SANG PEMIMPI (1)
Debu halus mengambang di udara Gunung Lagan, partikel-partikel matahari sore menari di antara pepohonan yang meranggas. Gubuk-gubuk reyot berjajar di sepanjang jalan tanah, atap daun nipah melengkung di bawah beban waktu. Anak-anak kurus bermain dengan ban bekas, tawa mereka pecah namun cepat pudar ditelan keheningan hutan. Di tengah pemandangan itu, Abak berdiri tegak, tangannya menunjuk ke arah sebidang tanah lapang, di mana ilalang tumbuh setinggi pinggang.
“Di sini,” suara Abak memecah keheningan, “akan berdiri sekolah.”
Seorang lelaki tua dengan jenggot memutih, Pak Onjong, meludah ke samping. Matanya menyipit, menatap Abak seolah melihat hantu.
“Sekolah, Abak? Untuk apa? Anak-anak di sini, mereka tahu cara mencari ikan, memanjat kelapa. Itu cukup.”
Abak tersenyum, senyum yang jarang dipahami orang-orang. “Cukup untuk hari ini, Pak Onjong. Tidak cukup untuk besok.”
“Besok? Besok sama saja dengan hari ini,” perempuan gemuk di samping Pak Onjong, Bu Darmi, menimpali, suaranya mengandung nada ejekan. “Perut kenyang, atap tidak bocor. Apa lagi yang kau mau?”
“Dunia di luar sana bergerak,” Abak membalas, pandangannya menyapu wajah-wajah yang mengerutkan kening. “Anak-anak ini, mereka layak tahu lebih dari sekadar hutan dan sungai ini.”
“Omong kosong!” suara lain menyeruak dari kerumunan kecil yang mulai terbentuk. “Kau ini suka mengkhayal. Lihatlah kita. Makan saja susah. Lalu kau bicara tentang sekolah?”
Abak tidak gentar. Dia mengeluarkan gulungan kertas dari tas kainnya, membukanya perlahan. Gambar-gambar sederhana, sketsa bangunan dengan jendela-jendela besar.
“Kita akan mulai dengan satu ruang kelas. Kayu dari hutan ini, batu dari sungai. Kita bangun sendiri.”
Tawa pecah, renyah dan menusuk. Beberapa orang menggelengkan kepala, yang lain berbalik pergi.
“Kau terlalu banyak melamun, Abak,” Pak Karta menghela napas, gesturnya menunjukkan kekecewaan. “Lihatlah dirimu. Penjual bbm eceran, tapi mau membangun istana pasir.”
