Krisis Komunikasi Internal Tokoh Ale dalam Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Kemarin baru saja menyelesaikan membaca novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Aku sebenarnya membeli novel ini karena iseng saja di Gramedia. Bukan karena masuk buku yang direkomendasi, bukan juga terpengaruh dengan oleh spoiler-spoiler di media sosial. Tetapi dikarenakan ingin mendapatkan cerita yang ringan saja. Bukunya habis selama seminggu aku baca karena kesibukan yang tak kunjung selesai di kantor.
Saat membaca kalimat demi kalimat yang ditulis oleh Brian Khrisna membuat aku tertawa terbahak-bahak, padahal tidak ada yang lucu juga tetapi penggambaran tokoh Ale yang begitu hidup yang diceritakan. Perjalanannya untuk bunuh diri terkesan sangat sulit, hehehe karena harus dipenuhi syarat untuk makan mie ayam yang biasa menjadi langganannya sebelum berangkat ke kantor.
Tokoh Ale digambarkan dengan sosok yang pendiam, bertubuh besar, bau menyengat, hitam, dan semua hal yang dikerjakan olehnya kebanyakan gagal. Saat Ale ke kantor tidak ada teman-teman yang benar-benar dekat dengannya, bahkan ketika ia sudah mengganggap ada teman yang dekat malah dikhianati, benar-benar sial. Rutinitas yang dilakukan Ale termasuk membosankan dengan rute rumah-kantor.
Di usia 37 tahun ia belum merasa benar-benar hidup, padahal ia sudah bekerja, hidup di kota besar, bertemu dengan banyak orang dan mendapatkan penghasilan tetap. Lingkungannya tidak mendukung, seperti ibunya Ale, tidak pernah menelpon ia bahkan setelah tiga minggu ia meninggalkan apartemen, tampak ibunya tidak menghubunginya ketika Ale memeriksa gawai. Ale juga punya trauma masa lalu, ia bahkan sering di bully oleh teman-temannya, dikatakan babon.
Kita coba urai cerita Ale dalam konteks komunikasi. Dalam ilmu komunikasi, kita mengenal komunikasi intrapersonal yaitu komunikasi yang berlangsung dengan dirinya. Pakar Ilmu Komunikasi, Deddy Mulyana menyebutnya komunikasi intrapersonal itu dapat berupa membaca buku, kontemplasi, dan berdoa. Ketika seseorang melakukan hal-hal tersebut artinya ia telah mengajak dirinya untuk berbicara, mendiskusikan masalah dengan dirinya sebelum meminta pendapat orang lain, sebelum bertindak atau sebelum mengambil keputusan. Semakin baik input pengetahuan dan dialog yang dilakukan maka akan semakin matang pemikiran dan konsep dirinya. Atau dengan istilah lain, dialog dengan diri sama dengan konsep mengenal diri.
Ale adalah tokoh yang digambarkan tidak memiliki sikap penerimaan diri dan kondisi yang sedang terjadi sehingga ia sering merasa diam ketika teman-temannya mengejek dan merundungnya. Padahal salah satu sikap yang harus ada pada Ale adalah "penerimaan diri". Penerimaan diri ini baru dapat beroperasi setelah melalui proses dialog dalam diri, ia tidak terjadi secara instan tetapi membutuhkan latihan, latihan, dan latihan. Krisis dalam dirinya muncul ketika teman-teman merundungnya, tidak dihubungi oleh keluarganya, tidak tahu arah pulang dan ia merasa sendiri tidak berguna, tidak tahu tujuan hidup dan ia merasa hidupnya hampa, dan bahkan ia mengunjungi pskiater untuk penyakit depresinya.
Memang mungkin betul bahwa lingkungan yang toxic membuat kita menjadi depresi tetapi memilih untuk melawan toxic atau dapat juga meninggalkan lingkungan toxic itu adalah sebuah pembebasan. Jika Ale memiliki karakter yang kuat dalam dirinya, konsep diri yang kuat untuk bertahan maka ia tidak akan berpikir untuk bunuh diri. Ia dapat bertemu dan menjalankan komunikasi saat ia sarapan pagi di gerobak Mie Ayam untuk mendapatkan insight-insight lain dari teman-teman yang juga sedang makan dan berangkat kerja. Ia juga dapat membahas bagaimana kondisi hidup di negara Indonesia yang semakin sulit, atau bahkan ia dapat membentu aktivitas pekerjaan Kang Mie Ayam itu jika ia mau, bukan malah mengikuti dirinya yang sakit tapi harusnya hari-harinya dia lalui dengan lingkungan yang lebih manusiawi bukan seperti yang digambarkan dalam novel.
Novel ini memang ditulis berdasarkan kasus-kasus depresi yang terjadi yang membuat banyak korban yang berjatuhan, akhirnya harus ke psikater. Hanya karena dibilang "Kamu kok gemuk banget?" , "Ihh.. bau", "Mirip babon", "Badan kek lo, kalo naik motor gua, meledak bannya", dan kekerasan verbal lainnya sering dialami oleh kebanyakan orang. Tapi itulah kata-kata, komunikasi, ia mampu menghadirkan motivasi bagi orang bahkan ia mampu membuat orang terluka hingga depresi. Jika kalian mendengar hal-hal semacam itu dan ditujukan kepada kalian, santai saja, toh ia bukan orang yang berpengaruh dalam hidupmu. Hidupmu kamu yang tentukan, kamu yang pegang kendali, tak perlu jatuh dan terluka dengan perkataan orang lain, cukup terima apa yang dikatakan, olah dalam pikiranmu bahwa kamu tidak seperti yang dia katakan, berdoa (sambungkan kata-kata yang menyakitkan itu dengan Allah), minta Allah perbaiki, lalu nangislah sejadi-jadinya pada Rabbmu, lalu jika kamu belum lega, temukan temanmu yang mendukungmu dan ceritakan padanya. Jika kamu tak punya teman dekat, ambil pulpen dan kertas lalu tulis semua sedihmu, kondisimu, dan tetap berbaik sangka. Insya allah komunikasi interpersonal dalam dirimu sudah mulai menguat dan mampu meredakan krisis yang mendera.
Maka, dalam Komunikasi Islam, kita mengenal dekat dengan komunikasi intrapersonal melalui doa. Doa dapat dilakukan di mana saja, kapan saja tanpa batas waktu. Berdoa dapat dikatakan kekuatan spiritual yang hanya dimiliki oleh umat Islam dan kita patut bangga dengan itu. Konsepnya adalah doa itu akan dikabulkan, digantikan dan ditunda untuk diberikan di akhirat. Dengan berdoa, kita sudah menapaki komunikasi intrapersonal tahap awal yang paling dasar, artinya kita mayakini Allah sebagai kekuatan kita dan kita butuh padaNya, sehingga apapun yang akan kita hadapi dan lakukan akan bermuara pada Allah. Sehingga ketika memahami konsep ini, kita akan lebih mudah menerima diri dalam kondisi apapun. Seperti kenyataan yang kita tahu bahwa Tsunami telah merenggut ratusan ribu nyawa masyarakat Aceh pada tahun 2004 tapi tidak ada satupun terdengar kabar bahwa masyarakat Aceh bunuh diri. Hal ini bertentangan dengan Jepang, di mana kita tahu bahwa setelah Tsunami banyak dari masyarakatnya yang melakukan bunuh diri.
Selain itu, kita mengenal silaturrahmi untuk mempererat tali persaudaraan, disitu akan terbangun hubungan saling sayang dan menyayangi bukan memusuhi atau bahkan merundung. Dengan bertemu orang-orang baik akhirnya kita mendapatkan masukan-masukan yang menjadi moodbooster kita dalam menjalani kehidupan sehingga karakter kita menjadi kuat dan empati dalam mengarungi kehidupan ini. Di akhir cerita digambarkan bahwa Ale bertemu dengan berbagai jenis orang yang berbeda karakter dan menjadikan ia mampu mengambil pelajaran hidup. Bagi pejuang depresi, pesan saya adalah lakukanlah komunikasi dengan diri terlebih dahulu, lalu carilah kawan yang mampu mendengarkan ceritamu, lalu hiduplah, jangan berpikir bunuh diri sebab mati lebih sulit dibandingkan hidup.
