SANG PEMIMPI (2)

in #komunitas20 hours ago (edited)

IMG_20220418_090240.jpg

Abak hanya menatap tanah lapang itu, seolah bangunan yang dia impikan sudah berdiri kokoh di sana. Dia tahu, keyakinan bukanlah sesuatu yang bisa ditularkan dengan kata-kata saja. Keyakinan harus tumbuh dari bukti.
Beberapa hari kemudian, Abak mulai bekerja. Bersama orang-orang yang mau percaya padanya, Supar, Juned, Sunarno dan beberapa orang lainnya memanggul kapak, menebang pohon-pohon kecil, membersihkan semak belukar. Keringat membasahi bajunya, otot-ototnya menegang. Warga desa hanya melewati, sesekali melemparkan pandangan aneh, atau bisikan-bisikan yang jelas terdengar: “Orang menghayal.”
“ kau tidak lelah?” seorang anak laki-laki kecil, mendekat, membawa sebotol air. Matanya yang besar memancarkan rasa ingin tahu.
Abak tersenyum, menerima botol itu. “Lelah itu bagian dari perjuangan. Kalau tidak lelah, berarti kau tidak sungguh-sungguh berjuang.”
Anak itu duduk di dekatnya, mengamati Abak yang kembali membelah kayu. “Untuk apa sekolah itu?”
“Untukmu,” Abak menjawab tanpa menoleh. “Untukmu dan teman-temanmu. Agar kalian bisa melihat dunia yang lebih luas.”
“Dunia yang lebih luas?” bocah itu mengulang, seolah mengecap kata-kata itu.
Abak mengangguk. “Ya. Dunia di mana kau bisa menjadi apa saja yang kau inginkan. Bukan hanya apa yang ditakdirkan oleh desa ini.”
Beberapa minggu berlalu. Tumpukan kayu mulai terbentuk. Pondasi batu mulai terlihat. Kehadiran Abak yang tak kenal lelah, meskipun tanpa bantuan, perlahan mengikis tembok skeptisisme. Si bocah mulai membawa teman-temannya untuk melihat. Lalu, satu-dua orang dewasa yang penasaran mulai ikut membantu, awalnya hanya sekadar mengangkat kayu ringan, lalu semakin berani memanggul beban.
“Kau sungguh-sungguh, Abak,” Pak Karta muncul suatu sore, memandang pondasi yang kini mulai berbentuk. “Aku tidak pernah melihat orang sekeras kepala ini.”
“Keras kepala atau gigih, Pak Karta?” Abak menatapnya.
Pak Karta tertawa kecil. “Mungkin keduanya. Tapi, apa gunanya sekolah jika tidak ada guru?”
“Aku gurunya,” Abak menjawab. “Dan kau tahu, Pak Karta, ilmu itu seperti api. Jika kau menyalakannya, ia akan menyebar.”
Waktu berlalu seperti air sungai yang mengalir tak henti. Sekolah itu akhirnya berdiri, sederhana namun kokoh, berdinding kayu dengan atap seng bekas yang dikumpulkan dari berbagai tempat. Jendela-jendela tanpa kaca, membiarkan angin sepoi-sepoi masuk, membawa aroma hutan. Abak mulai dengan sekolah taman kanak-kanak, yang mengajar bu Rodliyah dan Masriyah. Dibawah tatapan penasaran dan kemudian antusias anak-anak,mereka belajar mengaji, menggambar, bernyanyi. Kata-kata baru, ide-ide baru, mulai mengisi kepala mereka.
Tahun-tahun bergulir. Anak-anak yang dulu bermain ban bekas kini tumbuh. Beberapa dari mereka melanjutkan pendidikan ke kota, membawa kembali cerita dan pengetahuan. Desa Gunung Lagan tidak lagi sunyi. Jalanan tanah berubah menjadi jalan beraspal. Listrik menyala di malam hari, mengubah kegelapan menjadi benderang.

Coin Marketplace

STEEM 0.06
TRX 0.29
JST 0.053
BTC 70430.22
ETH 2071.21
USDT 1.00
SBD 0.53