manusia untuk membenarkan bahwa "hanya cinta kepada hewan, namun kehancuran lingkungan dibiarkannya".
Kerakusan manusia dalam memanfaatkan Sumber Daya Alam merupakan bagian dari investasi untuk mempercepat kehancuran di permukaan bumi, temasuk satwa didalamnya.
Bagi pemburu satwa, seakan-seakan suatu kebanggaan dengan berhasil mencabut nyawa sang penghuni hutan belantara. Mereka tidak sadar, tingkah dan perbuatannya sedang berinvestasi untuk mempercepat proses kehancuran ekosistem yang ada. Berapa banyak Gajah, Harimau, Trenggiling, Badak, Orang Hutan dan satwa- satwa lainnya yang mati setiap tahunnya akibat diburu habis-habisan oleh manusia. Begitu juga di laut, paus biru dan penyu hampir punah dari peradaban akibat illegal fishing secara besar-besaran. Tidak sedikit tumbukarang hancur akibat penggunaan alat penangkapan yang illegal. Belum lagi persoalan reklamasi yang sedang dikerjakan di Ibu Kota Negara.
Khusus Reklamasi. Proyek raksasa tersebut akan berdampak tidak baik terhadap lingkungan. Pertumbuhan ekonomi nelayan tradisional akan semakin berkurang, bila proyek reklamasi ini tetap akan dijalankan. Begitu juga dengan persoalan banjir, proyek reklamasi akan mengurangi luas daerah tampungan air dan akan memperbesar daerah aliran di daratan. Dengan berkurangnya daerah tampungan air, maka air akan meluap ke daratan yang akan berakibat banjir. Bahkan berdasarkan penelitian Nicco Plamonia dan Profesor Arwin Sabar, Jakarta Utara menghadapai penurunan muka tanah sejak tahun 1985 s.d 2010.
Kembali ke persoalan satwa dan dunianya. Pada prinsipnya, satwa juga merupakan bagian dari kesatuan mahluk hidup yang harus terpenuhi akan hak hidupnya. Dan harus bebas dari berbagai kemungkinan ancaman dan gangguan yang akan terjadi. Baik satwa itu yang berada di darat maupun satwa yang berada di laut dan udara. Kepastian hak untuk hidup dan bebas dari berbagai kemungkinan ancaman gangguan terhadap satwa tersebut di jamin oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Ternyata “Hewan, Tumbuhan dan Manusia hidup di Planet yang sama”. Maka tugas manusia selaku Khalifah Fil Ardh, hanya menjaga keseimbangannya.






Wah,, sangat responsif dan terarah pak @munawir91 kalah lagi kami kali ini..hehehehe
Hahaha, teurimeng geunaseh @taministy. Yang bek ulok . . .
😂
karya yang sangat bagus @munawir91,,
Makasih @chairoeltks . . .
Setuju @munawir91 saya dukung mari.kita jaga satwa untuk kitawariskan kepada anak cucu kita. Salam sukses
Makasih Bang @ilyasismail, semoga kita semua sadar akan penting menjaga satwa dan lingkungannya. Salam sukses juga Bang . . .
good post brother @munawir91 KEBERLANGSUNGAN hidup satwa liar tidak bisa dipisahkan dengan kelestarian lingkungan (darat dan laut). Kalau manusia membutuhkan rumah yang super mewah dan lengkap dengan perabotan didalamnya, maka hewan yang hidup di hutan belantara hanya membutuhkan hutan yang lebat dengan tingkat tutapan vegetasi yang sempurna. Artikel yang sangat responsif melestarikan satwa tanpa harus membunuhnya
Makasih @mirzafirdaus