Eid Mubarak and Consumtivism | Idul Fitri dan Konsumtivisme |
Eid and Consumtivism
By @ayijufridar
A WEEK before Eid 1438 Hijriah which falls on Sunday, June 25, 2017, the atmosphere in the mosque looks deserted. In the first week of tarawih, the number of pilgrims is booming so that in some mosques must use the courtyard as a place of prayer. But a week before Idul Fitri, the number of pilgrims tarawih shrink. Yet as is often said ustaz; The first 10 nights are the allowance, the 10th night of the second quarter-final, and the last 10 nights are the final or itqumminannar. Only people whose quality of faith is able to survive until the last night. And the number is not much because it had fallen in the preliminary round.
The closer to Eid ul-Fitr, the more we are preoccupied with worldly activities such as buying new clothes, making or buying cakes, changing house paint, sculpture, home furnishings, and the like. We are busy dressed ourselves and home to welcome Eid, though that is not wrong either. However, when all that defeats the worship of worship, even sometimes the worship did not have time, the essence of Ramadan is reduced.
So no wonder if ahead of Idul Fitri, shopping centers crowded. The condition is also encouraged by the provision of large discounts ahead of Eid al-Fitr. Not only people celebrating Eid that utilize it, all the community groups are also busy lining up in the shopping center. A famous brand in Grand Indonesia Jakarta-for example-provides attractive discounts for all types of clothing. If you usually buy two can be free one, buy two free three.
That's the usual sight that is seen every time Ramadan. The ads around us have encouraged people to live consumptive lives. The table when breaking the fast is full of different kinds of food, but the stomach is only able to accommodate a little. When forced to chew it all, instead of healthy during Ramadan, but even sick. The eyes are sometimes more hungry than the stomach.
Consumptive behavior for some people is also driven by the increasing amount of income ahead of Idul Fitri because there is a Tunjangan Hari Raya or THR (acronym in bahasa) allowance. Excess revenue that should be saved, but instead used to support consumptive behavior. In a financial event on a private television, a money manager suggests, THR money should not be spent all. Should be divided by a proportional slice for alms, investments, and to meet the needs of the holiday. It should be remembered after Lebaran passed not to accumulate debt. If we can, we have to have the remaining THR to save.
In my opinion, there is no harm in using the principle of Warran Buffett in managing THR; Do not save after what is left spending, instead spend after you save / invest. Do not save and alms from the rest after you shop. But just use THR for alms and investments, then just shop for various needs Eid.
Many complain, let alone for alms and investments, to meet the needs are not enough. Is that right? Actually no. We are aware of the difference between need and desire. The need is limited, but the desire is not. However, knowing the difference between the two does not guarantee we can control the desire in shopping. The world is spinning in a stream of consumptivism and we are stuck in it so that it is often a big peg rather than a pole.
It was difficult at first to control desire. But if it is normal, will be a simple behavior as exemplified by the Prophet Muhammad Rasulullah Salallahualaihiwassalam. There must be a desire that can be suppressed or delayed. The essence of Ramadan is simplicity, not a luxury that can trap us away from gratitude.
Welcome to Eid Mubarak 1438 Hijriah for the Steemians who celebrate it all over the world. I apologize for the innermost birth of my sins-perhaps there's a word-well in the past, now, or in the future. Happy celebrating the winning day. Hopefully we can metamorphose from the caterpillar during Ramadan into a butterfly during Eid al-Fitr. And may the charity during Ramadan give a good influence to our next life so that we really become the chosen human being. Amen. []
Idul Fitri dan Konsumtivisme
Oleh @ayijufridar
SEMINGGU sebelum hari raya Idul Fiitri 1438 Hijriah yang jatuh pada Minggu 25 Juni 2017, suasana di masjid terlihat lengang. Pada pekan pertama tarawih, jumlah jamaah membludak sehingga ada di beberapa masjid harus menggunakan halaman sebagai tempat shalat. Tapi seminggu menjelang Idul Fitri, jumlah jamaah tarawih menyusut. Padahal seperti yang sering dikatakan ustaz; 10 malam pertama adalah penyisihan, 10 malam kedua semifinal, dan 10 malam terakhir adalah final atau itqumminannar. Hanya orang-orang yang kualitas imannya terjaga mampu bertahan sampai malam terakhir. Dan jumlahnya memang tidak banyak sebab sudah berguguran pada babak penyisihan.
Semakin dekat dengan Idul Fitri, semakin kita disibukkan kita dengan kegiatan duniawi seperti membeli baju baru, membuat atau membeli kue, mengganti cat rumah, gordin, perabotan rumah tangga, dan sejenisnya. Kita sibuk berdandan diri sendiri dan rumah untuk menyambut Idul Fitri, meski itu juga tidak salah. Namun, ketika semua itu mengalahkan kekhusyukan ibadah, bahkan terkadang ibadah pun tak sempat, esensi dari Ramadhan sudah berkurang.
Maka tak heran bila menjelang Idul Fitri, pusat perbelanjaan sesak. Kondisi itu juga didorong dengan pemberian potongan harga besar-besaran jelang Idul Fitri. Bukan hanya umat yang merayakan Idul Fitri yang memanfaatkannya, semua golongan masyarakat juga ramai-ramai antre di pusat perbelanjaan. Sebuah merek terkenal di Grand Indonesia Jakarta—misalnya—memberikan diskon menarik untuk semua jenis pakaian. Kalau biasanya beli dua dapat gratis satu, ini beli dua gratis tiga.
Itu pemandangan biasa yang terlihat saban Ramadhan. Iklan-iklan di sekitar kita telah mendorong masyarakat untuk hidup konsumtif. Meja makan saat berbuka puasa penuh dengan berbagai jenis makanan, tetapi perut hanya mampu menampung sedikit. Ketika memaksakan mengunyah semuanya, alih-alih sehat selama Ramadhan, tetapi malah sakit. Mata terkadang lebih lapar dibandingkan perut.
Perilaku konsumtif bagi sebagian orang juga didorong dengan jumlah pendapatan yang meningkat jelang Idul Fitri karena ada tunjangan haru raya atau THR. Kelebihan pendapatan yang seharusnya bisa disimpan, tetapi malah digunakan untuk menopang perilaku konsumtif. Dalam sebuah acara keuangan di televisi swasta, seorang pengelola uang menyarankan, uang THR sebaiknya tidak dihabiskan semuanya. Harus dibagi dengan irisan yang proporsianal untuk sedekah, investasi, dan untuk memenuhi kebutuhan hari raya. Harus diingat setelah lebaran berlalu jangan sampai menumpuk utang. Kalau bisa, kita harus memiliki sisa THR untuk ditabung.
Menurut saya, tidak ada salahnya menggunakan prinsip Warran Buffett dalam mengelola THR; Do not save after what is left spending, instead spend after you save/invest. Jangan menabung dan sedekah dari sisa setelah Anda berbelanja. Tetapi gunakan terlebih dari THR untuk sedekah dan investasi, setelah itu baru berbelanja untuk berbagai kebutuhan lebaran.
Banyak yang mengeluh, jangankan untuk sedekah dan investasi, untuk memenuhi kebutuhan saja tidak cukup. Benarkah demikian? Sebenarnya tidak. Kita sadar perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan itu terbatas, tapi keinginan tidak. Namun, tahu beda di antaranya kedua tidak menjamin kita bisa mengendalikan keinginan dalam berbelanja. Dunia ini berputar dalam arus konsumtivisme dan kita terjebak di dalamnya sehingga seringkali besar pasak daripada tiang.
Memang mulanya sulit mengendalikan keinginan. Tapi kalau sudah biasa, akan menjadi perilaku yang sederhana seperti dicontohkan Nabi Muhammad Rasulullah Salallahualaihiwassalam. Pasti ada keinginan yang bisa ditekan atau ditunda.
Esensi dari Ramadhan adalah kesederhanaan, bukan kemewahan yang bisa menjebak kita jauh dari rasa syukur.
Selamat menyambut Idul Fitr 1438 Hijriah bagi Steemians yang merayakannya di seluruh dunia. Mohon maaf lahir batin dosa-dosa saya—barangkali ada yang silap kata—baik di masa lalu, sekarang, maupun di masa mendatang. Selamat merayakan hari kemenangan. Semoga kita bisa bermetamorfosis dari ulat selama Ramadhan menjadi kupu-kupu saat Idul Fitri. Dan semoga amal selama Ramadhan memberi pengaruh baik bagi kehidupan kita selanjutnya sehingga kita benar-benar menjadi insan terpilih. Amin.[]

Lord accept from us and you fasting Ramadan. God willing, a happy Eid for you and for all the Islamic nation

Happy Eid Al-Fitr for alls Moslim in the world.
I Like You're Post @ayijufridar
Thanks a lot and Happt Eid Mubarak.